
"Mas, Aisyah bawain tongseng ya buat makan siang." Mata indah itu lagi-lagi membuat Reyhan bersalah, saat ini pikirannya mulai terganggu dengan Rere disaat istrinya sendiri memberikan perhatian dan makan siang ke kantornya.
"Terimakasih banyak sayang. Kenalin ini Evan, teman kuliah Mas." Evan yang hendak mengulurkan tangan menghentikan aksinya saat wanita itu tersenyum dibalik cadar dan menangkup kedua tangannya dengan sopan.
"Aisyah." Suara itu begitu lembut dan membuat Evan mendadak kikuk. Gayanya yang terbiasa bebas membuat Evan seketika kaku.
"Evan," ujarnya dengan meniru gerakan tangan Aisyah. Kini ia sedikit mengerti dengan keputusan Reyhan memilih mengakhiri hubungannya dengan Rere. Wanita impian para orangtua kini ada dihadapannya, bahkan cadar yang menutupi wajahnya mampu Evan prediksi betapa cantiknya perempuan ini. Reyhan beruntung, amat sangat beruntung.
...🦋...
"Mas, kalau gitu Aisyah pulang ya, sekalian mau minta ijin ke rumah Mama, sore ini ada kajian di masjid agung. Umi juga ikut." Reyhan menganggukan kepalanya.
__ADS_1
"Hati-hati ya sayang, kalo mau dijemput nanti kabarin aja.” Aisyah pun tersenyum dan mengambil tangan Reyhan untuk mencium.
"Jangan lupa sholat Ashar ya mas, Assalamu'alaikum." Lagi-lagi Reyhan mengangguk pelan.
"Wa'alaikumsalam," jawab Reyhan dan Evan.
Setelah perginya Aisyah, Reyhan menghempaskan tubuhnya. Hatinya terkecamuk pada dua pilihan, rasa khawatir pada Rere menjadi lebih dominan saat ini. "Astagfirullah."
"Ini yang bikin gue bimbang, Aisyah sosok perempuan yang selama ini gue cari, dan waktu itu gue udah ngasih kesempatan terakhir buat Rere, tapi Rere..."
Tepukan Evan dibahu Reyhan membuatnya menghentikan kata-kata yang akan terlontar dari mulutnya. "Iya, sekarang gue ngerti keputusan lo saat itu. Rere udah cerita sih sekilas tentang dia yang nolak rencana lo buat nikahin dia. Sekarang gue malah jadi iri pengen kayak lo." Reyhan tak memperindah ucapan Evan, ia menganggap semua itu hanya hiburan Evan untuknya semata. Namun, Evan masih terpaku pada sosok Aisyah, hari ini ia sholat Dzuhur untuk pertama kalinya setelah sekian lama tidak ia lakukan. Turur kata yang lembut dan sopan begitu nyaman di telinganya, sudah lama ia tidak menemukan perempuan seperti itu. "Gue juga balik dulu deh." Evan ingat, ada beberapa teman yang belum ia kunjungi juga.
__ADS_1
"Eh, baru juga satu jam lo disini."
"Ya lo kan harus kerja Rey, masa gue disini terus, sekalian mau ke rumah Bagas dulu gue."
Rey terdiam sesaat ketika Evan berdiri, lidahnya terasa kaku untuk berbicara. "Van, sore lo bisa kesini lagi?"
Evan mengerutkan keningnya, "Ngapain? Lo masih kangen gue?" Gelak tawa Evan membuat Reyhan mendengus, temannya satu ini memang terlalu bebas berbicara, bahkan sikap dingin Reyhan pun mudah mencair jika berbicara dengan Evan semasa kuliah dulu.
"Gue kayaknya mau ngejenguk Rere. Lo temenin gue biar kesannya gak terlalu berdua disana ya. Kan gue gak tau siapa aja yang lagi nemenin dia. Ucapan lo tadi kayaknya bener, gue harus minta maaf dan tetep komunikasi, jangan sampai jadi musuh."
"Nah gitu dong, biar Rere juga cepet move on dari lo. Karena move on terbaik itu adalah merelakan, bukan saling membenci sampe lo lupa. Tapi inget, jangan sampe CLBK lo," ucap Evan tegas sambil memperingati.
__ADS_1