
Dengan lembut Reyhan menarik tangannya, kini Reyhan yang menggenggam tangan Aisyah. Ia memaksakan senyumnya untuk mengembang dengan segala rasa bersalah yang melanda di dalam dirinya. ‘Hari ini ia menggenggam dua tangan perempuan yang berbada.’ batin Reyhan meringis. “Iya Aisyah, makasih udah ngingetin mas terus,” ucap Reyhan.
“Udah kewajiban istri mas, gak usah bilang makasih,” kata Aisyah dengan sedikit tawa diakhir kalimatnya. “Mas mau mandi air anget? Biar Aisyah siapin dulu.” Dengan cepat Reyhan menggelengkan kepalanya.
“Gak usah, mas mandi air dingin aja biar seger. Biar Capeknya ilang.” Tampak ragu terlihat diwajah Aisyah, ia mengigit bibir dalamnya sendiri. “Kenapa?” Tanya Reyhan yang menebak gerak gerik Aisyah.
“Emm, beres mas mandi, Aisyah mau ngobrol sebentar boleh?” tanyanya pelan.
“Sekarang kita lagi ngobrol, kenapa gak sekarang aja Aisyah?” Lagi-lagi Aisyah tampak ragu dan tidak enak.
__ADS_1
“Nanti aja deh waktu mas udah gak capek.” Aisyah berdiri terlebih dahulu, mengambil tas kantor Reyhan dan berjalan berjalan Reyhan menuju kamar mereka.
Reyhan masuk ke dalam kamar mandi, menaruh pakaiannya kedalam keranjang pakaian kotor. Ia mencuci wajahnya terlebih dahulu, pikirannya lagi-lagi beradu dengan apa yang akan Aisyah tanyakan, apakah Aisyah mencurigainya? Apakah Aisyah akan menanyakan siapa teman Reyhan yang sakit? Reyhan menggelengkan kepalanya, mencoba untuk berpikir positif. Air dingin yang membasahi tubuh seakan mengangkat rasa lelah dan mencerahkan pikirannya, walau tidak sepenuhnya mengangkat rasa lelah tetapi cukup membuat Reyhan merasa baik.
...🦋...
Aisyah menyiapkan pakaian tidur Reyhan, melepaskan kerudungnya dan mengganti pakaiannya. Ia akan meminta ijin pada Reyhan mengenai undangan untuk menjadi pembawa acara, Aisyah ingin menceritakan juga tentang segala pengalamannya selama di Kairo. Selama pernikahan mereka, belum banyak yang mereka tahu satu sama lain, dan Aisyah ingin malam iini mereka menceritakan kehidupan mereka satu sama lain, ingin lebih mengenal sosok suaminya lebih dalam, apa yang tidak disukai Reyhan dan apa yang paling disukai Reyhan.
“Aisyah sebenarnya cuma mau minta ijin sama mas, hari minggu Aisyah diundang jadi pembawa acara dikajian Masjid Agung,” ujar Aisyah lembut.
__ADS_1
Sorot mata Reyhan tampak sedikit terkejut dan tak percaya. “Kamu bisa jadi pembawa acara?” Tanya Reyhan. Aisyah menganggukkan kepalanya dengan antusias.
“Alhamdulillah bisa mas, waktu jaman kuliah dan sebulan di Bandung juga Aisyah suka diundang sama Zahra, dia aktif dikegiatan islami.”
“Emm, Mas ijinin, kalo boleh tahu dari jam berapa ya Aisyah?”
“Jam delapan sampai jam dua belas mas.”
“Khusus perempuan?” Tanya Reyhan kembali.
__ADS_1
Aisyah tampak menggelengkan kepalanya, “Untuk umum kok Mas, Ikhwan dan Akhwat bisa ikut kajiannya. Nanti disana ada hijab atau pembatas antara tempat Ikhwan dan Akhwat,” jelas Aisyah. “Mas mau ikut?”
Reyhan menyentuh tekuknya pelan, mimik wajahnya pun terlihat ragu. “InsyaAllah, mas ikut nanti minggu, tapi Ikhwan dan Akhwat itu apa ya Aisyah?” Tanya Reyhan malu, sedari dulu ia memang selalu sibuk, bahkan semasa kuliahnya ia mengikuti UKM sekaligus BEM, Reyhan pernah mendengar kata-kata itu dari anggota UKM Remaja Masjid, namun tidak tahu artinya.