
Mendengar itu, Reyhan terdiam sesaat, namun dengan cepat dia langsung menggelengkan kepalanya. “Kamu emang istri aku satu-satunya," jawab Reyhan.
“Astagfirullah Mas, kalo ucapan Mas bener, kenapa harus ada Rere?” tanya Aisyah. Dia sudah tidak habis pikir lagi dengan Reyhan, entah bagaimana pemikirannya mengenai perselingkuhan. Seakan apa yang sedang dia lakukan sekarang bukan lah sesuatu yang salah.
“Ya, karena Mas belum bisa lupain Rere. Mas gak bisa lihat dia berbaring terus di rumah sakit," jawab Reyhan jujur, dia mengeluarkan semua kekacauan yang ada di hatinya, mencoba jujur pada dirinya sendiri dan Aisyah. Tidak mudah menjadi Reyhan, dia tidak bisa memutuskan semudah itu apa yang harus dia ambil.
Mata Aisyah mulai berkaca, hidungnya terlihat berkembang kempis menahan amarah yang tinggi. “Jadi selama ini temen mas yang sakit itu Rere?” tanya Aisyah marah, dia benar-benar di buat sakit kepala saat ini. Reyhan dengan menyebalkan nya hanya menganggukkan kepala pelan. “Kalo Mas diposisi aku gimana? Aku ngejenguk lelaki lain dan ada hubungan terlarang yang kita lakuin tanpa sepengetahuan Mas. Mas pasti sakit kan? Merasa dikhianati Mas! Dan itu yang aku rasain Mas! Salah kalau aku temuin Rere?”
__ADS_1
“Kamu jelas gak boleh Aisyah! Kamu seorang istri!”
“Kamu pun seorang suami Mas, jangan egois! Dan aku menolak dengan keras kalo Mas berniat poligami,” pekik Aisyah tegas. Ia tidak siap.
“Demi Allah, Aisyah, Mas gak ada pikiran tentang poligami. Mas hanya butuh waktu untuk melepaskan Rere. Untuk saat ini mungkin belum, tapi kedepannya Mas akan lepasin Rere. Dan sekarang, Mas udah lihat semua chat kamu sama Rere, kamu ngajak Rere ketemu dan tampar dia,” balas Reyhan dengan nada yang sama. Hawa terasa memanas di dalam kamar, keduanya saling melemparkan kekesalan dan pembelaan untuk diri mereka.
“Mas! Rere juga perempuan, kamu harus tegas dari sekarang. Ada dua perempuan yang kamu lukai hatinya,” ujar Aisyah. Reyhen menarik pelan rambutnya sendiri, sudah dua hari pikiran dan hatinya merasa tertekan.
__ADS_1
“Mas minta waktu sendiri tanpa kamu ataupun Rere ganggu, semua ini buat Mas capek.”
“Ya tapi gak gini caranya Mas. Mas mau kemana?” tanya Aisyah bergetar, ia menahan sebisa mungkin agar air mata tidak turun.
“Kita pisah kamar untuk sementara waktu. Mas pake kamar dibawah.”
Aisyah menggelengkan kepalanya keras. “Mas, ini bukan penyelesaian yang baik. Kamu udah tahu mana yang benar dan mana yang salah.”
__ADS_1
“Iya Mas tahu. Tapi enggak sama hati dan pikiran Mas, Aisyah. Mas butuh waktu buat sendiri,” jawab Reyhan pelan. Ia menarik resleting tas itu dengan gerakan cepat, membawanya dan berjalan keluar kamar, mengabaikan segala panggilan Aisyah.
Aisyah terdiam di lantai atas, menatap Reyhan yang tengah menuruni anak tangga dengan tas besar ditangannya. Air matanya turun seketika, rasanya sungguh menyakitkan dan begitu sesak. Aisyah membuang wajahnya kesembarang arah, menutup mulutnya dengan telapak tangan. Suara isakan terdengar memilukan bagi dirinya sendiri.