
Tidak ingin membuat waktu lebih lama lagi akhirnya Reyhan pergi melewati Dewi, dia masuk dengan sebuah parcel buah yang baru saja dia beli ditangannya. Seketika langkah kaki Reyhan berhenti saat melihat Rere tengah berbaring di atas ranjang rumah sakit, tubuhnya lebih kurus dari terakhir kali yang dia lihat, wajahnya tampak pucat dengan mata sayu. Tubuh wanita itu benar-benar lemah, seakan sudah kehabisan semangat untuk kembali beraktivitas, hati Reyhan begitu sakit melihat semua ini, ada apa sedang Rere sebenarnya? "Astagfirullah, Rere." Reyhan tak mampu menahan diri, dia berjalan mendekat, menaruh parcel buah dimeja dan duduk disebuah kursi samping ranjang.
"Rey," terdengar suara yang begitu pelan keluar dari mulut Rere. Matanya mulai berkaca saat melihat Reyhan panik berada di sampingnya, tidak ada pelukan seperti biasa, bahkan tangannya pun tidak disentuh sama sekali oleh Reyhan. Di benar-benar merindukan Reyhan yang dulu, rasa menyesal dan terpukul kembali menyesakan hati Rere. Dia sudah bodoh melepaskan laki-laki seperti Reyhan, mengapa bisa semua ini terjadi? mengapa harus Rere mengalami semua ini? sungguh tidak adil.
__ADS_1
Reyhan mencoba tegar, dia tidak boleh lemah dan harus mengingat jika dirinya sudah menjadi seorang suami bagi Aisyah, ada hati yang harus dia jaga. Reyhan mengepalkan tangannya kuat, menahan diri adalah sesuatu yang sulit untuk dilakukan, namun dia tetap mencoba untuk tersenyum kecil dengan raut wajah penuh kekhawatiran. "Re, kenapa bisa sakit gini? Sehat ya, balik lagi jadi Rere yang dulu, ceria lagi." Entah mengapa kata-kata itu meluncur, kata-kata penyemangat yang biasanya selalu dia berikan pada Rere. Mata nya seketika membulat saat melihat Rere bergetar, air mata mengalir membasahi pipinya. "Eh, Re. Kenapa nangis?" tanya Reyhan panik, tangan Rere menutupi wajahnya sendiri, tubuhnya semakin bergetar ditambah lagi dengan suara isak tangis yang terdengar memilukan ditelinga Reyhan.
"Aku belum siap buat kehilangan kamu Rey!" Isaknya dengan suara parau, Reyhan menghela nafasnya, dia tidak kuat melihat Rere seperti ini, dia tidak bisa membiarkan Rere tersakiti seperti ini, tidak pernah bisa sampai kapan pun melihat Rere menangis apalagi semua ini karena dirinya. Dengan ragu Reyhan berdiri, tangannya terulur pada kepala Rere lalu mengelus pelan layaknya seperti dulu saat Rere bersedih. "Aku masih sayang kamu Rey," gumam Rere pelan. Lagi-lagi isakan itu membuat hati Reyhan melemah, hatinya menjadi goyah, rasa sayangnya pada Rere belum hilang sepenuhnya, bahkan mungkin masih tersisa begitu banyak.
__ADS_1
Reyhan menarik nafasnya pelan, menepuk punggung Rere dengan lembut seakan memberikan penenang. "Apa gak ada kesempatan buat aku?" Tanya Rere, suara isakan itu kini seakan meninggi. Perempuan itu sedang mengeluarkan semua rasa sakitnya, segala rasa perih yang ia tanggung.
"Maaf, Re," sahut Reyhan pelan. Dari empat orang yang ada diruangan, tak ada satupun yang bersuara, hanya isak tangis Rere yang menambah pilu.
__ADS_1