Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 28 : Pulang Malam


__ADS_3

“Apa sih Dev, diem aja, gak usah dengerin obrolan kita,” desis Rere kesal.


Reyhan tersenyum hambar, semua itu benar, “Re, Devi bener, diluar sana banyak laki-laki lain yang pastinya lebih baik dan cocok buat kamu. Kita bisa temenan dan bahagia dengan pasangan kita masing-masing.” Munafik, apakah bisa begitu? Apakah bisa mereka berbahagia dengan pasangan mereka sedangkan hati dan pikiran terpaku pada sosok lain? Reyhan, menyentuh tangan Rere dan mengelusnya lembut. “Sekarang kamu cepet sembuh, hati-hati lagi kedepannya, kalo masih belum kuat berdiri minta anterin kesahabat kamu.” Rayhan terdiam, wajah Rere tampak enggan dan semakin tidak bersemangat. “Coba buka hati kamu untuk laki-laki lain Re.”


“Buka hati gak segampang itu Rey, udah, aku gak mau bahas ini. Kalo nanti aku udah sembuh kita boleh ketemu?” Reyhan mengangguk ragu, senyumnya pun terkesan kaku.


“Asal kamu sembuh, dan aku gak denger lagi kamu pingsan atau kesehatan kamu drop lagi.” Mendengar itu Rere tersenyum senang, dengan semangat itu mengangguk. Hati Reyhan semakin tak tenang, disatu sisi ia senang melihat senyum Rere, disatu sisi lagi ia gelisah karena semakin melewati batas yang sudah ia rencanakan. Membohongi Aisyah karena sudah membagi waktunya dengan perempuan lagi.

__ADS_1


...🦋...


Pukul delapan malam. Ketukan pintu membuat Aisyah dengan cepat berdiri, berjalan kearah pintu dan membukanya perlahan. “Assalamu’alaikum."


“Wa’alaikumsalam Mas.” Aisyah mengambil tas kerja milik Reyhan, setelah Reyhan masuk dan menutup pintu mereka berjalan kearah meja makan, namun Aisyah menyimpan tas Reyhan terlebih dahulu di atas sofa. “Gimana keadaan temen kamu Mas?” tanya Aisyah, tangannya dengan lihai mengambil piring dan meyiapkan makanan yang sudah ia masak, memberikan nya pada Reyhan dan menyiapkan makanan untuk dirinya sendiri.


“Belum Mas, kan mau makan malem sama Mas,” jawab Aisyah sambil tersenyum.

__ADS_1


“Ya Allah, Aisyah! Kamu jangan nunggu mas pulang baru makan, gimana kalo mas pulangnya larut? Makan duluan aja gak apa-apa Aisyah, gimana kalo-“ Aisyah menghentikan ucapan Reyhan, ia tersenyum lebar melihat kekhawatiran suaminya.


“Mas, tadi aku bikin cemilan sama mbak Nur, jadi gak laper sama sekali waktu sore,” jawabnya lembut. Reyhan pun akhirnya mengangguk pelan, rasa bersalah itu semakin besar. “Oh iya mas, tadi aku Tanya, gimana keadaan temen kamu?”


Reyhan menelan air liurnya, dengan gerakan yang seperti salah tingkah, Reyhan mengambil air putih yang ada digelas dan meneguknya. “Alhamdulillah, keadaannya udah baikan.” Tampak Aisyah mengangguk mengerti dan mengucap syukur, merekapun mulai berdoa dan makan malam dengan tenang. Setelah selesai, Aisyah mengambil kembali piring bekas Reyhan, mencucinya dan kembali duduk dimeja makan bersama Reyhan yang tengah duduk dengan wajah lelahnya.


Aisyah mengulurkan tangannya pada jemari Reyhan yang ada diatas meja, menggenggamnya lembut dan tersenyum, mengagumi sosok suami yang ia cintai. “Mas jangan terlalu capek ya, kalo ada kerjaan yang belum selesai hari ini jangan dikerjain dirumah sampai larut, inget, istirahat yang cukup dan jaga kesehatan mas.” Reyhan terdiam, hatinya berjerit kencang. Mengapa keadaan begitu mempersulitnya? Mengapa meninggalkan masalalu begitu sangat sulit? Mengapa ia tidak bisa menolak untuk menemui Rere? Banyak kata mengapa yang kini memenuhi otaknya. Dan kini, melintas Mengapa aku mampu mengkhianati istri sesempurna Aisyah?

__ADS_1


__ADS_2