Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 27 : Nostalgia


__ADS_3

Setelah sedikit bernostalgia. Aisyah membuka email nya, melanjutkan kesibukannya dulu sebelum ia menikah. Beberapa pesan masuk ia buka dan membalasnya, namun hanya satu yang belum ia balas, sebuah undangan menjadi pembawa acara dalam sebuah acara kajian sebenarnya membuat Aisyah ingin langsung menerima undangan itu, apalagi tema yang diambil cukup menarik ‘Disurga Bersama Rasulallah’ bersama ustad yang cukup ternama dan akhir-akhir ini tengah banyak diperbincangkan disosial media karena dakwahnya yang digandrungi anak-anak muda, penceramah asal Aceh itu cukup banyak digemari anak muda karena penampilannya yang gaul dan menggunakan sosial media untuk media dakwah.


Tawarannya menjadi sebuah pembawa acara bermula saat Aiyah berkuliah di Kairo, ibu kota di Mesir. Wilayah metropolitan kota ini adalah yang terbesar di Timur tengah dan dunia Arab, dan dikaitkan dengan Mesir kuno, karena komplesk piramida Giza yang terkenal dan kota kuno Memphis terletak di wiliayah geografisnya. Saat itu ada sebuah acara di kampus dan Aisyah terpilih menjadi pembaca acara atau lebih dikenal dengan MC, semenjak saat itulah, Aisyah mulai belajar Public Speaking yang baik. Banyak teman-teman dari Indonesia juga yang terpilih dalam acara-acara lain, membuat mereka menjadi terbiasa dan tidak terlalu lama berdiam diri saat bertemu orang-orang baru ditempat yang ramai. Saat mereka lulus dan Aisyah kembali sebulan kemarin di Indonesia, banyak teman-teman kampus yang saat ini memiliki profesi yang beragam, manawari Aisyah untuk menjadi pembawa acara dan terkadang pengisi acara mengenai materi yang sudah ia pelajari sebelumnya.


Dan kini, Aisyah sudah menjadi seorang istri, ia tidak bisa kemana pun yang ia mau sebelum mendapat ijin dari Rayhan. Jika saja ini adalah hari biasa, mungkin Reyhan akan mengijinkan, namun undangan ini untuk minggu depan, hari minggu pukul 08:00 pagi. Hari dimana Reyhan libur dan seharian dirumah. Aisyahpun dengan cepat mengirim pesan pada Zahra jika ia menunggu persetujuan Reyhan.

__ADS_1


Tak terasa waktupun cepat berlalu, Adzan magrib mulai berkumandang. Aisyah mematikan laptopnya dan menyimpan kembali ditempat semula, menyiapkan peralatan sholatnya dan mengambil air wudhu. Ketika hendak memakai mukena, Aisyah teringat sesuatu, ia mengambil ponselnya dan mengirim pesan untuk mengingatkan Reyhan sholat.


Selesai sholat, Aisyah merapikannya kembali, berjalan dengan semangat kearah dapur, melanjutkan kembali acara masak yang tertunda. Sesekali matanya menatap ponsel yang ia simpan diatas meja dapur, Reyhan tidak membalas pesannya. Namun pikiran buruk segera Aisyah buang jauh, jangan mempersulit Reyhan yang tengah lelah habis bekerja dan langsung kerumah sakit.


Genggaman tangan Rere begitu kencang dan erat, seakan takut jika Reyhan akan pergi kembali. “Kamu gak akan temenin aku disini?” Tanya Rere pelan, sorot matanya begitu seakan memohon.

__ADS_1


“Kalo aku gak pulang Aisyah gimana? Sekarang ini status aku udah beda Re. Kita masih bisa temenan deket kayak dulu, sekarang-- “


“Sttt Rey, jangan ingetin status kamu, aku bener-bener sakit dengernya. Apa gak ada kesempatan buat aku? Aku janji bakalan ikutin semua omongan kamu.”


“Re!” Suara Devi terdengar memperingati, ia kembali memakan snack yang ada ditangannya sambil mengalihkan pandangannya dari televisi kearah tempat tidur pasien dimana Rere berbaring. “Lo udah janjinya cuma buat baikan sama Reyhan, bukan balikan! Inget! Lagian masih banyak cowok lain lebih baik dari pada cowok brengsek ini, mana udah jadi laki orang lagi!” Desis Devi, sedikit tidak mengerti arah berpikir Rere, dimana banyak laki-laki yang selalu mengejarnya namun hanya Reyhan yang tetap ia inginkan.

__ADS_1


__ADS_2