Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 62 : Merasa Bersalah


__ADS_3

Dua hari kemudian Reyhan sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, Reyhan melemparkan senyum pada Aisyah yang baru masuk ke dalam kamar dengan sebuah mangkuk di atas nampan yang ia bawa. "Makan siang dulu ya Mas, biar besok udah bisa mulai kerja," ucap Aisyah lembut.


Reyhan pun menganggukkan kepalanya dan membantu Aisyah mengambil nampan tersebut. "Mas udah sehat kok Aisyah, kenapa repot-repot bawa makan siangnya ke sini?" Tanya Reyhan sedikit bingung.


Aisyah menggelengkan kepalanya pelan. "Nggak Mas, Mas masih harus istirahat hari ini, nggak boleh kecapean," jawab Aisyah.


Tak ingin berdebat panjang akhirnya Reyhan pun mulai memakan makan siangnya. "Kamu udah makan?" Tanya Reyhan sambil melirik Aisyah.


Aisyah tersenyum lembut lalu menganggukkan kepalanya. "Aisyah udah makan Mas, habisin ya Mas makanannya, Aisyah mau telepon dokter dulu buat periksa kehamilan besok."


"Besok Mas boleh antar periksa kandungannya?" Tanya Reyhan pelan. "Kalau udah dapat jam periksanya kabarin Mas ya, biar mas izin jam segitu," lanjut Reyhan.

__ADS_1


Reyhan bisa melihat raut wajah Aisyah berubah menjadi begitu senang, perempuan yang memiliki hati tulus dan selalu memaafkan diri Reyhan hampir saja membuat Reyhan ingin menangis. Ia sudah terlalu jahat ada istri dan anaknya sendiri, namun bagaikan seorang pengecut ia tak berani mengambil keputusan apapun.


...🦋...


Keesokan harinya, Reyhan seakan benar-benar bersemangat mengantarkan Aisyah ke rumah sakit. Selama perjalanan dari arah kantor ke rumah cukup padat, membuat Reyhan mengambil jalan tercepat melewati sebuah perumahan. Suara dengan ponselnya terdengar cukup keras, Reyhan melirik sekilas kearah ponsel yang ia simpan di dashboard. Nama Rere tampil di sana, Reyhan menghela nafasnya dalam, sebelah tangannya terulur mengambil ponsel dan menerima panggilan tersebut. "Re, sebentar ya, aku lagi di jalan, bahaya kalau sambil teleponan," ucap Reyhan cepat.


"Di jalan? Kamu udah masuk kerja kan sayang?" tanya Rere bingung. "Aku kangen, nanti video call aku ya kalau udah sampai."


Terdengar helaan nafas tak suka di seberang sana. "Pasti mama kamu maksa kamu buat anterin Aisyah ke dokter ya? Kamu kan baru beres sakit, seharusnya kamu istirahat aja di kantor."


"Nggak Re, ini keinginan aku sendiri kok. Se-enggaknya aku balas kebaikan Aisyah yang udah ngerawat aku," jelas Reyhan.

__ADS_1


"Kalau aku diizinin buat ngerawat kamu, udah pasti aku yang rawat kamu kemarin, nggak usah ada rasa berterima kasih, lagian dia masih istri kamu udah kewajiban dia buat ngerawat kamu." Baru saja Reyhan ingin memutuskan panggilan tersebut, rupanya Rere belum selesai dengan ucapannya. "Ingat ya sayang, kamu udah pilih aku, aku tunggu kamu sampai Aisyah ngelahirin."


"Iya." Hanya itu yang bisa Reyhan jawab, hatinya kembali berat, entah mengapa ia begitu bimbang. Sebenarnya, kemana hatinya ini berlabuh? Reyhan mematikan panggilan tersebut dan memasukkan ponsel ke dalam saku. Ia mulai fokus pada jalanan.


Sesampainya di rumah, Reyhan menekan klakson mobilnya. Pintu rumah terlihat dibukakan oleh Mbak Nur, tak lama terlihat Aisyah keluar dari dalam rumah. "Mas beneran nggak apa-apa anterin Aisyah? Kata papa ada rapat kan siang ini?"


Reyhan tersenyum pelan sambil menggelengkan kepalanya. "Rapat Papa yang handle, aku udah minta izin buat antar kamu cek kandungan."


Selama di perjalanan tak ada percakapan yang cukup menyenangkan, mereka seakan sibuk dengan pikiran masing-masing, Reyhan sudah jelas sedang bingung pada hatinya sendiri, ia cukup merasa gelisah dengan apa yang sedang ia lakukan. Perasaan yang awalnya tak siap dengan kandungan Aisyah, namun sekarang seakan menanti pertumbuhan buah hati yang ada dalam kandungan Aisyah.


Sesampainya di rumah sakit mereka pun masuk ke ruangan dokter Rahma, mereka berbincang kecil dan Aisyah pun diminta naik ke atas ranjang. Kesehatan Aisyah diperiksa, lalu hal yang paling dinanti pun kini mulai. Reyhan dan Aisyah menatap layar tabung tersebut. "Usia kehamilan 6 minggu embrio mulai berbentuk sabit," jelas dokter Rahma.

__ADS_1


Senyum Reyhan pun mengembang, ia melihat bentuk sabit tersebut yang masih berukuran sangat kecil. Reyhan pun menoleh kearah Aisyah yang tengah tersenyum, hatinya seakan menghangat, rasa haru dan bahagia kini mulai ia rasakan kembali. Beberapa bulan lagi ia akan melihat makhluk mungil lahir di dunia ini.


__ADS_2