Cinta Dikala Senja

Cinta Dikala Senja
Bab 36 : Mengantar


__ADS_3

^^^-Mas, sebentar lagi Dzuhur, jangan lupa sholat dulu ya disana.-^^^


-Mas lagi baru sampe di mobil Aisyah, Mas sholat dimasjid aja, kayaknya keburu sampe sana.-


Aisyah membuka kunci ponselnya saat ada balasan dari Reyhan. Ia tersenyum dan mulai mengetik balasan. Semua yang dilakukan Aisyah tidak luput dari pengawasan Zahra yang tersenyum melihatnya. “Kayaknya suami kamu benar-benar bikin bahagia ya, sampe senyum-senyum gitu,” goda Zahra membuat Aisyah tersenyum malu.


“Makannya cepet nikah,” balas Aisyah dengan tawa kecil.


“Kan dua bulan lagi,” bisik Zahra membuat keduanya tertawa.


Aisyah menggenggam sebelah tangan Zahra, tersenyum dibalik cadarnya. “Semoga lancar ya. Apapun yang terjadi saat udah berumah tangga nanti coba selalu berpikir positif, ada masalah obrolin baik-baik sampe semuanya jelas dan terjawab.” Kata-kata itu bukan hanya untuk menasihati Zahra, tetapi menasihati diri Aisyah sendiri juga. Ia hampir berpikiran buruk tentang perubahan sikap Reyhan, namun pada kenyataannya Reyhan sedang gundah memikirkan kontrak perusahaan yang akan bekerja sama. Berusaha menyingkirkan segala perasaan ragu yang masih terasa dihatinya.

__ADS_1


...🦋...


Satu bulan berlalu dengan cepat, Reyhan pun sudah kembali seperti biasa, tidak pernah lembur dan selalu pulang tepat waktu. Dalam satu bulan, Aisyah hanya beberapa kali mengantarkan makan siang ke kantor Reyhan atas permintaan Reyhan sendiri, membuat Aisyah lebih sering mengunjungi rumah Mama dan Umi. Sedikit tenang saat Mama mengatakan bahwa ini semua wajar, Reyhan tidak ingin merepotkan Aisyah untuk setiap hari kesana karena sering pula ada klien yang mengajak mereka untuk makan siang. Dering telepon masuk membuat Aisyah menghentikan jemarinya diatas keyboard laptop. Nama Zahra muncul dilayar ponselnya. “Assalamu,alaikum Aisyah.” Terdengar suara Zahra yang ceria.


“Wa’alaikumsalam Zahra, kenapa nih? Kayaknya lagi bahagia,” jawab Aisyah mulai berdiri, berjalan kearah dekat jendela yang menampilkan halaman penuh tanaman indah terurus.


“Gini, Mas Bayu lagi di Bandung, ngajakin aku beli cincin pernikahan, kamu mau ikut gak? Mas Bayu nyuruh aku bawa temen biar kita gak cuma berdua.”


“Eh, tapi aku gak ganggu kamu kan ini? Kamu lagi gak sibuk kan Aisyah?” tanya Zahra dengan nada sedikit tidak enak.


Aisyah tersenyum dan menggelengkan kepalanya walau pun ia tahu Zahra tidak bisa melihatnya. “Enggak kok Zahra, aku lagi siapin materi buat seminar diacara organisasi anak Umi minggu depan.” Seperti ini kegiatan lain Aisyah, menjadi pembawa acara di kajian, kadang menerima tawaran menjadi pembicara utama sebagai alumni Al Azhar bersama teman-teman lainnya. Namun tentu saja semua itu sudah mendapatkan ijin dari Reyhan.

__ADS_1


Setelah beberapa percakapan dan Zahra akan segera kerumah Aisyah mereka memutuskan panggilan telepon, Aisyah bersiap-siap dan menghubungi Reyhan terlebih dahulu. Tak lama menunggu panggilan Aisyah diangkat oleh Reyhan. “Assalamu’alaikum Mas.”


“Wa’alaikumsalam Aisyah, kenapa? Mau kekantor?” tanya Reyhan lembut.


“Enggak mas, Aisyah mau minta ijin buat anter Zahra dan calon suaminya beli keperluan pernikahan mereka. Biar mereka gak berduaan juga.” Aisyah tertawa kecil diakhir kalimatnya.


“Ya udah, jangan terlalu cape ya Aisyah, jangan lupa makan siang juga. Pulangnya jangan ke sorean.”


“Siap Mas, Mas juga ya. Semangat kerjanya.” Aisyah mengingatkan apa saja yang diperlukan Reyhan den menutup panggilan dengan salam.


Suara bel terdengar berbunyi, baru saja Aisyah hendak berjalan keluar, mbak Nur terlebih dahulu keluar rumah, Aisyah mengambil tas santainya terlebih dahulu dan berjalan kearah pintu. “Loh sendiri? Mana Mas Bayu nya?” tanya Aisyah bingung tidak melihat mobil didepan rumahnya.

__ADS_1


“Aku dianter kakak. Mas Bayu masih dijalan kayaknya, aku belum berani dijemput sama dia, takut canggung kalo gak ada temen.” Terlihat bahu Zahra yang tampak bergidik dan tawa renyah khas remaja sedang malu.


__ADS_2