Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 35 : Sindiran


__ADS_3

Reyhan menatap jam yang tertera di ponselnya, dia lalu mengalihkan pandangannya pada Rere yang tengah duduk bersama beberapa temannya. Hampir sekitar delapan orang yang berada di ruangan ini, mereka semua datang menyambut kepulangan Rere yang baru keluar dari rumah sakit, dan tentunya menatap Reyhan dengan bingung sebab perpisahan mereka dan kabar pernikahan Reyhan dengan perempuan lain sudah tersebar luas. Dengan ragu Reyhan membuka WhatsApps, Aisyah belum memberikan pesan apa pun untuk menjemput.


^^^-Aisyah, udah pulang? Mas sebentar lagi jemputnya ya, masih banyak temen disini.-^^^


“Rey.” Panggilan itu membuat Reyhan langsung menoleh, Evan tersenyum kecut sambil menggelengkan kepalanya. “Ini terakhir ya lo ketemu Rere,” ucap Evan memperingati dengan nada yang serius, tatapannya pun seolah mengatakan jika dia tidak bercanda.


Reyhan mengerutkan keningnya, menatap Evan dengan wajah bingung. “Maksud lo apaan? Gue sama Rere kan satu kota, ya pasti ada ketemunya Van.”


“Rey, lo ngerti maksud gue. Lo kalo gini terus gue yang nyesel,” ujar Evan kesal. Seharusnya saat ia melihat pernikahan Aisyah dan Reyhan yang baik-baik saja ia tidak membujuk Reyhan untuk menjenguk Rere, tidak termakan omongan Rere yang memohon untuk membawa Reyhan menjenguknya agar mereka tidak saling menjadi musuh. “Devi udah cerita semuanya, lo setiap hari kerumah sakit sampe malem. Lo gak mikirin hati Aisyah kalo tau ini semua?”

__ADS_1


“Gak sampe malem banget Van, sampe jam tujuh. Lagian gue sama Rere kan temenan, gue cuma mau kasih semangat biar dia cepet sembuh, dia sakit juga gara-gara gue.” Tangan Reyhan menggenggam erat ponselnya, entah mengapa ucapan Evan yang benar itu seakan membuatnya kesal dan tersinggung.


Tampak Evan tertawa kecil, mungkin lebih tepatnya tertawa mengejek. “Reyhan, Reyhan. Temenan juga ada batasnya kali, gue sahabat lo, sahabat Rere juga, apa pernah gue setiap hari ke kantor lo? Pernah gue setiap hari kerumah sakit? Semua ada batas wajarnya.” Suara pesan masuk dari ponsel Reyhan menyadarkannya.


^^^-Mas, Aisyah udah beres.-^^^


“Bar, gue balik dulu.” Reyhan menepuk pelan bahu Akbar yang sedang fokus bermain game online berbunyi double kill, triple kill, maniac, savage!


“Hati-hati lo di jalannya,” ujar Akbar tanpa mengalihkan pandangannya dari layar ponsel.

__ADS_1


Reyhan berjalan melewati Evan, tidak memberi waktu untuk Evan menghentikan langkahnya. Reyhan berjalan kearah sofa panjang yang ditempati lima perempuan sedang asik mengobrol. “Re, semuanya, gue pulang duluan ya.”


Semuanya tampak menengok, dan Rere menatap Reyhan dengan raut wajah yang cemberut. “Kok pulang sih Rey? Kan masih siang, kita lagi pesen makanan, sebentar lagi nyampe,” jawab Rere.


“Reyhan harus jemput istrinya, ya kali hari libur pengantin baru dipake nongkrong.” Terdengar teriakan Evan dari sofa bagian dekat kamar yang diduduki oleh para lelaki tadi. Tatapan tidak suka pun ditampilkan Rere pada Evan disana, membuat Rere terdiam dengan rasa menohok yang begitu menyesakkan. Seolah Evan tengah mengingatkan Rere jika Reyhan sudah


menikah.


Reyhan hanya tersenyum ketika beberapa teman Rere mengingatkannya untuk berhati-hati dijalan. Membuatnya dengan cepat bergegas dan keluar dari rumah itu, berjalan dengan langkah lebar menuju mobilnya. Suara notifikasi berbunyi kembali.

__ADS_1


__ADS_2