
Aisyah membereskan peralatan sholatnya saat matahari mulai terbit, dia berjalan perlahan ke arah dapur dan menyiapkan beberapa bahan untuk membuat sarapan untuk mereka berdua.
Pertama-tama yang dia lakukan adalah Aisyah mulai mengambil daging dan mencucinya dengan bersih, memotong beberapa bumbu dapur dan mulai menumis. Seketika wangi masakan sudah mulai tercium dan Aisyah memasukkan beberapa bahan lainnya, rasa yang sudah dicicipi juga terasa pas dan tidak ada yang terlewat kan. Aisyah melirik jam di ponselnya, senyumnya mengembang saat jam menunjukan waktu yang tepat untuk membangunkan Reyhan.
Dengan penuh semangat Aisyah menuju ke kamar mereka, menaiki setiap anak tangga dengan gesit. “Mas, bangun. Siap-siap kerja.” Reyhan membuaka matanya perlahan, cahaya matahari yang mulai masuk melalui jendela terasa begitu silau. “Mas mandi dulu, nanti aku siapin baju kantor ya," ucap Aisyah.
“Iya sayang, makasih,” jawab Reyhan, ia mendudukan tubuhnya dikepala ranjang, kepalanya masih lumayan berat dan rasa kantuk masih sangat terasa.
__ADS_1
...🦋...
Setelah selesai bersiap dan sarapan, Reyhan diantar Aisyah hingga pintu rumah, dia mencium tangan Reyhan sebelum pergi dan Reyhan yang mencium kening Aisyah seperti biasanya. “Nanti siang mau ke kantor?” Tanya Reyhan sebelum beranjak pergi.
Aisyah mengangguk dengan cepat. “Iya mas, nanti aku bawain makan siang buat kamu," jawab Aisyah begitu ceria, hatinya benar-benar senang menjadi istri Reyhan.
“Wa’alikumsalam mas, hati-hati diperjalanan ya mas,” ucap Aisyah yang tak pernah lelah untuk mengingatkan Reyhan. Reyhan yang mendengar itu langsung tersenyum sebelum keluar rumah, dia melangkah menuju mobilnya dan melambaikan tangan pada Aisyah.
__ADS_1
Setelah masuk kedalam mobil, Reyhan mulai menyalakan mesin mobil dan melaju dengan kecepatan sedang. Paginya terlihat cukup tenang, tidak seperti malam tadi, rasa cemas pun hilang dan mulai menjalankan paginya dengan biasa. Mobilnya terhenti disebuah perempatan lampu merah, ruang henti khusus motor sudah dipenuhi banyak kendaraan beroda dua itu. Namun, ada satu pemandangan yang berhasil menarik perhatian Reyhan, tampak sebuah keluarga kecil yang tengah berbincang dengan anak kecil ditengah mereka, mereka bertiga tampak bahagia dengan hadirnya malaikat kecil itu, membuat Reyhan tanpa sadar membuat garis senyum dibibirnya, sebagai pengantin baru ia pun berharap segera mendapatkan titipan berharga itu, membuat keluarga kecil yang bahagia.
Lampu hijau tak terasa sudah menyala, membuat Reyhan kehilangan pemandangan indah itu dan kembali pada dunianya, mengambil jalur kanan untuk menuju ke arah kantornya. Drett, getaran ponsel Reyhan terasa. Membuatnya dengan cepat mengeluarkan ponselnya dengan pandangan yang tetap fokus pada jalanan. ‘Rere’ pesan baru muncul.
^^^Selamat pagi Rey, udah di kantor? Jangan lupa sarapan ya^^^
Reyhan menarik nafasnya dalam, ini kah sebuah ujian? Saat ia memilih untuk berdamai tanpa ada perasaan yang mengingatkan masa lalu. Ia ragu, geram dengan sikap labil yang ia miliki dalam hal menentukan rasa, perasaan yang mudah terpengaruhi oleh dua perempuan dalam satu hati. Dengan cepat Reyhan memasukkan kembali ponselnya, ia menguatkan hati untuk tidak memberikan harapan lebih pada Rere, mungkin dikantor ia akan menyusun kata-kata agar Rere bisa mengerti keadaanya, ia sudah memiliki istri, dan ia pun tidak nyaman dengan keadaan yang seakan mengkhianati ini.
__ADS_1