
Tanpa menghiraukan teriakan Rere, Reyhan pun keluar dari ruangannya, ia menekan beberapa kali tombol lift. Hatinya semakin gelisah, kandungan Aisyah baru masuk 8 minggu, perkataan dokter mengiang dikepalanya. Aisyah tidak boleh berfikir berat, kandungannya masih sangat rawan. Sesampainya di basement, Reyhan menatap beberapa mobil yang terparkir, mobil Aisyah sudah tak ada. Tanpa berpikir panjang ia pun masuk kedalam mobilnya, selama di perjalanan Reyhan begitu tak tenang. Reyhan memarkirkan mobilnya di depan pagar rumah dengan asal, ia berlari masuk kedalam rumah dan memanggil Aisyah. "Ibu berangkat ke kantor pak, belum pulang," ucap Mbak Nur.
Perasaan Reyhan semakin kalang kabut, kemana ia harus mencari Aisyah? Pikiran Reyhan pun tertuju pada rumah Umi. Ya, Aisyah pasti ke rumah Umi, karena hanya Umi keluarga satu-satunya Aisyah di Bandung. Perjalanan yang padat pun membuat Reyhan kesal, ia menekan beberapa kali klakson mobil pada pengendara di depannya. "Sabar mas, macet, ada kecelakaan didepan," sindir seseorang di samping mobil Reyhan. Dengan kesal ia pun hanya berdecak dan sabar.
Saat melihat celah untuk mobilnya maju, Reyhan pun menggunakan kesempatan itu, ia tak bisa menunggu lebih lama lagi. "Mobilnya gak ada," gumam Reyhan. Ia ragu harus turun dari mobilnya atau tidak, ia tak melihat mobil Aisyah ada disana. Jika Reyhan masuk dan menanyakan Aisyah, takutnya hal itu justru membuat kesalahpahaman ini semakin membesar.
Reyhan pun memutarbalikkan mobilnya dan tujuan sekarang adalah rumah mama. Selama di perjalanan ia tak mengangkat panggilan yang masuk kedalam ponsel, Reyhan tak ingin Rere mengganggu untuk masalah ini. Saat di lampu merah, deringan ponsel kembali terdengar. Reyhan pun mengeluarkan ponselnya dan sedikit bingung melihat nomor tak dikenal menghubunginya. "Assalamualaikum Reyhan?" terdengae suara lembut perempuan yang terdengar seperti tergesa.
__ADS_1
"Waalaikumsalam, maaf ini siapa?" tanya Reyhan kemudian.
"Saya Zahra, sahabat Aisyah, Reyhan. Saya langsung ke rumah sakit waktu dapat kabar dari suami kalau Aisyah kecelakaan, sekarang Aisyah sedang ditangani, kamu bisa kasih kabar keluarga Aisyah yang lain?"
Reyhan tak bisa menutupi rasa terkejutnya, ia benar-benar merasa hancur, ini semua salahnya. "Bisa kirim lokasi rumah sakit sekarang? Saya ada di daerah Dago," ucap Reyhan cepat. "Keadaan Aisyah sekarang gimana?"
Panggilan itu pun terputus, dengan cepat Rayhan membuka aplikasi pesannya. Ia menekan lokasi yang di bagikan dan langsung mengambil arah terdekat menuju rumah sakit tersebut, jaraknya lumayan jauh dari tempat Reyhan sekarang, hal itu membuat Reyhan kembali menekan klakson dengan tak sabar. Ia melewati hampir setengah jam dari kemacetan itu.
__ADS_1
Panggil masuk dari nomor tadi membuat Reyhan dengan cepat mengangkatnya. "Saya sebentar lagi nyampe sana, Aisyah gimana? Gak ada luka parah kan?" tanya Reyhan dengan cepat.
"Reyhan,,, hiks,,, Aisyah," suara itu terdengar sangat pilu, membuat Reyhan menggelengkan kepalanya, ia tidak ingin ada kabar buruk yang ia dengar.
"Aisyah kenapa? Udah ditangani kan?" tanya Reyhan dengan nada yang cukup tinggi.
"Aisyah udah nggak ada,,, hiks,,, Aisyah udah ninggalin kita semua," ucapan itu benar-benar pelan, hanya ada suara isak tangis yang Reyhan dengan, seketika tubuh Reyhan pun seakan lemas, ponsel ditangannya terjatuh, dihatinya hanya ada sebuah penyesalan yang begitu dalam. Ia hanya bisa menyakiti Aisyah selama bersamanya, air mata mengalir deras dari mata Reyhan. Semuanya seakan menggelap, Reyhan tak bisa melihat apapun, pendengarannya sayup-sayup mendengar suara tangis Aisyah.
__ADS_1