
Satu minggu sudah berlalu, hal itu pun kembali berulang, penolakan yang Reyhan berikan membuat Aisyah lelah. Ia memejamkan matanya sesaat, melirik ponselnya sekilas dan tidak mendapatkan pesan masuk, Aisyah tetap selalu meminta ijin kemana pun ia pergi, saat hari minggu kemarin ia seminar, dan hari ini, saat ada kajian di Masjid. "Kenapa? Kok kayak gak semangat gitu sih?" tanya Zahra. Ia menelus bahu Aisyah pelan, "Ayo dong semangat, semua remaja di sini butuh dakwah yang semangat biar mereka juga semangat hijrahnya."
Aisyah tersenyum tipis, "Gini?" tanyanya, Zahra menggelengkan kepalanya cepat.
"Senyumnya terlalu kecil, lebih lebar lagi dong," goda Zahra. Dari garis mata, Zahra bisa melihat jelas jika senyum di balik cadar itu hanyalah sebuah senyum yang di ukir terpaksa, Aisyah tidak pernah begini, ia selalu ceria dan bahagia, bagaimana bisa seorang seperti Aisyah menjadi remaja yang tampak patah hati.
"Harus selebar apa sih senyumnya?" kekeh Aisyah pelan. Lalu ia menghembuskan nafasnya sedikit kasar, menatap Zahra dan tersenyum lembut seperti biasa. "Kapan mulainya? Udah gak sabar."
__ADS_1
"Sebentar lagi Aisyah, sabar," jawab Zahra. Tangan Zahra terulur menggenggam tangan Aisyah, sudah 4 tahun mereka bersama semasa kuliah, rasanya ini bukan Aisyah yang biasa, ini Aisyah versi galau. "Kenapa sih? Cerita dong, siapa tahu aku bisa bantu. Masalah rumah tangga?" tanya Zahra lembut.
Aisyah tampak menggelengkan kepalanya pelan, ia tersenyum lembut. "Bukan, aku lagi gak enak badan aja, akhir-akhir ini gak semangat."
Bola mata Zahra tampak membesar, gerak tubuhnya menjadi bersemangat menatap Aisyah. "Jangan-jangan kamu hamil Aisyah! Coba nanti cek ke dokter kandungan," pekik Zahra.
“Hah? Gak mungkin lah,” jawab Aisyah cepat. Ia baru saja selesai datang bulan dan kini mereka berpisah kamar. Sebelum Zahra bertanya lebih jauh, Aisyah berdiri dari duduknya. “Kita ke dalem yuk, sebentar lagi mulai.”
__ADS_1
Acara kajian berjalan dengan lancar, kini para anggota masjid tampak mengadakan rapat kecil di samping jendela masjid, Aisyah berjalan kecil di teras masjid yang terasa sejuk, melewati beberapa tiang masjid yang begitu besar berwarna putih polos dengan nama nabi dalam tulisan Arab dan sedikit cat warna kuning keemasan di bagian teratas dan terbawahnya. “Tunggu sebentar ya.” Suara lembut itu berasal dari pintu dekat tempat wudhu, Aisyah melirik pelan ke arah sana. Maura dan Yusuf, tangan Yusuf mengelus lembut perut besar Maura, bibir mereka tersenyum dengan sorot mata saling menyampaikan cinta. Sebelum Yusuf pergi, Aisyah melihat Yusuf mengusap pelan kepala Maura, mencium keningnya sekilas dan melambaikan tangan lalu bergabung bersama anggota lainnya.
Aisyah terdiam, rasanya begitu hampa, ia rasanya iri dengan beberapa pasangan yang bersikap manis, menjadikan istri mereka satu satunya wanita yang paling mereka cintai, memberikan segenap perasaan dan kasih sayang yang tiada habisnya. Satu pertanyaan di benar Aisyah, bisakan Reyhan seperti itu? Bisakah hanya Aisyah yang memiliki hatinya?
“Assalamu’alaikum, Aisyah,” sapa Maura.
Aisyah yang sedari tadi tampak melamun menatap Maura sambil tersenyum di balik cadarnya, ia tersenyum begitu lembut. “Wa’alaikumsalam,” jawab Aisyah lembut. “Aisyah kira kakak gak ikut kesini tadi,” kekeh Aisyah pelan.
__ADS_1
“Iya nih, Alhamdulillah minggu depan udah masuk tanggal lahiran, besok Abi udah full mau diem di rumah nemenin,” jawabnya tampak bahagia. “Oh iya, maaf, aku liatin kamu dari tadi kok kayaknya gak fokus? Sampe dipanggil dua kali sama Zahra baru maju ke depan. Lagi ada masalah?” tanya Maura. Aisyah menggelengkan kepalanya lemah.
“Enggak kak, aku lagi gak enak badan aja.”