Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 30 : Merasa Ada Yang Aneh


__ADS_3

Aisyah tersenyum lembut, “Ikhwan untuk saudara laki-laki (jamak), Akhwat untuk saudara perempuan (jamak).” Jelas Aisyah, Reyhan tampak menganggukan mengerti.


Mereka mengobrol dengan santai, satu jam tak terasa, mereka pun memutuskan untuk tidur. Beberapa menit berlalu, Reyhan tidak bisa tertidur, ia membuka matanya perlahan, Aisyah sudah tertidur dengan lelap. Helaan nafas Reyhan terdengar samar, ia berbalik memunggungi Aisyah, rasanya terlalu tidak adil bagi istrinya jika ia mengetahui kelakuannya diluar, menengok masalalunya selama dua hari dan mendengar kata-kata cinta dari masalalunya. Walalupun Reyhan menolak dan seakan bersih keras menjadikan Rere hanya teman, namun hati tidak bisa berbohong, ia memikirkannya dan belum sepenuhnya melupakan Rere.


...🦋...

__ADS_1


Beberapa hari tak terasa sudah berlalu dengan begitu cepat, tampaknya malam itu adalah percakapan terpanjang mereka yang terakhir, karena Reyhan akhir-akhir ini selalu pulang malam dan entah mengapa Aisyah merasa kan sesuatu yang salah, namun Aisyah tetap berusaha untuk berpikir baik tentang Reyhan. Mereka hanya bertemu saat Aisyah mengantarkan makan siang, saat makan malam, dan menyiapkan suaminya itu pakaian, obrolan mereka semakin singkat setiap harinya, bahkan sikap hangat Reyhan seakan sudah hilang digantikan sikap ragu yang seakan mereka adalah orang asing yang diam dibawah atap yang sama. “Sebentar lagi juga pulang Bu,” ujar Mbak Nur dengan senyum dan sedikit tertawa menatap Aisyah yang sibuk menatap jam dinding beberapa kali. Hatinya merasa risau dan tak tenang, hari sabtu bukankah Reyhan hanya bekerja setengah hari? Namun hingga saat ini Reyhan belum pulang, apakah pekerjaan yang menumpuk akan menjadi alasannya lagi. Astagfirullah. Bagaimana jika Reyhan benar-benar sibuk? Namun Aisyah merasa ada yang ganjil, semua ini begitu tiba-tiba dan sikap Reyhan yang berubah sangat cepat membuat hatinya tak tenang.


“Iya kayaknya ya Mbak, soalnya kata Mama setiap hari sabtu cuma setengah hari, tapi kok sampe jam empat gini belum pulang?” Aisyah bergerak tak tenang, ia mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi nomor Reyhan, pasalnya ia tidak membawakan Reyhan makan siang karena ia mengira suaminya akan pulang siang ini. “Angkat dong Mas,” gumam Aisyah pelan, namun dua panggilan tidak dijawab Reyhan sama sekali.


...🦋...

__ADS_1


Sementara di sana, Reyhan menatap lurus kearah layar televisi yang ada diruangan rawat inap, Rere berbaring dengan tenang diatas ranjang, matanya semakin menutup saat rasa kantuk yang mulai terasa. “Rey,” panggil Devi pelan, perempuan itu duduk disofa single bagian kanan meja, sedangkan Reyhan duduk disebuah sofa panjang yang dapat menatap langsung televisi.


Reyhan mengalihkan pandangannya pada Devi, “Apa?” sahut Reyhan pelan. Setelah seorang perawat datang memberikan obat pada Rere sebenarnya Reyhan akan langsung pulang, namun Devi memintanya untuk tetap tinggal sampai Rere tertidur, ada yang ingin ia sampainya. Rere tampak berbalik menatap Rere yang sudah terlelap, lalu menatap Reyhan.


“Gue makasih banget karena lo udah bikin semangat Rere kembali lagi, tapi lo juga harus tetep inget status lo Rey, lo udah jadi suami orang. Ini sama aja lo ngasih harapan sama Rere, gimana kalo nanti dia malam sakit lagi dan lebih parah dari ini karena dia masih berharap sama lo?” Devi tampak berbica dengan begitu pelan, mencoba untuk tenang dan tidak mengeluarkan rasa kesal yang sudah ia tahan beberapa hari ini.

__ADS_1


__ADS_2