
Rere mematikan panggilan telepon itu dengan kesal, ia membuka aplikasi Instagram miliknya. “Posesif banget istrinya Rey, sampe kepoin Instagram gue,” gerutunya kesal. hal itu rupanya terdengar oleh seseorang dan membuat orang itu, yang tak lain adalah Devi yang tengah makan meliriknya dengan malas.
“Udah gue bilang dari awal Re, jangan berharap lagi sama Reyhan, lo itu cantik, cari aja yang lajang.” Rere mendengus mendengar jawaban Devi. Ia tidak mengerti dengan perasaan Rere yang sulit menerima seseorang kembali, seluruh hatinya sudah di miliki Reyhan, hanya Reyhan yang ia inginkan.
...🦋...
Cahaya matahari sudah terbit menyinari bumi, suara ceramah di pagi hari dari televisi menemani Aisyah yang tengah sibuk menata sarapan untuk dirinya dan Reyhan. Aisyah mencoba untuk sibuk dan menjauhkan pikiran negatif dari kepalanya, selesai sholat subuh, pikiran mengenai Rere dan Reyhan semakin membuatnya tidak tenang, jika Rere menjadi model produk di perusahaan Reyhan apakah keduanya akan saling bertemu setiap hari? Yang Aisyah takutkan hanya satu, ia takut cinta keduanya bersemi kembali. “Astagfirullah,” gumam Aisyah cepat. Jika saja ia hanya mengetahui berita bahwa keduanya pernah dekat satu sama lain ia tidak akan sekhawatir ini. Namun apa? Aisyah melihat Reyhan mencium pipi perempuan itu di foto, di lihat oleh banyak orang dan masih terpajang di dalam Instagram Rere.
“Aisyah, lihat kemeja biru yang Mas gantung di deket lemari?” pertanyaan Reyhan yang tiba-tiba membuat Aisiyah hampir melompat terkejut, Reyhan baru bangun tidur setelah sholat subuh tadi, wajahnya masih terlihat sangat mengantuk.
__ADS_1
Aisyah mengingat sebentar kemeja yang di maksud, lalu menganggukkan kepalanya lembut. “Aisyah udah simpen di atas mesin cuci Mas, apa ada barang penting? Biar Aisyah cariin Mas.”
“Ada kartu nama klien, Mas belum save nomornya, pagi ini harus janjian rapat di kantor dia,” ucap Reyhan yang terlihat sedikit kelimpungan, bagaikan orang yang tiba-tiba bangun karena mengingat hal penting.
Aisyah berjalan cepat menahan langkah Reyhan yang akan menuju tempat mencuci. “Mas minum dulu aja, biar Aisyah yang cari,” ucap Aisyah.
“Alhamdulillah ada Mas.”
“Alhamdulillah,” sahut Reyhan. Ia segera mengambilnya dan berlari kearah kamar, bisa-bisanya ia melupakan kartu nama yang sangat penting ini, Samuel, seorang pengusaha muda yang sukses di bidang pelayanan dan akan bekerja sama menggunakan produk Reyhan disetiap Hotel dan Restoran yang ia miliki.
__ADS_1
Reyhan mandi dan bersiap dengan cepat, menghubungi Samuel dan menyapanya sebagai basa-basi di pagi hari yang merambat menjadi jadwal pertemuan rapat pagi ini. “Baik pak, kalau begitu jam 9 saya dan sekertaris saya sudah sampai di sana,” ujar Reyhan sebagai penutup.
Reyhan menatap kembali pantulan bayangannya di cermin, setelah di rasa cukup ia keluar dari kamar. "Sarapan dulu Mas."
"Mas langsung pergi aja, ada beberapa hal yang harus di siapin sebelum rapat. Mas berangkat ya," ucap Reyhan tergesa
"Sarapan itu penting Mas. Bentar, Aisyah sediain aja bekal buat sarapan ya."
Reyhan tampak mengangguk cepat, ia tersenyum. "Boleh, kalau gitu Mas tunggu di mobil aja ya, sekalian panasin mobil dulu."
__ADS_1