Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 32 : Dua Pilihan


__ADS_3

Aisyah tampak menganggukan kepalanya, seolah mengerti dengan rasa lelah yang Reyhan rasakan. Namun, bukan rasa lelah akibat pekerjaan, melainkan rasa lelah karena hati yang mulai terasa bercabang, tidak teguh pada satu tempat dan membuat rasa ragu serta bersalah kian terasa. Ingin ia berbalik pada satu titik yang seharusnya, namun ia terlanjur berjalan jauh, menikmati setiap rasa khawatir pada orang yang salah. “Iya Mas, Aisyah nanti ke kamar bawain air putih ya, sekalian mau siapin air buat mas mandi.” Reyhan tersenyum hambar, ia mengangguk pelan dan melanjutkan langkahnya kedalam kamar.


‘Hufft’ hela Reyhan, tangannya terulur membuka pintu kamar, melonggarkan dasi dan melepaskan jas nya. Ia lelah. Lelah hati, lelah pikiran, dan lelah tenaga. Mengapa saat ia meninggalkan Rere semuanya terasa sangat biasa? Tidak ada rasa peduli dan berpendirian teguh untuk menjadikan Rere istrinya? Mengapa ia harus merasakan penyesalan, bimbang dan ingin kembali kesisi wanita itu disaat ia sudah menjadikan perempuan lain sebagai istrinya? Apakah ini semua adil untuk dirinya? Tidak, tidak sama sekali. Mengapa hatinya tidak diberikan rasa kuat dan setia pada satu wanita? Mengapa-. “Mas, ini air putihnya, di minum dulu.” Kedatangan Aisyah menghentikan lamunannya, ia segera menggelengkan kepalanya pelan. Mengeluh hanya semakin membuat semua ini terasa berat. “Mas kenapa? Pusing?”


Reyhan mengangkat wajahnya pelan, “Enggak, Mas lagi banyak pikiran.” Aisyah menyodorkan gelas itu perlahan, dengan perlahan Reyhan menghabisaknya.

__ADS_1


“Mikirin apa sih mas? Coba cerita, Insya Allah Aisyah bisa bantu.” Aisyah duduk disamping Reyhan, menanti suaminya menjawab.


Reyhan memejamkan matanya sesaat, ragu untuk berucap dan membuka matanya kembali. Tubuh Reyhan bergeser menghadap Aisyah, menatap dengan ragu wajah Aisyah yang tengah serius. “Gini Aisyah. Kalo ada dua perusahaan yang dateng bersamaan untuk menawarkan kerjasama, kamu mau pilih yang mana?” Tanya Reyhan sebagai pembuka, tidak terlalu detail dan tidak terlalu mencolok dengan apa yang tengah ia bimbangkan sebenarnya.


“Maksud kamu gimana?”

__ADS_1


Aisyah menaruh kedua tangannya disisi ranjang, menatap Reyhan dengan senyum yang sudah kembali menghiasi wajah perempuan itu. “Jujur ya mas, udah seminggu ini Mas itu keliatan capek, pulang selalu malem dan gak banyak ngobrol. Ternyata Mas lagi bingung sama pilihan untuk kerjasama,” jelas Aisyah jujur. “Kalo menurut Aisyah, Mas malem ini sholat istikharah, biar diberi petunjukan untuk pilihan yang lebih tepat untuk Mas. Jadi saat Mas tanda tangan kontrak, Mas puas dengan pilihan Mas sendiri.”


Reyhan terdiam, tak berkedip dan pikirannya kembali melayang. ‘Sudah terlambat. Jawaban Aisyah begitu benar, namun sudah terlambat. Reyhan seharusnya tidak memutuskan dengan egonya sendiri saat itu. Seharusnya ia sholat istikharah dan meminta petunjuk yang tepat untuk perempuan yang ia pilih.’ Batin Reyah menjerit. “Tapi Aisyah, Mas udah terlanjut tanda tangan kontrak sama perusahaan A, dan sekarang pikiran Mas malah tertuju sama perusahaan B. Mas mendadak yakin kalo perusahaan B lebih menjamin untuk kerja sama ini.”


Aisyah tampak menggigit bibir bawahnya sesaat, terlihat jelas jika perempuan itu ikut berpikir pada apa yang tengah Reyhan landa. “Kalo udah kontrak, itu artinya udah terikat kan Mas?” Tanya Aisyah. Reyhan mengangguk. “Menurut Aisyah, Mas yakin aja sama pilihan Mas, Insya Allah pilihan Mas udah bener. Karena kalau Mas sampai batalin kontrak, mereka akan menilai Mas kurang bertanggung jawab, kurang baik juga untuk kedepannya, Mas. Aisyah tahu dari Ayah kalo masalah keterikatan kontrak itu bukan hal sepele, kita harus bener-bener pikirin dengan matang Mas, dan lumayan susah juga buat proses pembatalan kontrak yang udah ditanda tangan Mas.”

__ADS_1


__ADS_2