Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 37 : Ketahuan?


__ADS_3

Aisyah menggelengkan kepalanya pelan sambil tersenyum, lalu ia membuka pintu lebih lebar lagi. “Kita tunggu didalem aja ya, mau minum apa?” tanya Aisyah. Mereka duduk disofa ruang tamu.


“Gak usah repot-repot Aisyah, Mas Bayu sebentar lagi juga nyampe,” tolak Zahra pelan. Namun Mbak Nur datang dengan membawakan segelas air bening.


“Permisi, ini minumnya.” Mbak Nur menyimpan gelas itu dihadapan Zahra.


“Aduh ibu makasih, maaf ngerepotin.” Zahra menerimanya dengan begitu sopan.


“Makasih ya mbak,” ucap Aisyah tersenyum pada Mbak Nur, dan dengan cerianya Mbak Nur memberikan jempol pada Aisyah sambil mengundurkan diri. Aisyah tertawa kecil melihat itu, Mbak Nur layaknya seorang sahabat bagi Aisyah, tidak canggung dan selalu membuatnya tertawa dirumah ini.


Sebagai rasa sopan, Zahra meminum air putih yang diberikan, ia bercerita banyak tentang persiapan yang tidak terasa semakin dekat. Hingga sebuah pesan masuk menghentikan pembicaraan mereka. “Mas Bayu udah didepan,” ucap Zahra membuat keduanya melihat kearah jendela, sebuah mobil berwarna hitam sudah terparkir disana.


Keduanya lantas bergegas dan keluar dari rumah, melewati pagar dan melihat seorang laki-laki jangkung baru turun dari mobil. Bayu tersenyum dan menangkup kedua tangannya pada Aisyah dan Zahra, wajah yang terkesan manis dengan kulit bersih cenderung kuning langsat menjadi ciri khas wajah sunda, ditambah gaya bicara yang begitu lembut dan sopan. Mereka akhirnya masuk kedalam mobil, Aisyah dan Zahra di bangku belakang sedangkan Bayu duduk sendiri dikursi depan.

__ADS_1


Selama diperjalanan obrolan mereka begitu hangat, Bayu tampaknya mudah mencairkan suasana, semua terlibat dalam obrolan. Ia pun menceritakan sedikit kehidupannya, besar bersama kedua orangtua yang memiliki karir dibidang hukum, sedangkan ia mengambil pilihan yang berbeda, memilih karir dibidang kehehatan. Perjalanan tampak begitu menyenangkan hingga tidak terasa sudah sampai ditempat perhiasan yang dituju. “Ini deket banget sama kantor Mas Reyhan,” ujar Aisyah saat turun dari mobil.


“Ya udah kita mampir aja ke kantornya Aisyah,” usul Zahra.


“Gak usah, aku takut Mas Reyhan lagi sibuk, apalagi siang ini ada rapat.” Mendengar itu Zahra hanya mengangguk mengerti, merekapun masuk kedalam toko perhiasan yang tampak luas dan bersih.


Pelayan disana begitu ramah dan menyambut kedatangan mereka, memberikan beberapa pilihan cincin couple. “Kamu suka yang mana Zahra?” tanya Bayu begitu lembut, Zahra tersenyum kecil dan menunjuk dua pilihannya.


“Loh kok ke aku? Coba tanya Mas Bayu,” kekeh Aisyah yang menyadari Zahra tengah gugup dan malu.


“Aku sebagai juri terakhir aja pilihan kalian,” sahut Bayu sambil tertawa kecil. Aisyah pun membantu memilih cincin dengan bentuk simple namun elegan. Zahra menatapnya sebentar dan merasa cocok lalu memberikannya pada Bayu. Setelah semua setuju dengan pilihannya, surat perhiasan pun dibuatkan dan Bayu membayarnya.


Mereka keluar dari toko, berjalan menuju mobil Bayu, namun tiba-tiba Bayu menghentikan langkahnya membuat kedua perempuan yang ada disebelahnya menatap bingung. “Kenapa Mas?” tanya Zahra.

__ADS_1


“Gimana kalo kita makan dulu, kalian pasti baru sarapan? Sambil nugguin Dzuhur kita sholat.” Keduanya tampak saling pandang dan setuju dengan Bayu, pilihan mereka tertuju pada sebuah café ternama yang ada disekitar sana, café yang menyediakan banyak menu dari mulai snack sampai makanan berat. Dicafe itu pun tersedia mushola untuk para tamu.


Tiba dicafe, mereka disambut oleh seorang waiter yang membawa menu sambil menawari beberapa tempat terbaik untuk tiga orang. Pilihan mereka pun tertuju pada lantai dua, tidak terlalu ramai dan cukup tenang bisa melihat pemandangan jalan yang selalu padat berlalu lalang. Setelah pesanan mereka dicatat, waiter itu pun pergi, minuman terlebih dahulu datang dan disusul oleh makanan berat yang mereka pesan.


^^^-Mas, jangan lupa makan siang.-^^^


Pesan singkat itu Aisyah kirim, lalu mereka berdoa dan memakan makan siang mereka dengan tenang. Aisyah menarik sedikit sisi tengah cadar dan memasukkan makannya. Setelah selesai, mereka mengobrol sebentar, hingga sebuah adzan terdengar dari ponsel Bayu. Beberapa tamu pun berdatangan ke Mushola, sholat berjamaah dengan mereka dan memutuskan untuk pulang. “Totalnya Rp. 217.000.-“ ujar kasir. Aisyah dan Zahra bersiap mengeluarkan dompetnya saat Bayu mengambil struk dan memeriksanya sekilas lalu menyodorkan kartu debitnya.


“Udah gak usah Zahra, Aisyah, semuanya biar aku traktir.” Bayu tertawa renyah melihat keduanya yang tampak kompak. Setelah mengucapkan terimakasih, Aisyah mengerutkan keningnya pada sebuah meja yang terdapat dua orang sedang memesan makanan. Reyhan, tidak salah lagi itu Reyhan.


“Zahra, tunggu sebentar ya, aku mau kesana dulu.” Zahra menatap Aisyah bingung, ia pergi begitu saja. Namun saat melihat pusat kemana langkah Aisyah pergi, Zahra dengan cepat menyusul Aisyah, Reyhan bersama seorang perempuan lain.


Saat waiter itu pergi, tampaknya Reyhan menyadari kehadiran Aisyah, wajahnya menengang. “A-aisyah?”

__ADS_1


__ADS_2