Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 33 : Berkumpul


__ADS_3

Keesokan harinya Reyhan mengantarkan Aisyah ke masjid Agung, dia memarkirkan mobil nya di halaman masjid yang tampak begitu luas. Hari ini Aisyah memakai sebuah gamis berwarna mocca dengan cadar hitam yang tampak selalu cocok untuk Aisyah. "Nanti siang mas jemput ya, semangat buat hari ini, maaf mas gak bisa ikut kajiannya," ucap Reyhan sambil tersenyum kecil dan melihat Aisyah yang langsung menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Gak apa-apa mas, lain kali saja, mas hati-hati di jalan ya. Titip salam buat temen mas yang baru sembuh. Aku turun ya mas, Assalamu'alaikum." Aisyah mencium punggung tangan Reyhan dengan lembut.


"Wa'alaikumsalam, kalo ada apa-apa kabarin Mas," ujar Reyhan lembut. Reyhan salut, Aisyah masih bisa tersenyum saat ia tiba-tiba membatalkan janji untuk mengikuti kajian, memberikan alasan untuk menjemput temannya yang akan pulang dari rumah sakit.


Tak lama kemudian Aisyah turun dari mobil dan menunggu Reyhan untuk pergi, kaca jendela mobil Reyhan terluka, suaminya melambaikan tangan saat mobil sudah mulai bergerak. Aisyah pun membalas lambaian tangan Reyhan dengan senyum yang mengembang.

__ADS_1


Setelah melihat mobil Reyhan pergi, Aisyah berjalan menuju masjid, di teras masjid sudah terlihat ada beberapa remaja yang tengah berkumpul dengan teman-teman mereka, ada pula yang sedang membaca buku, mendengarkan Murottal dan lain sebagainya. Tak jauh dari saja terlihat Zahra sedang melambaikan tangannya di dekat pilar paling ujung menuju tempat Wudhu, membuat Aisyah langsung tersenyum dan berjalan dengan cepat kearah Zahra. "Assalamu'alaikum ibu Reyhan," ujar Zahra dengan sedikit tertawa, tak pernah disangka memang, diantara mereka berempat selama berkuliah hanya Aisyah yang paling terlihat tidak pernah dekat dengan laki-laki, namun saat lulus justru Aisyah yang paling pertama menikah.


"Wa'alaikumsalam, masih aja ngejekin aku terus." Tawa renyah terdengar dari ucapan Aisyah, ia menggelengkan kepalanya dengan tingkah Zahra yang terkadang selalu menggodanya dengan sindiran-sindiran halus.


Mendengar itu Zahra langsung tertawa kecil, mengiring Aisyah untuk berjalan menuju mading masjid yang juga terdapat beberapa perempuan. "Gimana suami kamu? Pasti romantis terus ya?"


"Sebenernya, udah ada yang mengkhitbah aku Aisyah, tapi aku baru kenal sih, abi juga bilang dia calon imam yang baik," ujar Zahra dengan suara kecil. Aisyah dengan wajah terkejut melihat Zahra yang tengah tersenyum malu, senyum Aisyah mengembang, ini berita yang sangat membahagiakan.

__ADS_1


"Masya Allah, Zahra! Terus gimana? Kamu terima?"


Zahra mengangguk pelan, "Awalnya sempet aku gantung, aku minta waktu seminggu untuk memantapkan hati, sholat istikharah, dan Alhamdulillah aku ngerasa yakin." Zahra tersenyum malu kembali.


"Alhamdulillah, rencananya kapan tanggal pernikahan?" Tanya Aisyah.


"Insyaallah dua bulan lagi, dia kebagian di Rumah sakit kabupaten, dan dua bulan lagi mulai bisa menetap di RS kota. Katanya biar semua selesai dulu."

__ADS_1


Aisyah senang mendengarnya, percakapan mereka pun terhenti karena beberapa orang sudah menunggu di dekat mading, Zahra mengenalkan Aisyah pada semuanya, walau sudah pernah bertemu saat kajian bulan lalu, namun ada beberapa anggota juga yang sepertinya beru terlihat.


__ADS_2