
Sudah satu minggu mereka di Jogja, kepulangan Reyhan dan Aisyah pun di sambut hangat oleh keluarga mereka. Reyhan menggenggam erat tangan Aisyah saat menuruni setiap anak tangga pesawat. "Masih ngantuk sayang?" tanya Reyhan dengan pelan.
Aisyah tersenyum lembut, ia menggelengkan kepalanya pelan. "Enggak kok Mas, tadi aku ketidurannya lama ya?" tanya Aisyah malu.
"Lama banget, 4 jam," kekeh Reyhan.
"Gak ada 4 jam, perjalanannya aja cuma 2 jam Mas," protes Aisyah. Reyhan yang merasa gemas pun mengusap pelan kepala Aisyah. Mereka berjalan sambil terus bergandengan tangan, menghampiri keluarga mereka yang sudah menunggu.
Hati Reyhan begitu tenang saat melihat senyum yang tampil di wajah kedua orang tuanya. Senyum yang tak akan pernah Reyhan lihat jika dirinya masih pada obsesinya sendiri tentang Rere. Reyhan bersyukur bisa disadarkan melalui mimpi, rumah tangganya bersama Aisyah kini semakin hangat. "Alhamdulillah, Mama senang lihat kalian makin mesra gini. Di sana enakan? Kalian liburan, enggak usah mikirin pekerjaan," kekeh Hana.
Umi yang mendengar itu pun tertawa kecil, "Mama kamu itu pengen cepat-cepat punya cucu Rey, jadi semangat banget beliin tiket bulan madu dadakan," goda Umi.
Aisyah yang mendengar itu pun langsung menunduk malu, ia tersenyum kearah Umi dan Hana. "Bantu doa-in ya Umi, Mama. Semoga Aisyah cepet dikasih kepercayaan," ucap Aisyah lembut.
Setelah perbincangan kecil lainnya mereka pun pulang ke rumah Reyhan dan Aisyah. Beberapa oleh-oleh mulai dibagikan dan tak lupa juga mereka memperlihatkan foto-foto yang mereka ambil di Jogja. Diam-diam Hana tersenyum kearah suaminya, ya begitu senang melihat perubahan sikap Reyhan yang menjadi lebih hangat pada Aisyah. Semoga setelah ini tidak ada lagi laporan yang Nur berikan tentang rumah tangga Aisyah dan Reyhan.
2 jam kemudian merekapun mulai pulang, kini hanya ada Aisyah dan Reyhan. "Mbak, ini oleh-oleh dari kita ya, ada buat anak-anak Mbak juga," ucap Aisyah sambil memberikan sebuah paper bag pada Mbak Nur.
__ADS_1
"Alhamdulillah bu, pak makasih banyak," ucap Mbak Nur yang langsung diangguki oleh Aisyah dan Reyhan.
Tak berapa lama ketukan pintu mulai terdengar, Reyhan mengerutkan keningnya samar. "Kayaknya mama, ada barang yang ketinggalan deh," gumam Reyhan.
Baru saja Aisyah akan berdiri, Mbak Nur terlebih dahulu melewati membukakan pintu. "Maaf, boleh ketemu Reyhan?" Suara perempuan itu membuat Reyhan terdiam, begitu pula dengan Aisyah, ada rasa sesak yang kembali hadir di dalam lubuk hatinya. Aisyah sudah tahu suara milik siapa itu.
Rere masuk ke dalam rumah dengan raut wajah sedih, menatap Reyhan dengan penuh amarah dan kekecewaan. "Boleh kita ngobrol sebentar?" Tanya Rere.
Aisyah menundukkan wajahnya, menelan rasa pahit yang sudah siap ia terima kembali. "Aisyah ke kamar duluan ya Mas," gumam Aisyah begitu pelan.
Dengan cepat Reyhan menahan pergelangan tangan Aisyah yang sudah siap pergi, "Jangan pergi, temenin Mas. Kita bicarain ini sampai semuanya beres," ucap Reyhan dengan lembut, perlahan ibu jari Reyhan mulai bergerak mengusap punggung tangan Aisyah, mencoba meyakinkan Aisyah jika semuanya akan baik-baik saja.
Mereka pun mulai duduk di sofa. Rere duduk di hadapan Reyhan, dan Aisyah di samping Reyhan tak melepaskan genggaman tangan mereka. "Kebiasaan banget sih, kamu putusin aku secara sepihak lagi, dan dengan cara yang sama lagi. Setelah kamu bosen sama aku, kamu akhiri hubungan ini terus blokir semua sosial media aku." Rere menatap penuh kebencian pada Reyhan. "Kamu bener-bener mau ngelepasin aku?" Tanya Rere serius.
