
Semenjak itu, Aisyah bertekad untuk mengambil perhatian Reyhan kembali, ia memasak dan menyiapkan keperluan Reyhan di kamarnya bahkan mulai besok ia akan kembali mengantarkan makan siang untuk Reyhan. Namun semua hanya siasia, hatinya kembali di buat hancur oleh Reyhan sore ini. “Kamu masuk ke kamar Mas?” pertanyaan itu bagaikan sebuah pisau yang menancap di hati Aisyah, ingin Aisyah menjawab ‘Kamar kamu di atas!’
Aisyah menelan salivanya, ia menoleh kearah Reyhan dan menaruh piring yang sudah ia siapkan dengan nasi dan lauk di atasnya. “Aku cuma beresin dan siapin pakaian santai buat kamu pake sepulang kerja Mas, rasanya aneh gak ngurusin kamu. Makan dulu Mas, aku udah masakin makanan kesukaan kamu.”
“Udah Mas bilang Aisyah, Mas masih butuh waktu untuk sendiri, kita urus hidup kita masing masing dulu.”
“Mau sampai kapan kayak gini Mas? Mas butuh waktu buat bareng Rere, bukan buat sendiri,” jawab Aisyah, bibirnya bergetar menahan amarah yang sudah memuncak karena rasa lelah yang tak berujung. “Untuk apa satu atap tapi saling mengasingkan diri?”
Pandangan Reyhan menatap Aisyah dengan marah. “Jadi maksud kamu lebih baik mengasingkan diri di beda atap?”
__ADS_1
Aisyah menahan air matanya turun, ia tertawa kecil. “Pemikiran konyol, Mas udah dewasa, pemikirian Mas udah menjadi seorang pemimpin di perusahaan dan imam di keluarga ini. Sekarang Aisyah tanya, mau di bawa kemana rumah tangga ini? Mas masih mau sama Rere atau sama aku! Aisyah capek kayak gini terus, berbagi suami sendiri dengan perempuan yang belum halal bagi kamu sendiri Mas.”
Mbak Nur yang berada di belakang rumah mengintip samar kearah ruangan, hatinya berdebar tak menentu, untuk pertama kalinya ia mendengar secara jelas apa yang sedang menjadi permasalahan selama satu minggu ini. “Jangan pancing aku buat ucapin kata kata yang bisa buat rumah tangga ini hancur, Aisyah!” pekik Reyhan.
“Rumah tangga ini udah hancur Mas, apa lagi yang harus di pertahanin,” lirih Aisyah, ia sudah di titik lemah, Reyhan semakin jauh dan dingin, bahkan belum pernah Aisyah mendengar kata maaf dan penyesalan yang sudah Reyhan lakukan. Aisyah mencoba memaafkan dan memberikan Reyhan kesempatan, namun tampaknya sia sia, Reyhan terlalu menikmati keadaan.
...🦋...
"Ma, itu ada yang telpon kenapa gak di angkat? dari siapa?" tanya Papa. Matanya melirik Hana lalu beralih keponselnya yang bergetar.
__ADS_1
Hana pun menatap suaminya dengan ragu. "Bi Nur nelpon Pah, sebentar ya Mama angkat dulu," ucap Hana.
Ia pun beranjak pergi mendekati jendela, sambil menarik nafasnya pelan. "Assalamu'alaikum Bi, gimana keadaan anak-anak?" tanya Hana.
...🦋...
Aisyah terisak di dalam kamar, air mata tak mampu ia tahan. Hatinya sudah sangat lelah menerima perlakuan Reyhan. Bukan kata maaf yang keluar dari mulut Reyhan atas sikapnya selama ini, namun bantingan pintu yang harus Aisyah dengar. Entah dimana Reyhan sekarang, ia pergi begitu saja bahkan tanpa membawa mobil. Aisyah beranjak bangun dari tidurnya, ia menghapus air mata yang masih tersisa. Apakah cinta semenyakitkan ini? pengorbanan seperti apa yang harus Aisyah berikan? apakah kesabarannya selama ini masih kurang?
Dengan langkah yang sudah lemah, Aisyah mengeluarkan sebuah koper di dalam lemari, ia memasukkan semua pakaian miliknya kedalam koper. Saat semua sudah selesai dan Aisyah baru saja mengunci kopernya, sebuah bel terdengar, Mbak Nur sudah pulang beberapa menit yang lalu dan menjadi pelerai pertengkaran antara Aisyah dan Reyhan tadi, apakah Mbak Nur kembali untuk mengambil sesuatu yang tertinggal? namun tak biasanya Mbak Nur menekan Bel.
__ADS_1