
Reyhan keluar dari ruang rapat, laporan seminggu ini tidak ada yang berubah, penjualan produk masih stabil dan tidak ada masalah apapun. Saat langkah Reyhan hendak memasuki ruangannya yang tertutup, Sinta berdiri dari mejanya. "Pak Reyhan, didalam sudah ada Pak Evan yang sudah menunggu anda." Kerutan dikening Reyhan terlihat jelas, namun dengan cepat ia mengangguk.
"Terimakasih, Sinta." Reyhan masuk kedalam ruangannya, seseorang dengan pakaian sweater tengah duduk dihadapan meja kerjanya.
"Evan!" Panggil Reyhan, laki-laki itu seketika menengokan kepalanya, berdiri dan menghampiri Reyhan dengan senyum yang mengembang.
"Rey! Lo apa kabar? Udah nikah aja," pekik Evan dengan cukup keras.
"Lo yang apa kabar Van! Tega bener gak dateng ke acara nikahan gue." Reyhan menepuk bahu Evan dengan sedikit keras.
__ADS_1
"Kalo gue diluar kota ya gampang buat baliknya, ini gue lagi di luar negeri. Lagian lo nikah dadakan banget!" Protes Evan. Mereka duduk disofa panjang berwarna hitam, saling bertukar kabar dan cerita tentang karir mereka. "Oh ya, jujur gue kaget banget waktu tau kalo pengantin ceweknya bukan Rere. Kalian ada masalah apa sih? Parah lo ninggalin Rere gitu aja, anak orang woy."
Mendengar nama Rere, Reyhan sedikit mengurut kening pelan, ceritanya begitu rumit dan butuh pertimbangan besar. "Yang jelas ini udah jadi keputasan gue, Rere bukan jodoh gue dan ini juga untuk kebaikan kita berdua."
"Kebaikan apa? Rere nyampe sakit gitu Rey. Gue kemarin baru nyampe Bandung langsung kesana jenguk Rere, dia masih sayang banget sama lo, nangis terus." Deg. Jantung Reyhan menjadi tak menentu, rasa bersalah kini mulai mengusik. Setiap hal buruk yang terjadi pada Rere selalu membuatnya sigap selama dua tahun ini, dan kini, setelah mencoba menutup hati rasa panik itu kembali.
"Rere sakit?" tanya Reyhan gugup.
"Gak... Dia udah jadi masa lalu gue, lambat laun juga Rere bakalan terbiasa."
__ADS_1
"Rey, lo awal kenal kan baik-baik. Walaupun kalian udah putus, seharusnya secara baik juga."
Reyhan menggelengkan kepalanya, ucapan Evan tidak masuk akal. "Gak ada putus secara baik."
"Oke, emang awalnya gak baik. Tapi lo harus tetep ada hubungan baik dong, lo bisa obrolin secara baik-baik lagi dan temenan kayak biasa."
"Percuma Van, udah gak ada yang harus diobrolin lagi," jawab Reyhan tetap mencoba berpegang teguh dengan pendiriannya.
"Nah, ini yang salah. Mantan bukan berarti musuh Rey, lo jelasin sekali lagi biar Rere bisa cepet move on dan ngeikhlasin lo. Jadi gak ada yang tersakiti diantara kalian berdua." Tiga detik berlalu. "Ya gue gak maksa sih, cuma kasian aja sama Rere. Seenggaknya lo kasih buah atau apa kek buat permintaan maaf terakhir. Karena gue tau, pasti putusnya kalian itu gak secara baik-baik."
__ADS_1
Reyhan terdiam sesaat, rasa penasaran dengan keadaan Rere dan rasa takut Reyhan akan kembali menumbuhkan rasa berkecamuk. Namun ketukan pintu membuat menyadarkan Reyhan, ia mempersilakan siapapun itu untuk masuk. Aisyah, istrinya masuk dengan perlahan. Berjalan menghampiri sofa yang diduduki Reyhan dan Evan. "Assalamu'alaikum." Aisyah memberi salam. Keduanya menjawab dengan serempak, Aisyah mengulurkan tangannya dan mencium punggung tangan Reyhan.