Perlahan Aisyah mengangkat pandangannya menatap Reyhan, ia ingin mendengar jawaban Reyhan. Reyhan menganggukan kepalanya dengan pasti, semakin menggenggam tangan Aisyah dengan erat. "Sebelumnya aku minta maaf sama kamu atas keegoisan aku, tapi aku udah memutuskan untuk bersama Aisyah, aku mencintai istriku dan aku ingin mengakhiri hubungan kita yang salah ini."
Rasa hangat menjalar di hati Aisyah, bibir tersenyum dibalik cadar yang menutupinya. Dalam diam Aisyah mengucap rasa syukur yang begitu dalam. Rere tak terlihat memberontak, ia hanya menganggukkan kepalanya kecil sambil kembali menatap Reyhan dengan perih. "Kalau emang itu pilihan kamu, aku enggak bisa maksa kamu lagi. Aku sendiri udah capek sama hubungan yang kayak gini terus. Dan untuk kamu Aisyah, maaf aku udah hadir dan mengganggu keluarga kecil kamu, maaf sebagai sesama perempuan aku nggak menghargai perasaan kamu."
__ADS_1
Aisyah mendengar itu cukup terkejut, ia menatap Rere dengan tak percaya. Namun tak berapa lama Aisyah pun tersenyum sambil menganggukkan kepalanya, "Alhamdulillah, aku maafin kamu Rere, makasih udah mengiklaskan Mas Reyhan," ucap Aisyah.
Tak hanya Aisyah yang terkejut, Reyhan lebih terkejut mendengar itu semua. Senyumnya sedikit mengembang walaupun terlihat kaku, jemari Reyhan mengusap pelan punggung tangan Aisyah sambil lemparkan senyum pada Rere. "Alhamdulillah Re, aku benar-benar minta maaf, aku yakin ada laki-laki yang lebih baik dan lebih pantas mendapatkan kamu."
Rere berusaha sebisa mungkin menahan tangisnya, ia tersenyum kecil. "Aku cuma pingin dengar penegasan kamu, dan sekarang aku udah tahu jawabannya. Maaf udah mengganggu waktu kalian, aku pulang dulu," ucap Rere, ia langsung berdiri dan berjalan cepat menuju pintu keluar, hatinya begitu sakit seakan diremas. Rupanya mengikhlaskan benar-benar sebuah pengorbanan yang besar.
"Rere," panggil Reyhan. Langkah Rere pun berhenti dan menoleh kebelakang. "Makasih banyak," lanjut Reyhan. Rere hanya tersenyum dan menganggukkan kepalanya, lanjutkan kembali langkahnya dan berjalan masuk kedalam mobil berwarna hitam.
Di dalam mobil tangisnya pecah seketika, sebuah tangan terulur dengan lembut mengusap bahu Rere. "Lo perempuan yang kuat Re, jangan nangis gini dong," ucap Evan. Suasana begitu terasa sedih dan hening.
Rere yang masih terisak pun menoleh kearah Evan. "Thanks ya Van, udah nyadarin gue," lirih Rere, ia mencoba tersenyum di tengah tangisnya. "Lo benar, gue terlalu berharga buat jadi simpanan suami orang," kekehnya pilu.
"Re, lo cantik, gue yakin cowok yang lebih dari Reyhan bisa lo dapetin. Udah ya sedihnya, kita ikhlasin orang yang udah nemuin kebahagiaannya. Lo harus jadi Rere yang dulu, semangat berkarir dan gak gila sama cinta," ucap Evan menyemangati.
Sementara di dalam rumah, Reyhan memeluk Aisyah dengan begitu hangat. Mencium kening Aisyah, dan menatap kedua mata itu dengan dalam. "Sekarang, fokus Mas cuma kamu, makasih udah mau sabar selama ini, makasih udah mau bertahan sejauh ini," ucap Reyhan dengan suara yang sedikit bergetar.
"InsyaAllah Aisyah selalu bertahan, tolong terus jadi Mas Reyhan yang seperti ini ya Mas," jawab Aisyah lembut, senyum indah yang tulus terlihat di garis matanya.
__ADS_1
๐ฆ
Kaget banget ada yang komen cerita bodoh ๐ maaf ya guys, tapi langsung skip aja kalo misalnya cerita aku gak sesuai sama selera kalian๐