
Reyhan pun menganggukkan kepalanya lalu berjalan keluar rumah. Selama di perjalanan, rasa semangat Reyhan muncul, ia semakin tak sabar bertemu dengan Rere. Reyhan membelokkan mobilnya ke sebuah halaman restoran, seorang pelayan menyambutnya saat Reyhan datang. "Meja atas nama Rere?" Tanya Reyhan pada pelayan tersebut.
Pelayan itu pun menganggukkan kepalanya, "Di VIP room Pak," jawab pelayan tersebut sambil mengarahkan letak VIP room yang dimaksud.
Reyhan pun masuk ke dalam sebuah ruangan yang cukup tertutup, disana Rere sedang duduk dengan beberapa makanan yang ada di atas meja. "I miss you baby," ucap Rere saat pintu ruangan sudah ditutup kembali.
Senyum Reyhan pun mengembang. Ia menghampiri Rere dan memeluk erat tubuh Rere. "I miss you too," jawab Reyhan seraya mencium pipi Rere. "Ini oleh-oleh khusus buat kamu."
Dengan senang hati Rere mengambil paper bag tersebut, ia melihat beberapa barang yang memang disukai Rere. "Aku masih ingat semua barang barang kesukaan aku?" Kekeh Rere. Tak berapa lama senyum Rere pun memudar, "Aku kangen kita ke Jogja bareng, sampai kapan sih hubungan kita kayak gini, aku pengen kita ke mana-mana bebas, walaupun Aisyah udah tahu tapi keluarga kamu belum, sama kita main petak umpet terus," gumam Rere sedih.
Reyhan pun mengulurkan tangannya dan mengusap pelan kepala Rere. "Sabar ya, aku mau coba ngomong baik-baik sama Aisyah besok malam. Aku akan talak dia dan coba meyakinin Bunda kalau kamu pilihan aku," ucap Reyhan.
__ADS_1
...🦋...
Setelah menghabiskan waktu seharian bersama Rere, Reyhan pun pulang ke rumahnya. Reyhan menatap jam yang melingkar di tangannya, waktu sudah menunjukkan pukul 9 malam, ia pun turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Dengan perlahan dan penuh mempersiapkan diri Reyhan menaiki setiap anak tangga sambil menarik nafasnya dalam.
Reyhan mengetuk pelan pintu kamar, membuka pintu itu dengan perlahan, di sana Aisyah sedang duduk di tepi ranjang dengan sebuah kota kecil di tangannya. "Mas? Pulangnya kok malam banget?" tanya Aisyah sambil berjalan mendekati Reyhan.
"Iya, seru tadi ngumpulnya," jawab Reyhan. "Ada yang Mas mau obrolin, penting banget," lanjut Reyhan dengan tatapan serius. Hatinya sedikit tatanan ingin mengatakan hal ini, minta kata-kata apa yang harus ia utarakan terlebih dahulu untuk menalak Aisyah.
"Kabar baik?" Tanya Reyhan bingung. Kerutan samar dikeningnya pun terlihat jelas.
"Alhamdulillah Aisyah hamil Mas, tadi sore aku mual, bilang ke Mama dan Mama nganterin aku ke rumah sakit. Kandungan aku udah masuk 5 minggu," pekik Aisyah gembira.
__ADS_1
Entah apa yang harus Reyhan lakukan sekarang, harus kah ia bahagia? Lalu bagaimana dengan Rere? Jika Aisyah hamil itu artinya Raihan harus menunda menceraikan Aisyah hingga ia melahirkan nanti. "Mas!" Panggil Aisyah, wajahnya terlihat bingung melihat reaksi Reyhan. "Kamu kok malah ngelamun?"
Dengan cepat Reyhan pun menggelengkan kepalanya. "Enggak kok, Mas nggak ngelamun, jadi mama udah tahu kamu hamil?" Tanya Reyhan.
Aisyah pun menganggukkan kepalanya. "Udah, kan mama yang nganterin aku Mas," jawab Aisyah. "Kamu nggak bahagia ya sama kabar ini?"
"Bahagia kok," jawab Reyhan dengan cepat namun tanpa ekspresi bahagia seperti yang ia ucapkan.
Nafas lega pun keluar dari mulut Aisyah, "Mungkin kamu masih sok aja ya dengar kabar ini?" Ucap Aisyah lembut. "Oh iya Mas, tadi mau ngomong apa?" Tanya Aisyah.
Reyhan pun menggelengkan kepalanya lemah. "Kayaknya ini dibahas nanti aja, soalnya tentang pekerjaan Mas," jawab Reyhan gelagapan.
__ADS_1
Aisyah pun mengangguk mengerti, yang ia pikirkan saat ini mungkin saja Reyhan ingin meminta pendapat pada Aisyah seperti beberapa minggu yang lalu. Mereka pun masuk ke dalam kamar, Reyhan membersihkan dirinya terlebih dahulu, sedangkan Aisyah menyiapkan pakaian tidur untuk Reyhan.