
Di dalam mobil Reyhan langsung mengangkat telepon Aisyah yang terus berdering. "Assalamualaikum Mas, di mana? Semuanya udah kumpul.
"Waalaikumsalam Aisyah, Mas masih di jalan kejebak hujan, macet juga. Sebentar lagi Mas usahain nyampe rumah," jawab Reyhan.
"Ya udah Mas hati-hati ya, nggak usah cepet nyampe yang penting Mas selamat sampai sini."
Panggilan pun berakhir, Reyhan dengan cepat mengendarai mobilnya menembus hujan yang tampaknya semakin deras. Jalanan cukup lenggang, hanya beberapa kendaraan yang memaksakan tetap mengemudi menembus derasnya hujan seperti dirinya.
Bisa dibilang malam ini cukup sial bagi Reyhan, mobil yang ia kendarai tiba-tiba mati dan membuat beberapa kendaraan membunyikan klakson. "Astagfirullah, apalagi ini," gumam Reyhan. Mau tak mau Reyhan harus turun dari mobilnya, ia tak bisa hanya diam jam dan menunggu mobilnya hidup kembali. Reyhan memaksakan diri turun dari mobilnya, air hujan yang deras mulai membasahi kemeja Raihan kembali, ia membuka kap mobil dan memeriksanya. Punggung Reyhan terasa sangat begitu basah, tidak biasanya mobil Reyhan seperti ini.
__ADS_1
Setelah berkutat hampir 10 menit, mobil pun mulai bisa dinyalakan. Reyhan kembali masuk ke dalam mobil, ia cukup menggigil kedinginan lalu melanjutkan perjalanannya kembali. Sesampainya di rumah ia masuk dan Aisyah dengan cepat mengambilkan handuk untuk Reyhan. "Ya Allah nak, kenapa bisa basah kuyup gini?" Tanya Mama khawatir.
"Mobil Raihan mogok Ma," jawabnya sambil menggigil.
Reyhan mengedarkan pandangannya, semua orang menatap Reyhan dengan terkejut, tatapan khawatir dan juga perhatian. Terbesit sedikit rasa bersalah di hati Reyhan, keluarga Aisyah cukup baik, namun ia tidak baik sedikitpun pada Aisyah. "Udah Aisyah, sekarang kamu bantuin Reyhan ganti baju, biar Umi yang siapin makanan dari dapur," ucap Umi saat Aisyah kembali mengelapkan handuk pada tubuh Reyhan.
Aisyah pun mengangguk dengan cepat, ia menuntun Reyhan masuk ke dalam kamar, menyiapkan baju yang cukup hangat sambil menunggu Reyhan mandi. "Ini bajunya ya Mas," ucap Aisyah. Setelah Reyhan mengganti pakaiannya, Aisyah menggosokkan handuk kecil pada rambut Reyhan. "Kenapa nggak panggil montir aja sih Mas? Atau neduh dulu sebentar, kalau kamu sakit gimana."
...🦋...
__ADS_1
Malam harinya, tubuh Reyhan bergetar hebat, ia demam. "Astagfirullah Mas badan kamu panas banget," ucap Aisyah khawatir. Reyhan semakin mengeratkan selimut untuk mengelilingi tubuhnya. Aisyah membawakan air dan juga kain. "Lain kali jangan hujan-hujanan lagi ya Mas," ucap Aisyah pelan sambil menempelkan lap basah pada kening Reyhan.
Malam itupun Aisyah tidak tidur, ia fokus mengurus Reyhan. "Mas izin dulu aja kerjanya," bujuk Aisyah saat melihat Reyhan akan turun dari tempat tidur.
Kepala Reyhan pun yang semakin berat menyetujui usul Aisyah. "Tolong kamu bilangin ke papa ya Aisyah, Mas mungkin masuk kerja lagi besok," jawab Reyhan dengan pelan.
Aisyah dengan cepat mengangguk dan mengambil ponselnya menghubungi papa.
...🦋...
__ADS_1
Sudah dua hari Reyhan belum juga kembali pulih, Reyhan pun dilarikan ke rumah sakit dan Aisyah selalu ada disamping Reyhan. Sudah hari keempat Raihan di sini, kedua orang tua Reyhan sering kali menawarkan untuk bergantian menjaga Reyhan. Namun Aisyah selalu menolak, ia ingin terus berada di samping Reyhan. "Aisyah cari makanan dulu di kantin ya Mas," pamit Aisyah lembut.
Reyhan menganggukkan kepalanya pelan, kini ia mulai bisa bersandar di kepala ranjang. Setelah Aisyah pergi, Reyhan melirik ke arah ponselnya. Sebuah pesan masuk yang Reyhan yakini dari Rere. Reyhan menghela nafasnya pelan, melihat tulusnya Aisyah yang merawat dirinya saat sakit membuat Reyhan merasa bersalah setiap membalas pesan Rere.