
Keesokan paginya, mereka benar-benar ceria, Reyhan yang terasa lebih hangat membantu Aisyah membuka beberapa kado pernikahan mereka yang lumayan banyak. "Wah ini lucu ya Mas," seru Aisyah dengan begitu bersemangat sambil menunjukan sebuah hiasan patung yang tampak begitu mewah dengan detail rumit namun sempurna. Tidak lupa nama mereka pun terukir di tengah patung tersebut, sungguh menggemaskan dan cantik.
"Iya, untung kado itu engga kamu lempar-lempar ya Aisyah, bisa pecah nanti miniatur nya," ucap Reyhan sambil tertawa kecil membuat Aisyah ikut tertawa. Pagi yang hangat ini memang terasa menyenangkan bagi mereka berdua.
Setelah membuka semua kado yang ada dihadapan mereka, Aisyah menatanya di atas meja kamar sedangkan Reyhan membereskan kertas kado dan plastik ke dalam sebuah wadah besar. Beberapa hari lagi mereka akan pindah ke rumah Reyhan yang baru, jadi Aisyah tidak terlalu menatap barang-barang dengan sempurna, hanya di satu tempat namun tetap terlihat rapi.
Sekitar jam sembilan pagi, Mama sudah pulang dan Papa langsung berangkat ke kantor, Aisyah sudah menyiapkan makan siang untuk mereka semua. Tawa canda menyelimuti mereka. Aisyah tersenyum pada Reyhan saat mata mereka bertemu, mengingat Reyhan mengajak sore nanti untuk mengunjungi kediaman umi Bilqis dan bertemu ayahnya.
...🦋...
__ADS_1
Hari-hari mereka sebagai pasangan suami istri begitu menyenangkan, rasa bahagia bagai orang yang tengah mengenal cinta, atau lebih tepatnya seperti seorang remaja yang asik dengan masa pendekatan. Masih terasa malu-malu dan terlalu banyak tersenyum. "Udah semua Aisyah?"
"Udah Mas," jawab Aisyah, dia menutup koper dan berjalan kearah ranjang, menarik resleting tas besar yang berisikan baju-baju mereka.
Hari ini adalah hari terakhir mereka di rumah kediaman kedua orangtua Reyhan, rumah mereka sudah selesai di bangun lengkap dengan perabotan besar yang sudah ditata, hanya dekorasi kecil yang belum mereka pajang. Suara ketukan pintu membuat Reyhan bergegas membuka pintu kamar. "Rey, Mama udah siapin makanan siang ya. Sebelum kalian pindah, kita makan siang dulu," ujar Hana. Tak ada raut wajah sedih saat keduanya memutuskan untuk pindah secepatnya, saat melihat Reyhan tidak berbuat ulah dan tingkah mereka yang sepertinya sudah bertumbuh cinta, membuat hati Hana lebih ikhlas melepas keduanya untuk menjalani rumah tangga mandiri.
"Iya, Ma," sahut Reyhan.
"Ya udah, Mama turun duluan ya," ucap Hana. Ia segera pamit dan menuruni setiap anak tangga dengan hati-hati, rasanya begitu melegakan saat melihat semuanya baik-baik saja. Ia berjalan duduk dimeja makan, disamping suaminya.
__ADS_1
"Kayaknya seneng banget Ma," ujar papa dengan sedikit mengalihkan pandangannya dari ponsel.
"Senenglah pah, perjodohan ini berhasil. Kayaknya Rey makin lengket aja sama Aisyah."
"Alhamdulillah Ma, kalo itu papa juga ikut seneng, semoga selamanya mereka bisa bahagia."
"Aamiin, pah."
...🦋...
__ADS_1
Selesai makan siang bersama, Reyhan yang dibantu papa memasukan koper dan beberapa tas besar berisikan baju dan barang hadiah pernikahan mereka yang lumayan banyak, bagasi dan kursi belakang mobil Reyhan bahkan sudah terlihat hampir penuh. "Rey sama Aisyah langsung aja ya Ma, Pah. Assalamu’alaikum," pamit Aisyah dan Reno bersamaan.
"Waalaikumsalam. Hati-hati ya sayang," ujar Mama.