
Hari sudah mulai sore, acara pun sudah selesai beberapa jam yang lalu, kini hanya keluarga besar yang hadir. "Oh iya, ini kado dari Gina sama mas Ardi ya," ujar Gina sambil memberikan sebuah kotak berukuran sedang. Reyhan menerimanya dengan cepat. "Bukannya di rumah aja ya. Gak boleh disini," cegah Gina dengan cepat saat melihat Reyhan hendak menyentuh bagian solatip yang ada di ujung kertas.
"Wahh Gina pasti ngasih yang iya-iya nih," canda Arman dengan raut wajah penuh penilaian yang terlihat menyebalkan. Mas Arman adalah saudara Reyhan yang kemarin ada pula diacara pernikahan mereka.
"Apa sih A. Orang Gina cuma malu kalo dibuka disini, kado Gina gak terlalu mewah," sahut Gina dengan mengejek Arman.
Reyhan menggelengkan kepalanya pelan, sudah sangat sering terjadi memang hal seperti ini. "Makasih ya Gin."
"Rey, kamu pulang duluan aja sama Aisyah, kasian Aisyah takutnya cape." Beberapa pandangan menjadi tertuju pada Aisyah disofa sana, Aisyah dan istri Arman tengah memandangi kedua bayi yang tengah tertidur ditambah anak laki-laki berusia 5 tahun yang baru membuka kadonya mengajak main Aisyah sedari tadi. Yang membuat lega, Aisyah dengan cepat dapat membaur dengan anak kecil, dia seakan senang dan tidak merasa keberatan.
"Kalo Reyhan duluan Mama gimana?"
__ADS_1
"Papa sama Mama nginep disini Reyhan. Besok kita pulang pagi dianterin Arman sama Syifa," jawab papa.
Mendengar itu, Reyhan langsung menatap lagi kearah Aisyah yang tengah mengobrol dengan Syifa di sofa. "Aisyah," panggil Reyhan, membuat Aisyah menengokan kepalanya.
"Kok Aisyah doang sih. Dek Aisyah kek," tegur Arman yang merasa Reyhan tidak romantis sama sekali.
"Jangan dong. Harusnya panggil 'Sayang' dong biar lebih so sweet," sela Mama yang ikut memprotes.
"Sayang, kita pulang sekarang ya?" Dengan hati yang berbunga Aisyah mengangguk. Panggilan sayang itu menghangatkan hatinya.
Setelah bersiap mengambil tas dan Reyhan membawa kado pernikahannya, Aisyah tampak bingung saat berpamitan. "Mama enggak pulang?" tanya Aisyah lembut dan sopan. Mama menggelengkan kepalanya dan tersenyum.
__ADS_1
"Mama sama papa nginep disini. Kalian berdua dulu ya dirumah," jawab Mama. Setelah berpamitan pada semuanya, Aisyah dan Reyhan keluar, mereka berjalan menuju mobil yang ada di masjid.
Mengingat waktu yang sudah sore, jalanan tampak padat seperti pagi tadi. Semua orang pulang dari kantor dan sekolah mereka. Membuat Reyhan harus ekstra sabar menghadari keadaan macet seperti ini.
Sesampainya dirumah, tepat jam setengah 6 sore. Mereka masuk kedalam kamar, saat Reyhan hendak menyimpan kado, matanya tertuju pada tumpukan kado lainnya yang belum ia sentuh. "Malam ini kita buka kado ya." Aisyah menganguk senang, itu yang ia tunggu dari kemarin, Aisyah penasaran dengan isi dari bungkus yang dihias indah sebanyak itu.
"Iya Mas. Nanti Aisyah beresin dulu kadonya biar berurutan." Reyhan mengangguk dan tersenyum kecil. Perempuan memang selalu menyukai kado.
"Kalo gitu aku mandi dulu ya Aisyah. Aku sholat Maghrib di masjid gak apa-apa kan? Sekalian mau tanya sama Pak RW masalah kartu keluarga baru."
Aisyah menganguk kecil. "Gak apa-apa Mas, nanti Aisyah sholat sendiri di rumah."
__ADS_1