Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 38 : Berbohong


__ADS_3

Reyhan terkesiap, ia langsung berdiri dan menghampiri Aisyah. “Mas, bukannya rapat makan siang?” Aisyah melirik Rere sekilas yang tengah mengenakan sweater, topi dan kacamata. Jantung Reyhan berdebar kencang.


“I-ini Mas lagi mau rapat sayang.” Entah mengapa kata-kata itu meluncur begitu saja, kata ‘sayang’ yang sudah hampir sebulan tidak terdengar kini Reyhan ucapkan. Tanpa ragu, Reyhan merangkul bahu Aisyah, membawanya kehadapan Rere. “Ini Rere, perempuan yang akan menjadi model iklan di produk perusahaan mas.”


Hati Aisyah tidak tenang, semua ini tampak mencurigakan. “Tapi kenapa harus berdua mas?” tanya Aisyah pelan. Namun perempuan yang tinggi dan ramping itu ikut berdiri, ia membuka kacamata dan menampilkan wajah cantik dengan makeup korea yang begitu pas.


Rere mengulurkan tangannya dengan senyum tipis yang tidak tulus, terlihat bola mata itu turun seakan menilai penampilan Aisyah dengan sekilas lalu kembali fokus pada wajah Aisyah yang tertutup cadar. “Kenalin aku Rere, kita lagi ngobrol aja sebelum rapat dimulai, ada dua orang lagi yang kita tunggu, asisten aku sama sekertaris pak Reyhan,” ujar Rere dengan wajah yang mulai ramah dan suara yang lembut.


Aisyah menerima uluran tangan Rere, mencoba untuk tersenyum dan menghilangkan prasangka buruknya. “Aku Aisyah, istri Mas Reyhan,” jawab Aisyah. Aisyah lalu menatap Reyhan, tersenyum dengan tulus, setidaknya ini adalah masalah pekerjaan, Aisyah tidak ingin membuat Reyhan kesulitan, mungkin saja dirumah nanti Reyhan menjelaskan lebih rinci. “Alhamdulillah kalau berempat Mas, Aisyah kira berdua.”

__ADS_1


“Enggak sayang. Kamu kenapa disini?”


“Aisyah abis nemenin Zahra sama Mas Bayu, kenalin Mas.” Aisyah berbalik kearah belakang, tampak keduanya terdiam dengan raut wajah yang bingung. Keduanya memperkenalkan diri pada Reyhan dan Reyhan pun melakukan hal yang sama. Zahra pernah bertemu dengan Reyhan diacara kajian bulan lalu, namun Reyhan sepertinya sudah lupa.


Setelah berbincang sedikit, Aisyah pun pamit pulang. Hingga diluar café, Zahra melirik Aisyah. “Kok kita gak nunggu sampe sekertarisnya dateng sih Aisyah?”


“Ya tapi kenyataannya mereka cuma berdua, sama perempuan lagi.”


Mendengar itu Bayu melirik sekilas. “Sebenarnya bukan masalah perempuan atau apa, terkadang emang ada beberapa pekerjaan yang menuntut kita harus menanganinya dengan siapapun, Zahra. Contohnya Mas, kadang untuk menangani pasien atau berjaga malam ada bagiannya sama perawat perempuan, semuanya tergantung hati dan tanggungjawab. Jika hati kita hanya berfokus untuk bekerja, insya Allah semua akan baik-baik saja.” Aisyah tersenyum mendengarnya, ini yang ia takutkan, Aisyah takut ia cemburu berlebihan dan membuat Reyhan menjadi tidak nyaman padahal suaminya sedang bekerja.

__ADS_1


Zahra pun terdiam dan tidak banyak bicara lagi, mereka masuk kedalam mobil. “Aku minta maaf ya Aisyah,” ujar Zahra tiba-tiba, membuat Aisyah mengerutkan keningnya bingung. Bayu pun yang baru mengenakan seatbelt tampak heran mendengarnya. “Maaf ucapan aku tadi kayak manas-manasin kamu buat curiga sama suami kamu sendiri. Aku bener-bener nyesel.” Zahra raut wajah serta mata Zahra tidak berbohong, ia seakan menyesal dengan sikapnya tadi.


“Masya Allah, Zahra. Gak apa-apa, kamu cuma khawatir sama aku, kamu terlalu takut kalo Mas Reyhan ada main dibelakang aku.” Mendengar itu Bayu tersenyum dalam diam, ia tidak menyangka diamnya Zahra setelah mendengar ucapannya tadi ternyata direnungi, bahkan Zahra pun tidak ragu untuk mengucapkan maaf alih-alih tersinggung dan marah karena tidak sependapat dengan nya.


Seakan teringat sesuatu, Bayu membalikan badannya pada dua perempuan yang sedang duduk. “Mas inget, dia Rere Anggunita Putri.”


“Mas kenal?” tanya Zahra.


“Enggak, Mas pernah tahu berita tentang dia, kalo gak salah dua tahun lalu dia masuk sepuluh besar di kontes kecantikan Miss Indonesia.” Aisyah menghembuskan nafasnya lega, Rere benar-benar model dan suaminya tidak berbohong.

__ADS_1


__ADS_2