
Senyum Maura tampak lain, perempuan itu mengelus bahu Aisyah. “Mau cerita? Siapa tahu aku bisa bantu," tawar Maura dengan lembut, sorot matanya begitu teduh dan seakan membujuk Aisyah untuk menceritakan permasalahan yang sedang dia hadapi.
“Enggak kok kak, Alhamdulillah Aisyah baik baik saja. Cuma sedikit kerasa gak enak badan," jawab Aisyah berbohong, dia tidak mungkin menceritakan masalah suaminya sendiri bukan?
“Udah minum obat?” Aisyah menggelengkan kepalanya.
“Belum kak, nanti pulang dari sini.”
__ADS_1
“Ya udah, kita duduk di sana yuk, pegel juga lama lama berdiri,” kekeh Maura. Mereka berjalan pada teras Masjid di samping mading, tempat paling nyaman yang berhadapan langsung dengan taman kecil di masjid ini.
Maura dan Aisyah terdiam menatap taman kecil, rasanya begitu sejuk padahal cuaca di luar begitu cerah. Maura menoleh kearah Aisyah, “Nunggu di jemput suami?” tanya Maura pelan.
Aisyah menggelengkan kepalanya. “Enggak, nunggu Zahra kak.” Terlihat Maura menganggukkan kepalanya mengerti, “Umm kak, Aisyah lihat kakak sama kak Yusuf manis banget, dari awal pernikahan?” tanya Aisyah.
Maura tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. “Dari awal pernikahan Yusuf emang sosok yang perhatian dan Alhamdulillah semenjak aku hamil Yusuf jadi semakin perhatian bahkan bawa aku kesetiap kajian yang mau dia urusi,” jawab Maura. “Kalo suami kamu? Pasti dia bersyukur banget dapet istri secantik kamu,” kekeh Maura.
__ADS_1
“Ya bagus dong, lebih baik sibuk sama pekerjaan dari pada sibuk sama perempuan lain.” Ucapan Maura membuat Aisyah menolah, hatinya sedikit ngilu mendengar itu, Reyhan sibuk dengan perempuan lain, bahkan rumah tangga mereka bagaikan hanya Aisyah seorang diri. Reyhan tidak pernah memakan masakannya lagi, ia menjadi lebih dingin dari biasanya.
“Umm, kalo gak salah kakak udah nikah dari dua tahun yang lalu ya? Kalo boleh tahu selama dua tahun itu pernah ada masalah gak sih?” tanya Aisyah pelan.
“Mungkin masalah kecil ada, tapi kita berdua bisa atasi itu.”
“Kalau dalam pernikahan mulai ada seseorang dari masalalu pasangan kita yang hadir gimana?” tanya Aisyah kini menatap Maura lekat, ia ingin mendapatkan jawaban, jika sabar tidak juga membuat Reyhan sadar, ia harus memiliki tindakan.
__ADS_1
Maura tersenyum kecil, ia menyapu halus lengan Aisyah. “Itu cobaan Aisyah, memang berat, tapi kamu harus sabar dan tetap di sisi suami kamu, mau aku ceritain tentang cinta aku ke Yusuf? Aku aja sampai hari ini masih gak percaya bisa sama kak Yusuf sekarang.”
Aisyah mengangguk cepat. “Gini, dulu, awal ketemu Yusuf di kampus, tepat setelah aku putus sama mantan yang dulu, semenjak itu aku jadi deket sama Yusuf. Dia orangnya gak pernah modus, selalu ngasih saran ke siapapun yang cerita sama dia, sampai satu tahun deket sama Yusuf aku mulai sadar kalo aku cinta sama dia, selain kita berbeda agama, Yusuf juga sering bilang kalau setelah lulus nanti dia akan menjemput seorang perempuan di pasantren, yaitu kamu Aisyah,” ucap Maura, membuat Aisyah terdiam, bagai kaset rusak yang kembali berputar, Aisyah teringat saat Yusuf memberikan sebuah puisi dalam kertas, puisi yang berisikan tentang taaruf dan karena terlalu lama ia manjawab, Aisyah mendengar kabar kepergian Yusuf ke Bandung, ia menerima beasiswa untuk S1 dan tinggal bersama seorang dosen di sana.