
“Di kampus ternyata bukan aku aja yang suka sama Yusuf, ada juga seorang anak pengusaha bernama Putri. Bahkan Abinya deket sama Yusuf, aku kayak semakin jauh sama Yusuf, gak ada kesempatan lagi buat milikin dia, aku hanya berani mencintai Yusuf secara diam, semester 5 Abi nya Putri ketemu sama Yusuf, dia bilang kalo Putri naruh perasaan sama Yusuf, tapi Yusuf tolak dan bilang kalo lulus nanti mau langsung mengkhitbah kamu Aisyah, Putri kelihatannya kecewa, dia menghindar setiap ketemu sama Yusuf, aku yang berbeda jauh sama Yusuf semakin sadar diri dan memang seharusnya cinta sama Yusuf secara diam, aku tetep jadi temen Yusuf dan waktu libur semester aku temenin Yusuf ke pasantren, jujur aku sendiri kaget waktu denger kamu pindah ke Khairo dan sempat ke Bandung dulu, kenapa gak temuin dulu Yusuf dan pamit?” tanya Maura menghentikan ceritanya.
Aisyah memainkan ujung kain gamis di tangannya, ia tersenyum lembut pada Maura. “Aku sama Ayah sebenernya ke kampus waktu itu, tapi kak Yusuf sama kakak kelihatannya asik, aku juga sadar diri gak pernah balas satupun pesan yang kak Yusuf kasih, aku pikir waktu itu kak Yusuf udah lupa sama janjinya sendiri, lagi pula aku gak terlalu bawa perasaan waktu itu sama kak Yusuf, karena kata Ayah, lebih baik mencintai seseorang setelah orang itu resmi menjadi milik kita,” jawab Aisyah.
__ADS_1
“Tapi semenjak itu Yusuf hampa, dia gak semangat. Dan jujur, awal ketemu kamu kemarin aku sedikit was was kamu sama Yusuf ketemu lagi, aku takut ada cinta lama bersemi kembali, tapi aku tenang waktu denger kamu udah nikah,” kekeh Maura yang tampak malu.
Aisyah tertawa kecil mendengar itu. “Gak usah was was kak, tenang. Oh iya, lanjutin dong cerita sampe bisa nikah sama kak Yusuf,” ucap Aisyah.
__ADS_1
“Beres sidang aku beraniin dulu untuk ungkapin semua perasaan aku sama Yusuf, dia gak jawab apapun yang aku ucapin, hubungan kami tetep jadi temen dan saat Yusuf beres sidang ternyata dia langsung balik ke Pesantren, hanya pamit kecil dan ilang gitu aja, aku saat itu sadar kalo Yusuf nolak aku. Tapi Aisyah, kita kalo udah di posisi paling ikhlas, semuanya membaik, saat itu aku gak cari kabar apapun tentang Yusuf, hampir enam bulan dia hilang tanpa kabar, terkadang ada mantan yang selalu datang di tempat kerja sampai aku memutuskan untuk keluar dari dunia model dan cari pekerjaan baru, aku akan melangkah menata masa depan dengan hal hal baru, hidup tanpa adanya kedua orang tua gak mudah Aisyah. Tapi saat itu, pagi hari yang membuat aku kembali jatuh cinta sama Yusuf, dia dateng bersama ibu dan ayah angkatnya, Yusuf menanyakan apakah aku sudah memiliki lelaki lain di hati aku? Semuanya seperti mimpi, aku bisa mendapatkan hati Yusuf dari dua wanita hebat yang sempat mendiami hati Yusuf. Semenjak itu, aku menjadi mualaf dan Yusuf menjadi imam yang paling aku cintai, dia manusia paling sabar dan tidak pernah menebar janji, tapi langsung menunjukkan bukti.” Maura tersenyum pada Aisyah yang dengan fokus mendengarkannya.
Maura menunjuk taman kecil yang ada di depan mereka. “Aku yakin, perjalanan cinta kamu akan seindah taman itu,” ucap Maura, lalu ia menoleh pelan. “Inget ucapan kamu tentang masa lalu, apa mantan suami kamu datang lagi?"
__ADS_1
Aisyah diam tak menjawab, dia hanya mencoba tersenyum kecil. "Tapi perempuan itu udah tahu kalo Rey udah menikah?” tanya Maura hati-hati.
Aisyah mengangguk pelan, “Astagfirullah,” lirih Maura pelan. “Kamu seorang istri, hak kamu lebih besar Aisyah, jangan takut. Kamu terus berada di samping suami mu, buat perempuan itu sadar dengan status baru suami kamu.”
__ADS_1