
Hari pernikahannya besok dan Reyhan masih tetap bekerja. Walau Mama dan papa nya melarang, Reyhan tetap memaksakan diri untuk bekerja. Entah mengapa hatinya semakin ragu dan tak tenang setiap harinya. Dua menjadi tak siap untuk menikah, ada perasaan tak yakin dengan apa yang sudah dia putuskan.
'Brak'
Sedikit terkejut dengan suara pintu yang dibuka dengan begitu kencang, Reyhan langsung menatap seorang perempuan yang sedang berjalan masuk ke dalam ruangannya. Wajah yang dia rindukan, wajah yang yang tak mampu dia lepas dan wajah yang sudah menemani hari-hari nya selama ini, matanya terlihat sembab dan masih menangis. "Rere," ucap Reyhan terkejut.
"Kamu tega?! Kamu tega putusin aku sepihak dan blokir semua sosmed aku? Ini cara kamu ngasih konsekuensi nya?" Rere tak percaya, dia tengah sibuk dengan karirnya dan mendapatkan surat undangan pernikahan yang dikirim kekasihnya sendiri. Hatinya benar-benar hancur dan sakit seketika.
__ADS_1
"Bukannya kamu pulang lusa?" tanya Reyhan tanpa menjawab pertanyaan Rere.
"Aku maksain pulang, hati aku gak tenang. Kamu bener-bener jahat ya."
"Re?" Reyhan tidak mampu berkata, ia sendiri bingung dengan keputusannya. Ia ingin menghentikan ini semua, memulai jalan hidup baru dengan Aisyah dan tak ingin tersesat kembali pada istilah pacaran.
"Puas kamu ngancurin aku? Karir aku sekarang udah ancur, hati aku juga udah hancur. Semua gara-gara kamu. Apa sih yang kamu mau? Nikah? Kamu bisa ajak aku, gak harus sama orang lain."
__ADS_1
Rere menarik rambutnya sendiri kebelakang dengan putus asa. "Kenapa kamu gak bilang dijodohin? Mungkin waktu itu aku akan maksain saran dari kamu. Kenapa gak langsung terbuka aja sih?"
Reyhan menggelengkan kepalanya. "Aku gak bisa Re. Aku mau ngeyakinin hati aku sendiri, dan jawaban kamu semakin ngeyakinkan aku buat pergi." Reyhan terdiam. Ia melanjutkan ucapannya. "Aku sadar gak bisa ngasih kebahagiaan buat kamu. Aku cuma berharap kamu dapat laki-laki yang selalu support kamu dan ngebahagiain kamu. Aku sadar aku terlalu nuntut kamu untuk ini itu, kamu gak bisa jadi diri kamu sendiri kalo sama aku. Dan ini pilihan terbaik untuk kita, aku mau ngebahagia-in orang tua dan kamu bisa kejar karir kamu." Rere menggelengkan kepalanya.
"Kamu yakin sama ucapan kamu sendiri?" Reyhan terdiam. Apa ia yakin dengan ucapannya? Ia sendiri masih bingung.
"Aku sayang sama kamu Re. Dan aku yakin kamu bisa bahagia dengan pria lain." Kata-kata itu meluncur begitu saja. Reyhan benar-benar kacau, ia tak menjadi dirinya sendiri. Di satu sisi ia mengikhlaskan Rere, dan disatu sisi ia meragukan pernikahannya.
__ADS_1
Rere berdiri di samping Reyhan yang masih duduk dikursi kerjanya. Sedikit memejamkan mata, Reyhan ikut berdiri mensejajarkan tubuh mereka. "Tatap aku dan bilang kamu mau akhiri hubungan kita," tantang Rere dengan suara sedikit bergetar. Wajah Reyhan terlihat biasa saja, padahal isinya tengah gelisah luar biasa.
"Rere, aku mau hubungan kita sampai disini." Rere tersenyum kecil, ia menggigit bibir bawahnya, hatinya kini benar-benar sakit.