Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 43 : Ketahuan


__ADS_3

Aisyah turun dari mobil, berjalan dengan tergesa memasuki lift. Saat melewati café kemarin Aisyah tidak menemukan tanda-tanda Reyhan ada disana. Hatinya sungguh tak tenang, dia ingin meminta penjelasan mengenai bill itu, rasa penasarannya tidak bisa dia tunda lagi hingga Reyhan pulang. Aisyah memejamkan matanya sesaat, apakah dia sudah terlalu berlebihan? Apakah Reyhan merasa terganggu dengan pertanyaannya nanti saat dia makan siang?


Pintu lift terbuka, membuyarkan semua pertanyaan yang berada di dalam otaknya. Lorong tampak kosong mengingat jam sudah menunjukkan makan siang, ia terus berjalan kearah ruangan Reyhan yang tidak tertutup sempurna. ‘Semoga Mas Reyhan belum makan siang’ pikir Aisyah.


Tangannya menggapai gagang pintu dan membukanya dengan lancar. “Assalamu’alaikum,” salam Aisyah, langkahnya terhenti di samping pintu saat melihat Reyhan tengah menatapnya terkejut. Di meja itu tersusun makanan yang tengah disantap Reyhan. Namun bukan itu yang menjadi fokus utama Aisyah, dia menatap perih ke arah Rere yang tengah memeluk tangan Reyhan sambil bersandar di bahunya. Rere tampak menutup mulutnya seakan berkata ‘Upps’ lalu melepaskan pelukan pada tangan Reyhan dengan cepat. “Astagfirullah Mas! Ini apa-apaan!” teriak Aisyah dengan tatapan menyakitkan. Dia tentu saja tidak bisa berpikir jernih bukan?

__ADS_1


Reyhan tampak berdiri dengan cepat, menghampiri Aisyah dengan wajah panik. “Kamu kemana disini? Kenapa gak bilang kalo mau kesini?” tanya Reyhan terkejut.


“Aku yang harusnya tanya kenapa Mas bisa berduaan sama dia. Mas tahu kan batasan pertemanan antar perempuan dan laki-laki dalam islam? Janganlah salah seorang di antara kalian berdua-duaan dengan perempuan kecuali ada mahram yang menyertainya! Kenapa juga Mas ijinin dia peluk tangan Mas kayak gitu?!” ucap Aisyah dengan kecewa, dia menoleh pada Rere yang tampak menikmati tontonan di depannya. Perasaan muak dan marah seketika menyelimuti hati Aisyah.


“Dengerin Mas dulu Aisyah, ini-“ ucapan Reyhan terhenti, dia pun bingung harus berkata apa. Semuanya terlalu jelas untuk mencari alasan untuk menangkalnya.

__ADS_1


Reyhan menghembuskan nafasnya kasar. Menatap Aisyah dengan rasa bersalah yang begitu besar. "Maaf Aisyah, tapi Mas gak bisa tinggalin Rere," lirih Reyhan pelan.


Aisyah menggelengkan kepalanya cepat. Matanya mulai berkaca, ia menatap Reyhan dengan penuh kekecewaan. "Gak bisa tinggalin? Jadi selama ini Mas ada main di belakang aku?" Aisyah kembali menggelengkan kepalanya. "Gak. Ini udah gak bener," lirih Aisyah pelan. Dia berbalik dan setengah berlari menuju lift, mengabaikan panggilan Reyhan. Hati nya terlalu sakit, selama ini ia berpikir Reyhan adalah suami yang sempurna, mampu membuatnya jatuh cinta dengan cepat, bahkan Ayah saja langsung mempercayai Aisyah pada Reyhan.


...🦋...

__ADS_1


Langit mulai menggelap dan Reyhan masih duduk di dalam mobil. Dia tidak siap masuk ke dalam rumahnya sendiri, Reyhan kini merasa sudah terlalu jahat pada Aisyah. Tidak seharusnya dia menyakiti Aisyah seperti ini. “Arghhhh!” Reyhan memukul stir mobil dengan kasar. Dia tidak ingin Aisyah tahu secepat ini, selanjutnya bagaimana dengan pernikahan mereka? Apakah Reyhan siap melihat dua keluarga yang kecewa padanya? Reyhan bisa saja membujuk Aisyah untuk memaafkannya, membuka pintu kesempatan dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi, namun disisi lain Reyhan tidak siap melepaskan Rere untuk kedua kalinya, terlalu banyak kenangan yang mereka lalui selama ini.


Reyhan memberanikan diri untuk turun dari mobil, membuka pintu rumah dan mengucapkan salam. Reyhan menghembuskan nafanya pelan, keadaan rumah tampak sepi, tidak ada sambutan hangat yang biasanya Aisyah lakukan. Reyhan melirik meja makan, sebuah piring dengan nasi di atasnya dan sebuah mangkuk kecil berisikan sup sudah tersedia di sana. Dia berjalan pelan kearah meja makan. Menaruh tas kerja dan meminum air putih terlebih dahulu.


__ADS_2