
Semuanya sudah bersiap, Reyhan menjadi imam sholat. Hati Aisyah sedikit bergetar melihat Reyhan mengenakan peci putih. Rasanya ia sangat merindukan moment seperti ini. Sholat berjalan dengan begitu khusyuk, suara hujan diluar mulai terdengar. "Assalāmu ʿalaikum wa-raḥmatu-llah," ucap Reyhan yang diikuti semuanya saat menoleh ke kanan, lalu mengucapkan kalimat yang sama saat menoleh ke kiri.
Setelah saling bersalaman semuanya tampak memanjatkan doa dan beberapa dzikir. "Hujan Pah, mau langsung pulang aja?" tanya Hana sambil melepaskan mukenanya.
"Jangan langsung pulang Ma, tunggu reda dulu. Mama sama Papa udah makan? Aisyah tadi masak lumayan banyak tadi," ujar Aisyah.
"Wah, boleh tuh. Mama udah kangen masakan kamu sayang," jawab Mama.
__ADS_1
Sesampainya di meja makan, mata Hana tampak berbinar. "Ini sih makanan kesukaannya Reyhan semua."
Selesai makan dan sholat Isya, tampaknya hujan tak kunjung reda, mereka kembali mengobrol di ruangan dengan sebuah televisi yang menyala. "Kalo malem ini Mama sama Papa nginep disini boleh? kamarnya ada 2 kan ya?" tanya Mama. Aisyah dan Reyhan spontan saling menoleh, tanpa berkata dan membantah sedikitpun.
"Reyhan ke kamar mandi sebentar," ujar Reyhan cepat. Kedua orangtuanya tampak tak mencurigai apa-apa, mereka melanjutkan percakapan sebelumnya bersama Aisyah.
Reyhan masuk kedalam kamar tamu, membuka lemarinya dan memasukkan semua baju miliknya kedalam tas besar. kini yang membuatnya bingung adalah cara membawa tas besar ini kelantai atas, tangga dirumah ini hanya ada satu dan itu pun harus melewati ruangan yang tengah di tempati kedua orangtuanya. Tampak berpikir lama, Reyhan pun keluar dari dalam kamar sambil membawa tas besar itu dan menaruhnya di dalam gudang dekat kamar tamu. Setelah dirasa aman, Reyhan pun kembali bergabung dengan kedua orangtuanya.
__ADS_1
Kening Reyhan berkerut samar melihat sebuah koper yang berada di samping lemari, tangannya terulur membuka pintu lemari dengan perlahan.
Aisyah baru saja membasuh wajahnya, kini ia sudah mengganti pakaian tidurnya. Baru saja ia membuka pintu kamar mandi, ia sedikit terkejut melihat Reyhan yang tengah menatapnya tajam sambil dengan lemari yang terbuka kosong. "Maksud kamu apa pindahin semua baju kedalam koper Aisyah?" pertanyaan itu membuat Aisyah terdiam.
"Aku mau tinggal di rumah Umi mulai besok," jawab Aisyah pada akhirnya.
Reyhan tertawa getir, ia menggelengkan kepalanya dan menghampiri Aisyah. "Kamu seharusnya tahu Aisyah! hukum istri meninggalkan suami adalah haram. Istri yang keluar rumah tanpa mendapatkan izin dari suami, maka ia akan mendapatkan laknat dari malaikat bahkan jika dilakukan hanya dalam satu detik saja," geram Reyhan.
__ADS_1
Aisyah menarik tangannya yang dicengkram Reyhan lumayan kencang. Dengan mata yang sudah berkaca ia memberanikan diri menatap Reyhan. "Kamu juga seharusnya ngerti gimana sulitnya aku Mas! Aku tinggal disini tapi kita layaknya orang asing, apakah ada seorang suami yang memilih untuk berpisah kamar dengan istri nya sendiri? Mas terlalu menjaga hati untuk Rere sampai Mas lupa kalau tanggung jawab Mas adalah aku, istri Mas sendiri. Sekarang aku menyerah Mas, lakuin semua yang Mas mau karena saat ini adalah titik terlemah aku," ujar Aisyah penuh penekanan.
"Berapa kali Mas harus bilang kalau Mas hanya butuh waktu Aisyah, waktu untuk sendiri, Mas tahu ini semua salah, tapi Mas gak bisa bohong dan gak belum bisa lepasin Rere gitu aja!"