
Setelah Aisyah pulang, Reyhan pun mulai kembali disibuk kan dengan pekerjaannya. Dia membuka beberapa e-mail penting yang baru masuk dan beberapa berkas baru yang selalu dia terima. Hebatnya, Reyhan tidak melewatkan sholat Ashar, dia mengingat pesan Aisyah tadi, lalu setelah itu kembali melanjutkan pekerjaannya seperti biasa dengan perasaan yang lebih tenang. Hingga jam empat lebih tiga puluh menit, menjelang jam pulang kantor, sebuah panggilan masuk membuat getaran ponselnya terasa, Reyhan mengerutkan keningnya saat melihat nama Devi tertera dilayar ponsel. Belum sempat Reyhan mengucapkan salam, Devi berkata dengan nada panik.
“Rey, bisa ke rumah sakit sekarang? Rere pingsang dikamar mandi tadi.” Seketika itu pula Reyhan terkesiap, tubuhnya begitu merespon dan langsung berdiri dengan wajah yang panik.
“Kenapa bisa?” tanya Reyhan dengan nada yang begitu terkejut, hatinya kembali risau dan tak menentu.
“Rere susah makan lagi, dan tadi gue denger suara Rere jatuh," jelas Dewi yang terdengar bergetar, entah sepanik apa Dewi sekarang.
“Sekarang keadaan Rere gimana?” tanya Reyhan kembali.
“Dokter lagi periksa, Rere belum sadar.”
__ADS_1
Tanpa pikir panjang lagi, dengan cepat Reyhan menyambar jas yang ada disandaran kursi, memakainya dengan gerakan cepat. Namun seketika ia menggeram, ia mengeluarkan ponselnya.
^^^Aisyah, maaf Mas harus kerumah sakit sekarang, sepertinya pulang agak telat hari ini^^^
“Aisyah, maaf,” gumam Reyhan sambil menggenggam erat ponselnya. Balasan pesan dari Aisyah mulai terdengar.
[Innalillahi, ada apa Mas?]
Tak ingin mengulur waktu, Reyhan memasukan ponselnya kedalam saku Jas. Berjalan cepat meninggalkan ruangannya dan fokus utamanya saat ini adalah keadaan Rere.
...🦋...
__ADS_1
...Lagi-lagi menghapus bayangan masalalu tidak semudah yang sudah kau rencanakan. Ia kembali hadir dan mulai mengusik mu kembali....
...🦋...
Aisyah mengambil nafasnya panjang, diikuti bahu yang menaik lalu menurun saat ia mengeluarkan nafasnya. Aisyah mengambil wadah untuk menyimpan kembali bahan-bahan masakan yang sudah ia potong.
Dengan sabar ia membersihkan kembali bahan masakan dan daging yang akan ia masak kedalam kulkas, Reyhan pasti pulang setelah sholat isya dan Aisyah akan masak setelah sholat Maghrib. Ini semua bukan kesalahan siapapun, teman Reyhan sedang mengalami musibah, bahkan Aisyah pun mengerti kepanikan Reyhan saat ini. “Ibu, Mbak pamit pulang ya, assalamu’alaikum,” ucap Mbak Nur yang kini berjalan masuk kedalam dapur, berpamitan dengan raut wajah yang ramah.
Aisyah membalas senyuman itu dengan tulus seraya mengangguk pelan. “Wa’alaikumsalam. Makasih ya mbak, hati-hati di jalannya, salam juga buat anak Mbak,” jawab Aisyah membuat Mbak Nur semakin melebarkan senyumnya dan mengangguk lalu pergi. Jam dinding menunjukkan pukul lima sore, membuat Aisyah memikirkan sejenak apa yang akan ia lakukan. Seketika ia mengingat Zahra yang mengirimnya pesan untuk mengecek undangan yang ia bagikan.
Ia berjalan menuju kamarnya, membuka laptop tipis yang sudah seminggu ini ia tidak gunakan. Sebuah photo yang menjadi wallpaper seakan menyambutnya, Aisyah tersenyum menatap satu persatu foto yang digabungkan menjadi satu untuk memenuhi layar laptopnya. Kini ia merindukan teman-temannya yang ada di pesantren.
__ADS_1
“Rani,” gumam Aisyah, salah satu orang yang tidak bisa ia lupakan, tingkah lucu dan tomboy yang selalu meramaikan kamar berisi enam orang itu. Kadang ia selalu bertanya, dimanakah mereka sekarang? Beberapa tahun berlalu membuat mereka kehilangan kontak.