
Setelah memasang semua foto ditempat yang mereka inginkan, keduanya membereskan kembali tas dan kardus bekas kedalam gudang. Reyhan memutuskan untuk memberikan dirinya terlebih dahulu sebelum membantu Aisyah memasak, dan Aisyah menyiapkan kaos polos untuk Reyhan.
Setelah Reyhan, Aisyah bergantian membersihkan dirinya, mengurai rambut indahnya karena dirumah ini hanya ada Reyhan. Tak terasa waktu sudah menunjukan pukul lima sore lebih. "Oh ya Aisyah, mulai besok ada Bi Nur disini, dari jam sembilan sampai jam lima sore."
"Maaf Mas, tapi kita kan baru berdua, aku sanggup buat bersih-bersih dan-" Reyhan menghentikan ucapan Aisyah dengan cepat dan berkata lembut.
"Buat temenin kamu dirumah, aku denger kamu lagi seneng belajar masak, Bi Nur orang nya pinter masak, kamu bisa banyak belajar dari Bi Nur." Setelah perdebatan kecil akhirnya Aisyah mengalah dan mengangguk. Mereka masuk kedalam dapur yang cukup besar dengan segala fasilitas yang lengkap menurut Aisyah.
"Lengkap juga ya Mas," komentar Aisyah pelan saat ia membuka kulkas, beberapa daging segar tersedia dengan sayur dan makanan kaleng.
"Besok siang, Aisyah boleh ke kantor anterin makan siang buat Mas?"
Reyhan mengangguk senang. "Boleh Aisyah, kamu bisa mobil?" Tanya Reyhan.
__ADS_1
"Alhamdulillah bisa Mas."
"Sekarang kita masak apa? Aku bantu apa?" Tanya Reyhan yang kini ikut mengintip isi kulkas.
"Mas mau ikan bakar?" Dengan semangat Reyhan menganguk. Aisyah mengeluarkan dua ikan yang berukuran sedang, mencucinya dan menaruh diatas wadah. Matanya menatap sekumpulan alat dapur yang dimasukan kedalam wadah khusus.
"Nah ada alatnya," pekik Aisyah. "Mas pake alat ini buat kupas sisik nya, Aisyah bikin bumbunya dulu ya."
"Mas pegang ini, terus alatnya ditarik kebelakang kayak gini." Aisyah memberi contoh dengan begitu detail, membuat Reyhan langsung paham dan mencobanya.
...🦋...
Keesokan harinya, Aisyah bertemu dengan Mbak Nur yang dibicarakan Reyhan kemarin. Orangnya begitu ramah dan asik diajak berbincang. Dari hasil perbincangan bisa diketahui jika Mbak Nur memiliki seorang anak perempuan yang masih sekolah, suaminya sudah meninggal dua tahun yang lalu. Aisyah juga baru mengetahui jika Mbak Nur sudah lama bekerja menjadi ART dirumah Reyhan, hanya saja semenjak suaminya meninggal ia memilih untuk fokus menjaga anaknya terlebih dahulu. "Kata Mas Reyhan, Mbak pinter masak ya?" Tanya Aisyah sopan. Ia lebih nyaman memanggil Mbak di bandingkan bibi.
__ADS_1
"Iya Nyonya, kalo Nyonya mau belajar masak biar Mbak yang ajarin bikin masakan kesukaan Tuan Reyhan," jawabnya dengan ceria, benar-benar santai.
"Panggil aja Aisyah Mbak. Saya masih muda," kekeh Aisyah pelan. Terlihat Mbak Nur mengibaskan tangannya cepat dengan tawa yang menyeimbangi.
"Ya masa Mbak harus panggil nama toh, kan gak sopan. Mau Mbak panggil Ibu saja?"
"Masa Ibu sih? Aisyah aja Mbak, gak apa-apa," tolak Aisyah dengan tawa renyah diakhir ucapannya.
"Ya gak apa-apa, Bu. Kan sebentar lagi punya anak, anggap saja latihan untuk membiasakan diri," bujuk Mbak Nur, akhirnya Aisyah menganggukan kepalanya karena tidak ingin memperpanjang perdebatan.
Aisyah pun mulai mengajak Mbak Nur berkeliling rumah, walaupun Aisyah sendiri baru mengetahui setiap tata letak rumah dua tingkat ini. "Oh iya Mbak, siang nanti Aisyah mau bawain makan siang buat Mas Rey, selain ikan Mas Rey suka masakan apa lagi?"
"Tuan dari kecil suka tongseng, ikan, sama rendang. Di jamin lahap kalo dimasakin itu Bu." Aisyah menganguk pelan, mulai memikirkan masakan apa yang cocok untuk siang ini.
__ADS_1