
Reyhan mengendarai mobilnya menuju kantor dengan senyum yang tak luntur sedikitpun dari bibirnya, jauhnya Rere membuat hubungan Reyhan dan Aisyah semakin dekat setiap harinya. Reyhan pun sudah mencoba mengabaikan semua pesan yang dikirimkan Rere, mungkin hanya beberapa yang dibalas, selebihnya Reyhan abaikan. Pagi ini pekerjaannya bisa di katakan cukup banyak, pekerjaan akhir bulan memang selalu menguras pikiran.
'Tok... Tok... Tok...'
Suara ketukan pintu membuat raihan menghentikan jarinya di atas keyboard laptop, ia menoleh ke arah pintu dan sedikit berteriak. "Masuk."
Tak berapa lama pintu itu terbuka, menampilkan Rere yang mulai masuk dengan raut wajah tak bersahabat. "Kamu udah pulang?" Tanya Reyhan bingung.
__ADS_1
Rere duduk di kursi yang ada dihadapan Reyhan. "Aku emang dua minggu kan di Jakarta, kok kayak nggak suka gitu liat takut pulang?" Tanya Rere sambil mengerutkan keningnya. "Kenapa semalam kamu enggak angkat telepon dari aku? Jadi Evan yang jemput aku dari bandara," lanjut Rere dengan nada ketus.
"Ya ampun Re maaf, aku benar-benar lupa kamu minta jemput. Semalam aku harus antar Aisyah ke rumah umi, aku enggak terlalu fokus ke HP," jawab Reyhan.
Rere menarik nafasnya pelan, ia menatap Reyhan dengan lelah. "Akhir-akhir ini aku rasa kamu semakin dekat sama Aisyah," gumam Rere pelan. "Kamu nggak akan tiba-tiba putusin aku lagi kan? Tiba-tiba pilih istri kamu dan lupain semua janji kamu ke aku," sindir Rere dengan raut wajah seakan mengolok-olok Reyhan.
"Re—" ucap Reyhan memotong sindiran yang akan keluar dari mulut Rere selanjutnya. "Akhir-akhir ini pekerjaan aku banyak, jangan disangkut pautin sama Aisyah. Aku capek dan ini masih pagi, bisa kita bahas yang lain?" tanya Reyhan mulai kesal.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini Mama sering datang ke rumah, bisa jadi pertanyaan besar kalau aku nggak pakai cincin," jawab Reyhan. "Sekarang kamu duduk, dan jangan ganggu aku dulu," lanjut Reyhan masih cukup lembut.
Rere menatap Reyhan tak percaya, "Jadi aku ganggu kamu? Aku paksain diri enggak istirahat di rumah dan langsung ke kantor kamu loh, karena apa? Aku kangen sama kamu, tapi kayaknya kamu nggak sepemikiran sama aku."
Reyhan menghela nafasnya dalam, dia mulai menatap Rere dengan sedikit amarah. "Hari ini pekerjaan aku benar-benar numpuk Re, kamu tunggu dulu di kursi sebentar, biar aku beresin ini dulu dan kita ngobrol buat lurusin ini semua," tegas Reyhan.
Pada akhirnya Rere menurut, ia duduk di sofa ruangan, mengeluarkan ponselnya dan sibuk memainkan sosial media untuk menghilangkan kejenuhan nya. Sesekali Rere melirik kearah Reyhan yang tengah sibuk dengan laptop dan beberapa berkas di meja, setidaknya Reyhan tidak berbohong tentang pekerjaannya yang banyak beberapa hari ini. Yang Rere takutkan hanyalah jika Raihan kembali menjauhinya dan mulai memilih Aisyah kembali. Semua pengorbanan dan penantiannya akan sia-sia jika Rere gagal mendapatkan Reyhan kembali.
__ADS_1
"Kamu mau kemana?" Tanya Rere dengan cepat saat melihat Reyhan berdiri dari kursi kerjanya.
"Ruangan papa, kalau papa yang ke sini bisa gawat urusan," jawab Reyhan sambil berlalu begitu saja.