
Aisyah membaca ulang apa yang sudah ia ketik sebelumnya. Siang ini ia tidak akan kemana-mana. Aisyah ingin fokus menyelesaikan materi yang akan ia bawa. “Bu, baju yang mau di cuci udah semua di belakang ya?” tanya Mbak Nur. Aisyah yang sedang mengetik di ruang tengah menoleh dan tersenyum lembut sambil mengangguk.
“Iya Mbak, udah semua.”
Aisyah kembali fokus pada laptopnya, sesekali ia meminum air putih dari gelas di samping laptopnya. “Astagfirullah lupa,” pekik Aisyah langsung berdiri dari duduknya. Ia berjalan keruangan belakang, mulai terdengar suara air yang mengisi mesin cuci. “Mbak maaf, Aisyah mau kasih tahu kalo nanti ngeliat kertas atau barang-barang lainnya di saku pakaian Mas Reyhan tolong simpen ya, takutnya penting.”
Mbak Nur menganggukkan kepalanya. “Oh siap Bu, tadi Mbak cuma nemuin bon makanan aja dari saku celana Bapak,” jawabnya dengan ceria. Mbak Nur memang selalu terlihat semangat di setiap waktu.
__ADS_1
“Makasih ya Mbak.” Baru saja Aisyah hendak berbalik, kerutan dikeningnya terlihat dengan samar. Ia pun berbalik melihat Mbak Nur kembali. “Kertas bon nya masih ada gak Mbak? Apa udah di buang?” tanya Aisyah pelan, entah mengapa ia gugup. Ia masih tidak tenang dengan Reyhan dan Rere.
“Oh, masih ada Bu.” Mbak Nur dengan cepat berjalan kearah tumpukan pakaian itu, mengambil kertas yang berada di dekat tembok. “Ini Bu,” ucap Mbak Nur, memberikan dengan sopan dan Aisyah pun mengambilnya dengan perlahan. Bill itu sudah jelas dari café kemarin di lihat dari nama dan logo. Terdapat 5 item berbeda membuat hati Aisyah tak karuan. 2 makanan berat, 2 minuman signature dan 1 mineral.
Tubuh Aisyah secara tiba-tiba mundur, kertas itu di genggam erat oleh Aisyah. Mereka makan siang berdua! Tidak ada sekertaris ataupun asisten yang menemani mereka. Apa ini? Mengapa harus makan siang berdua? “Mbak, maaf bisa siapin makan siang buat Mas Reyhan ke kotak makan biasa? Aisyah mau siap-siap dulu,” ujar Aisyah cepat, ia menatap Mbak Nur dengan tatapan yang tidak biasa.
“Bisa Bu, Mbak siapin dulu,” jawabnya spontan, selama bekerja disini Mbak Nur belum pernah melihat Aisyah secemas itu.
__ADS_1
“Wa’alaikumsama Bu, hati-hati di jalan.”
...🦋...
Reyhan memutar pelan lehernya, tubuh Reyhan lelah dan pegal. Namun semua itu tidak menurunkan semangatnya untuk meneruskan pekerjaan. “Selamat siang Bapak Reyhan yang terhormat.” Suara Rere membuat Reyhan menoleh kearah pintu, perempuan cantik itu tampak bahagia dengan box makanan ditangannya.
“Re, udah aku bilang gak usah ke kantor. Gimana kalo karyawan aku pada curiga dan jadi gosip miring,” protes Reyhan. Rere tampak memutar bola matanya malas, berjalan kearah sofa.
__ADS_1
“Gak usah di pikirin sayang, kamu tuh terlalu takut sama hal yang belum pasti. Udah jam makan siang, ayo makan dulu.” Rere menyiapkan makanan takeaway itu di atas meja, “Istri kamu gak akan anter makan siang kan?” sindir Rere sambil tertawa kecil.
Reyhan menghela nafasnya pelan, ia berjalan dan duduk di samping Rere, melepaskan kancing di pergelangan tangan dan sedikit menggulungnya keatas. “Aisyah tadi pagi udah siapin bekal sarapan, dia juga gak kasih kabar kalo mau kesini,” jawab Reyhan. Ia mengambil sendok yang sudah disiapkan Rere dan menatap makanan apa saja yang di bawa Rere. “Tapi ini terakhir kalinya kamu ke kantor ya, aku gak bisa jamin kalo Papa gak akan dateng kesini,” tambah Reyhan.