
Sesampainya di rumah baru mereka yang terlihat nyaman, Aisyah dan Reyhan keluar dari dalam mobil. Rumah ini memiliki ciri khas berwarna putih karena memang hampir semuanya berwarna putih, mulai dari tembok bahkan pagarnya pun berwarna putih.
Halaman yang berukuran lumayan luas membuat Aisyah tidak sabar untuk segera menambah beberapa tanaman hias untuk menambah warna rumah ini. "Aisyah bantu bawa ya Mas," ujar Aisyah saat Reyhan mengeluarkan beberapa barang mereka dari dalam mobil.
"Bawa yang kecil aja ya Aisyah, biar aku yang bawa barang beratnya," jawab Reyhan.
Aisyah yang mendengar itu langsung tersenyum, dia bergegas mendekati Reyhan. "Iya Mas." Dengan semangat Aisyah mulai membantu, dengan dibimbing Reyhan mereka memasuki rumah baru mereka yang sudah tampak rapi dan nyaman.
__ADS_1
"Kamar kita diatas. Langsung beres-beres barang atau mau istirahat?" Tanya Reyhan, tumpukan barang sudah tersusun diruang keluarga.
"Langsung beres-beres aja Mas, udah itu kamu istirahat, aku siapin makanan buat malem."
Reyhan menggelengkan kepalanya, "Masa aku istirahat kamu enggak? Aku bantu kamu masak ya." Mata Aisyah seketika menatap Reyhan dengan geli.
"Emang Mas bisa masak?" Tanyanya dengan hati-hati walau tak menyembunyikan nada tertawa yang kecil dibalik ucapannya.
__ADS_1
Koper dan tas pakaian terlebih dahulu Reyhan bawa kedalam kamar mereka, sedangkan Aisyah membuka kotak kardus besar yang berisikan beberapa hadiah pernikahan. Aisyah menyimpan beberapa pajangan lucu di ruang keluarga, dan menjajarkan foto pernikahan diatas meja. Terdapat tiga bingkai foto yang satu di antaranya berukuran sangat besar. "Ini mau di simpen dimana aja Mas?" Tanya Aisyah saat Reyhan sudah turun dan duduk di sofa.
"Kayaknya yang paling besar kita pajang disana." Reyhan menunjuk dinding polos yang ada diatas televisi lebar itu. Aisyah pun setuju dan menganggukan kepalanya. "Dua lagi, di ruangan keluarga sama di kamar. Gimana?"
"Cocok Mas, setuju." Reyhan tersenyum dan kembali berdiri. Mengamati dinding yang akan ia gantungi bingkai foto pernikahan mereka.
"Aku ambil paku dulu ya, kamu tunggu disini." Reyhan segera berlari menuju gudang, mencari peralatan perkakas yang entah tersedia atau tidak. Setelah dicari, ruangan gudang pun masih rapi, hanya ada beberapa rak yang disediakan. Reyhan terdiam sesaat, ia pernah berpesan, jika ia ingin semuanya benar-benar selesai, mulai dari perabotan, perlengkapan dapur dan alat-alat kecil seperti perkakas, P3K bahkan peralatan mandi.
__ADS_1
Tak menunggu lama, Reyhan menghembuskan nafas leganya, ternyata perkakas tersimpan rapi di garasi mobil, sebuat mesin kecil untuk memasang paku tanpa harus membawa palu atau benda berat lainnya, membuat Reyhan segera berjalan cepat kembali menghampiri Aisyah. "Ada. Nanti kamu bantuin angkat fotonya ya, sayang." Semburat merah halus terlihat diwajah Aisyah, memang terkadang Reyhan memanggilnya sayang, namun hanya beberapa kali dan sukses membuatnya malu.
"Iya Mas. Hati-hati," pesan Aisyah. Reyhan dengan cekatan mencolokan kabel didinding dekat televisi lalu menaiki kursi tinggi yang ia tarik mendekari dinding. Memasang paku dengan alat yang lumayan berat itu, dan mengecek apakah paku terpasang dengan aman atau tidak. Setelah dirasa cukup aman, Aisyah memberikan bingkai foto itu dengan hati-hati, dan Reyhan memasangnya dengan pas, memastikan tidak miring sedikit pun.