Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 23 : Rasa Bersalah


__ADS_3

Reyhan mulai memikirkan apa yang harus dia balas, tidak bisa sembarangan Reyhan membalas pesan karena takutnya Rere malah kembali berharap padanya dan itu semua tidak baik untuk rumah tangga Reyhan dan Aisyah, dia harus tetap mengingat batasannya.


^^^-Udah malem Re, tidur. Biar cepet sembuh. Gimana keadaan kamu sekarang?- Send.^^^


Kabar aku jauh lebih baik sekarang. Aku sebentar lagi sembuh, karena obat aku udah ada disamping aku lagi Rey.


^^^Ya udah sekarang tidur ya. Jangan sakit kayak gini lagi.- Send.^^^


Sebentar lagi aku tidur Rey.


Setiap malem aku suka mimpi hal ini bakalan kita lakuin lagi, kamu inget dulu kita suka bergadang sambil kamu vidio call aku.

__ADS_1


^^^Re, ini udah malem. Tidur sekarang.- Send^^^


Ya udah iya aku tidur, kamu juga tidur ya. Selamat malam Reyhan.


Reyhan hanya membacanya, kemudian menghapus semua chat dirinya dengan Rere. Semoga saja setelah Rere sembuh nanti ia akan bersikap layaknya teman biasa, dan semoga saja ini hanya perasaan bersalah karena membuat Rere sakit. Kedepannya mereka akan melupakan kisah yang sudah berakhir itu, ia akan kembali fokus pada Aisyah dan hidup tenang tanpa memikirkan lagi Rere. Semoga saja. Semoga.


Reyhan menyimpan kembali ponselnya, berbaring menatap langit-langit dengan pandangan kosong, perlahan ia menarik nafasnya dan berbalik menghadap Aisyah. Perempuan pilihan Mama yang tampak sempurna, perempuan yang sabar dan selalu berkata lembut pada Reyhan, patuh dan mengikuti semua keinginan Reyhan tanpa pernah membantah sedikit pun, ijin yang selalu ia ucapkan sebelum kemana pun ia pergi. Namun semua itu tak mampu memperkuat dinding hati Reyhan, ia tetap lemah jika berhadapan dengan Rere, hatinya tidak setegar itu.


"Allahu Akbar." Mereka memulai sholat subuh dengan khusyuk. Suara sunyi subuh memang begitu tentram dan menenangkan hati.


Setelah selesai sholat, Aisyah mencium tangan Reyhan lembut. Seperti biasa, mereka memperbanyak dzikir dan doa sebelum pergi melipat sajadah mereka kembali. "Aku lanjut tidur ya, nanti bangunin jam setengah tujun. Masih ngantuk soalnya," ujar Reyhan sambil membuka peci dan sarungnya. Semalam ia tidak tenang untuk tidur, bahkan jam dua tadi ia baru bisa tertidur nyenyak dan dua jam kemudian dibangunkan oleh Aisyah untuk sholat subuh.

__ADS_1


Aisyah tersenyum lembut, ia mengangguk. "Lain kali jangan bergadang lagi ya mas." Reyhan membeku, ia menatap Aisyah dengan heran.


"Kamu semalem bangun?" Tanyanya dengan hati yang tak menentu, apakah Aisyah melihat Reyhan tidak bisa tertidur? Melihat Reyhan tengah saling bertukar pesan dengan Rere. Namun suara tawa halus dan perkataan Aisyah membuatnya sedikit tenang.


"Enggak mas, soalnya kamu keliatan ngantuk banget, beda sama kemarin-kemarin, mungkin karena kamu baru mulai kerja lagi ya. Ayah juga waktu itu sering banget bergadang ngerjain kerjaan yang belum selesai." Reyhan tersenyum kaku, ia pun dengan cepat mengangguk.


"Iya. Tugas kantor masih numpuk," jawab Reyhan pelan.


Aisyah lagi-lagi tersenyum manis. Membuat rasa bersalah Reyhan semakin besar. "Ya udah sekarang mas lanjut tidur, Aisyah mau ngaji dulu. Nanti mau sarapan apa?" Tanya Aisyah.


"Apa aja. Apapun masakan kamu, Mas suka," ujar Reyhan terdengar manis ditelinga Aisyah. Setelah Reyhan pergi melanjutkan tidur, Aisyah mulai membuka Al-Qur'an. Membacanya dengan begitu fokus memperhatikan tajwid dan tanda baca.

__ADS_1


__ADS_2