Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 8 : Ragu


__ADS_3

Reyhan tersenyum pada keluarganya yang mulai berpamitan, rupanya seperti ini rasanya kehangatan pernikahan. Semua orang mendoakannya bahagia, sakinah mawadah warahmah, merasakan setiap cinta yang diberikan oleh setiap orang. "Kamu capek Aisyah?" tanya Reyhan lembut yang langsung dijawab gelengan kepala oleh Aisyah.


"Enggak kok Mas," jawab Aisyah dengan cepat.


"Aku masih ada yang harus di obrolin. Kamu duluan aja ke kamar ya, istirahat," bisik Reyhan pelan. Mendengar perintah itu, Aisyah mengangguk patuh, dia berpamitan pada semuanya dan terlebih dahulu sebelum masuk ke dalam kamar. Sedangkan Reyhan kembali duduk disofa sambil menatap Aisyah yang berjalan menaiki setiap anak tangga dengan hati-hati.

__ADS_1


Beberapa saudaranya yang lain pun sudah berpamitan pulang, kini tinggal kedua orangtua Reyhan dihadapannya. "Rey, sebenernya ada yang mau Papa bicarakan." Raut wajah Reyhan mulai memperlihatkan kebingungan dan penasaran. Beberapa pertanyaan memenuhi pikirannya. "Papa lihat saat acara tadi kamu kurang fokus, mata kamu mencari seseorang." Reyhan terdiam, tidak ada kata yang keluar dari mulutnya, bingung dengan apa yang harus dia jawab. Apa sejujur itu sikapnya tadi?


"Mama juga tadi liat Rey. Mama mohon, pernikahan ini adalah keputusan kamu sendiri. Ikhlaskan hati dan lupakan perempuan lain, istri kamu juga perlu kamu perhatikan," ujar Hana pelan, walaupun Aisyah sudah masuk ke dalam kamar namun dia pun tetap tidak ingin jika sampai Aisyah mendengar permasalahan ini.


Reyhan semakin dia tak bisa menjawab, dia tahu siapa perempuan yang dimaksud oleh Hana, dia kembali merenung dengan pikirannya sendiri. Reyhan pun sebenarnya ingin menikmati acara pernikahannya, namun hati dan pikiran memberontak, ada sesuatu yang salah. Reyhan mengangkat wajahnya, "Rey ikhlas dan udah coba buat ngelupain Rere. Tadi Rey cuma cari Evan, temen kuliah Rey," dusta Reyhan. Helaan nafas lega terdengar dari kedua orangtuanya. Membuat Reyhan sedikit meringis, ia mendustai kedua orangtua dan dirinya sendiri.

__ADS_1


Setelah beberapa pesan yang disampaikan untuk Reyhan sudah selesai, mereka bertiga berdiri. "Sekarang kita semua istirahat. Ini udah malam, kasian Aisyah udah nunggu." Ujar papa. Reyhan lagi-lagi hanya mengangguk, ia menjadi sangat ragu saat mengingat kini tidurnya akan bersebelahan dengan seorang perempuan, yaitu istrinya.


Kedua orangtuanya terlebih dahulu pergi kedalam kamar mereka. Kini Reyhan bingung harus bagaimana bertemu Aisyah nanti. Reyhan berjalan kearah dapur, mengambil segelas air putih untuk Aisyah. Ia mulai menaiki anak tangga satu persatu hingga mengiringnya sampai kesebuah pintu kamar. Reyhan mengetuk pelan pintu kamarnya, membuka pelan sambil mengucapkan salam.


Terdengar suara jawaban salam yang lembut dari Aisyah. Sebelum menutup kembali pintu kamar, Reyhan sempat melirik sekilas kearah Aisyah yang sudah mengganti pakaiannya dengan baju tidur berwarna merah maroon lengkap dengan jilbab berwarna hitam. Reyhan berjalan perlahan memberikan gelas berisikan air putih. "Diminum, Aisyah. Aku mandi dulu," ujar Reyhan.

__ADS_1


"Aku udah siapin baju buat kamu ya Mas." Reyhan tersenyum lembut dan mengangguk. Ia mengambil baju yang dimaksud Aisyah dan masuk kedalam kamar mandi.


__ADS_2