Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 66 : Hanya Bunga Tidur


__ADS_3

Reyhan membuka matanya dengan cepat, ia menatap langit-langit kamar berwarna putih, matanya mengerjap beberapa kali. Dimana ia sekarang? Reyhan terdiam, desiran halus dihatinya begitu terasa, keringat dingin dan deru nafas tak beraturan menjadi bukti kepanikannya. Rasa sesak itu masih ada, dengan cepat ia menoleh kearah suara isakan tangis yang begitu kecil. Disana, Aisyah tengah berdiri menatap pemandangan pantai yang tampak indah, langit sudah merubah warna, senja itu menjadikan siluet bagi Aisyah.


Apa semua ini mimpi? masih adakah kesempatan bagi Reyhan untuk bersama Aisyah? Reyhan tak ingin merasakan kehilangan lagi, ia pun bangkin dan berjalan dengan tergesa kearah balkon. "Aisyah," panggilan pelan Reyhan membuat Aisyah menoleh, wajah cantik itu seakan menyentuh hatinya, terlihat jelas mata sembab itu sehabis menangis.


Baru saja Aisyah hendak membuka mulutnya, dengan cepat Reyhan memeluk erat tubuh Aisyah, menghidup dalam wangis parfum Aisyah yang lembut. "Jangan tinggalin aku, Aisyah," bisik Reyhan, setitik air mata mulai berjatuh di pipi Reyhan, ia tidak ingin kehilangan Aisyah, sosok bidadari surga dunianya.


"Mas," panggil Aisyah pelan, ia sedikit bingung dengan sikap Reyhan yang begitu tiba-tiba, bukan kah baru saja Reyhan terdengar begitu bahagia bersama Rere? mengabaikan permintaan Aisyah untuk ke pantai?


Reyhan mengangkat wajahnya, Aisyah cukup terkejut melihat kedua bola mata Reyhan yang berkaca. "Maafin mas ya Aisyah, mas sayang sama kamu," ucap Reyhan dengan bersungguh-sungguh.


"Mas kenapa?" hanya itu yang mampu Aisyah ucapkan, ia benar-benar tak mengerti dengan ini semua, selama diperjalanan dari Bandung Reyhan tak pernah mengajaknya berbincang sedikit pun, bahkan dengan terang-terangan Reyhan menghubungi Rere tanpa memperdulikan perasaan Aisyah.


"Mas baru sadar kalo Mas gak mau kehilangan kamu," jawab Reyhan cepat. Tentu saja kalimat itu membuat Aisyah sedikit terkejut dan senang dalam bersamaan. Reyhan terlihat mengalihkan pandangannya pada pantai, "Ini hari pertama kita di Jogja kan?" tanya Reyhan.


Aisyah menganggukkan kepalanya dengan perlahan. "Iya Mas, kita baru nyampe Jogja, Mas lupa?" tanya Aisyah semakin bingung.

__ADS_1


"Udah ke pantai?" tanya Reyhan dengan cepat, ia ingat saat di mimpi itu ia bertanya seperti ini bukan?


"Gak jadi Mas, nanti aja, aku gak semangat," gumam Aisyah pelan.


"Kalo Mas ajak sekarang mau?" tawar Reyhan.


Aisyah masih tak mengerti dengan perubahan sikap yang Reyhan tunjukan, Reyhan berubah 100% "Mas bukannya capek?"


"Udah enggak, gak ada lagi kata capek buat nemenin kamu."


Reyhan hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, ia meraih tangan Aisyah untuk berjalan keluar dari kamar.


Saat keduanya sudah menginjakkan kaki di atas pasir pantai, pandangan mereka tertuju pada langit senja yang begitu indah, hembusan angin dan suara ombak terasa membuat hati mereka tenang. Aisyah menoleh pelan kearah Reyhan, menatap wajah itu dari samping. "Kenapa?" tanya Reyhan yang tiba-tiba menoleh kearah Aisyah membuat wajah itu bersemu merah.


"Aisyah masih bingung aja kenapa Mas tiba-tiba berubah," gumam Aisyah.

__ADS_1


"Mau aku ceritain?" tanya Reyhan. Dengan cepat Aisyah pun menganggukkan kepalanya. "Kita duduk disana." Reyhan menunjuk sebuah kursi pantai yang kosong, sebelum duduk, Reyhan memesan dua kelapa untuk mereka.


Keduanya pun duduk dan menikmati pemandangan indah itu sambil sesekali melihat orang-orang yang melintas di depan mereka. "Mas mau cerita apa?" tanya Aisyah.


"Mas mimpi kamu hamil," jawab Reyhan pelan.


Aisyah terdiam cukup lama, menunggu kelanjutan cerita yang tak kunjung Reyhan ucapkan. "Mimpi itu aja?" tanya Aisyah bingung. "Maaf ya Mas sampe saat ini Aisyah belum hamil seperti di mimpi Mas."


Reyhan mengembangkan senyumnya, lalu menggelengkan kepalanya lemah. "Emang belum waktunya aja sayang, Allah tahu kemarin aku belum pantes jadi seorang ayah," jawab Reyhan. Kata 'sayang' yang dilontarkan Reyhan cukup membuat Aisyah berdebar, kata manis yang sudah lama tak Aisyah dengar kini terdengar kembali. "Kamu masih terima aku buat perbaiki rumah tangga ini kan?" tanya Reyhan tiba-tiba.


Aisyah menganggukkan kepalanya dengan cepat, ia senyum dengan penuh haru di hati nya. "Tapi gimana Rere? aku gak mau kalo-"


"Aku udah lepasin Rere, sekarang cuma kamu perempuan yang ada di hati aku Aisyah."


Aisyah memang senang, bahkan luar biasa senang. Namun masih ada keraguan didalam hatinya. "Tapi tadi kamu teleponan sama dia Mas," ucap Aisyah hati-hati.

__ADS_1


"Itu telepon perpisahan, aku janji gak akan ada lagi Rere atau perempuan lagi yang ganggu rumah tangga kita," ucap Reyhan bersungguh-sungguh, ini adalah kesempatan yang Reyhan dapatkan, tentu saja Reyhan harus menjaga kesempatan ini dengan sangat baik.


__ADS_2