
Dengan penuh tanda tanya dan mata yang terlihat sembab, Aisyah mengenakan jilbabnya, ia menuruni setiap anak tangga dengan sedikit cepat. "Assalamu'alaikum," salam seorang wanita dari luar rumah. Aisyah yang baru sampai di anak tangga terakhir sedikit terkejut, suara Mama terdengar dengan jelas di telinga Aisyah. Dengan cepat Aisyah menggusap matanya dengan kasar, memicikkan beberapa kali kelopak mata itu agar terlihat seperti biasa saja.
Suara bel kembali berbunyi, membuat Aisyah mau tak mau melanjutkan langkahnya. Ia mempersiapkan senyuman yang ceria untuk menyambut mertuanya. "Wa'alaikumsalam Ma, Pah," ujar Aisyah lembut, ia mencium punggung tangan keduanya secara bergantian. "Silahkan masuk," lanjut Aisyah dengan sopan.
Setelah semuanya masuk, mereka duduk disofa ruang tengah. "Reyhan kemana sayang?" tanya Hana.
"Mas Reyhan lagi keluar sebentar Ma, ke warung kayaknya," jawab Aisyah. Tangannya sedikit mengepal, seakan keringat dingin sudah mengumpul di telapak tangannya.
"Papa udah kirim WA ke Reyhan, tapi cuma di baca, gak di bales," jawab Papa. Aisyah lagi-lagi tersenyum gugup, ia menelan ludahnya cepat.
Hana menatap Aisyah dengan seksama, "Mata kamu sembab sayang? habis nangis?" tanya Hana.
__ADS_1
"Oh enggak Ma, ini abis dengerin renungan," jawab Aisyah cepat.
Tak berapa lama, pintu terbuka. Reyhan masuk dengan tak tenang, ia seakang melirik sekilas kearah Aisyah dan duduk di sampingnya. "Ma, Pah," ujar Reyhan sambil mencium punggung tanggan keduanya. "Kok mendadak kesini sih Ma?" tanya Reyhan gugup. Ia baru saja menenangkan diri di sebuah cafe depan komplek, bahkan minuman yang baru ia pesan pun baru selesai dibuat.
"Kamu dari mana aja Rey? Kenapa tinggalin istri sendiri di rumah?" tanya Hana dengan nada yang sudah bersiap marah.
Reyhan kembali melirik Aisyah, matanya terlihat sembab. Apakah Aisyah sudah memberitahu perbuatannya pada kedua orangtua Reyhan? Aisyah yang merasa Reyhan menatapnya, sedikit menolehkan kepalanya dan mata mereka bertemu, namun dengan cepat Aisyah menundukkan wajahnya, hatinya terlalu sakit melihat suami yang ia cintai tengah mengisi hatinya dengan perempuan lain. "Gak ninggalin kok Ma, Reyhan abis keluar sebentar," jawab Reyhan pada akhirnya
"Mama baru inget kalo kalian belum bulan madu. Ini tiket honeymoon kalian ke Yogjakarta," pekik Mama dengan ceria. Ia mengeluarkan sebuah tiket dari dalam tas nya.
Raut wajah keduanya tampak terkejut. "Honeymoon?" tanya Aisyah dan Reyhan bersamaan.
__ADS_1
Mama dan Papa mengangguk cepat. "Iya Rey, Papa kasih kamu libur lagi buat satu minggu di sana, dan Papa pastiin kalo bulan madu kalian gak akan di ganggu pekerjaan."
"Tapi Pa, Reyhan masih banyak tugas di kantor yang harus di selesaikan," tolak Reyhan.
Aisyah memejamkan matanya pelan, menahan air mata yang sudah bersiap keluar kembali. Bahkan Reyhan menolak ini dengan terang-terangan, apa semua ini karena ketidak siapan nya akan jauh dengan Rere? "Ma, Pa, Aisyah juga kayaknya gak bisa, mungkin dilain waktu," tolak Aisyah pelan.
Sedikit keterkejutan Reyhan terlihat, ia menatap Aisyah dengan diam-diam. Gelengan kepala Hana mengalihkan perhatian Reyhan. "Mama gak terima penolakan, baik Aisyah ataupun Reyhan Mama harap bisa menerima tiket ini, lusa kalian berangkat, ini semua ide dari Mama, Papa, Umi dan Ayah kamu juga sayang," sahut Hana dengan lembut, ia menggapai tangan Aisyah dan mengelusnya pelan, hatinya sudah sangat menyayangi Aisyah, ia tidak ingin rumah tangga Aisyah dan Reyhan harus hancur begitu saja, Rere harus dijauhkan dari Reyhan.
"Tapi Ma–" ucapan Aisyah terhenti saat kumandang adzan Maghrib mulai terdengar.
Papa melirik jam dinding dengan tersenyum pada semuanya. "Kita siap-siap sholat berjamaah disini aja, Mama bawa mukena kan di mobil?" tanya Papa. Hana menganggukkan kepalanya dengan cepat.
__ADS_1