
“Assalamu’alaikum warahmatullah,” lirih Aisyah, ia menolehkan kepalanya ke kanan lalu mengucapkan kalimat yang sama sebelum menoleh ke kiri. Aisyah mengangkat kedua tangannya sambil menarik nafas pelan, memanjatkan doa untuk rumah tangganya bersama Reyhan, Aisyah ingin semua ini cepat berlalu, semuanya bisa Aisyah maafkan sebelum Reyhan melangkah terlalu jauh.
Matanya menatap jam dinding yang berdetik pelan menunjukkan lebih dari pukul 7 malam. Mata yang sudah sembab belum bisa menyudahi kesedihan Aisyah, namun yang ia ingat sekarang adalah Reyhan belum makan setelah pulang kerja tadi.
Aisyah bangkit dari duduknya, tanpa melepaskan mukena, Aisyah hendak melangkahkan kakinya pada anak tangga pertama. Namun, niatnya terurung saat melihat Reyhan tengah mengambil nasi seorang diri. Aisyah menghela nafas nya pelan, rasa lega begitu terasa, Aisyah pun berbalik dan kembali masuk ke dalam kamar, tidak akan mengganggu Reyhan atau suaminya tidak akan makan dan mengurung diri seperti saat Maghrib tadi.
...🦋...
__ADS_1
Matahari mulai memancarkan sinarnya, Aisyah pun sudah selesai dengan hasil masakannya. Ia menyiapkan nasi dan beberapa lauk untuk sarapan Reyhan. “Mas berangkat, assalamu’alaikum,” ujar Reyhan sambil berjalan melewati meja makan tanpa sedikit pun menatap Aisyah.
“Mas, sarapan dulu," ucap Aisyah mengingatkan namun Reyhan tetap melanjutkan jalannya keluar rumah, mengabaikan panggilan Aisyah dan dengan cepat masuk ke dalam mobil.
Aisyah mengetuk pelan jendela mobil Reyhan. “Mas,” panggil Aisyah. Sedikit harapan saat Reyhan membukakan jendela mobilnya. “Sarapannya mau di bekal?” tanya Aisyah dengan sangat berharap, dia sudah memasak dengan khusus untuk Reyhan.
"Wa'alaikumsalam," gumam Aisyah pelan, nyaris seperti bisikan. Tanpa di sadari, Mbak Nur sudah berdiri diluar pagar, ia segera menghampiri Aisyah.
__ADS_1
“Bu, ibu kenapa?” tanya Mbak Nur cemas, wajah Aisyah begitu sembab, tampak jelas jika peremuan di hadapannya ini sudah menangis semalaman.
Aisyah dengan cepat menegakkan tubuhnya, ia tersenyum terpaksa pada Mbak Nur sambil menggelengkan kepalanya. “Gak apa-apa Mbak, Aisyah kayaknya pusing,” jawab Aisyah. Ia tidak sepenuhnya berbohong, ia benar-benar pusing menghadapi Reyhan. Bagaimana bisa kini Reyhan yang marah? Reyhan selingkuh dan Aisyah hanya ingin meminta Rere menjauh, semua kejadian itu membuat Aisyah luar biasa pusing, Reyhan kini menjauhinya karena ia menampar ucapan tidak sopan Rere, mengabaikan siapa yang sebenarnya paling salah di sini.
“Biar Mbak pijitin ya di dalem, mau bikini minuman jahe bu? Biar enak badannya,” tawar Mbak Nur. Mereka masuk ke dalam rumah.
“Nanti anter Aisyah belanja ya Mbak, sore Aisyah mau masakin makanan kesukaan Mas Reyhan,” ujar Aisyah. Mbak Nur hanya mengangguk, hatinya begitu tidak tenang dengan pasangan satu ini, Mama Reyhan, Hana, sudah menitipkan keduanya pada Mbak Nur dan diperintahkan untuk memberikan segala informasi jika ada yang tidak beres. Namun, kini Aisyah tampak menutupi semuanya, membuat Mbak Nur menjadi bimbang harus memberitahu Hana atau tidak. Pertengkaran kecil mungkin hanya sebatas bumbu rumah tangga, Mbak Nur pun setuju dengan pemikirannya, mungkin hanya pertengkaran kecil yang biasa terjadi pada pasangan suami istri karena kesalah pahaman.
__ADS_1