
Terlihat rumah berpagar hitam yang mulai dipenuhi orang-orang. "Ma, Rey parkirin mobilnya dimana?" tanya Reyhan bingung melihat halaman rumah yang sudah di isi dua mobil ditambah satu mobil yang ada di garasi. Benar-benar tidak ada lahan kosong untuk mobilnya parkir.
"Sebentar Rey. Pah coba kita turun dulu tanyain," ucap Hana sambil menepuk lengan suaminya pelan.
Kini hanya ada Aisyah dan Reyhan di dalam mobil, mereka menunggu sambil menatap kerumunan anak kecil yang sudah memakai topi ulang tahun di luar rumah. Tak lama Hana terlihat keluar dari rumah dan menghampiri Reyhan. "Mobil parkir di halaman masjid Rey. Udah minta ijin buat acara ini ke DKM-nya," jelas Hana sambil menunjuk ke arah kiri. Reyhan langsung menganggukan kepalanya dan mulai menjalankan mobil ke arah masjid yang ada di depan sana.
Setelah diparkirkan, mereka keluar dari mobil., berjalan beriringan keluar dari halaman masjid. Reyhan terlebih dahulu mendekat, menggenggam tangan Aisyah sambil melanjutkan perjalanan mereka. Tubuh Aisyah menegang sesaat, Reyhan tiba-tiba saja menggenggam tangannya. Namun tak lama senyum Aisyah mengembang saat mendengar bisikan yang dilontarkan Reyhan "Kalau pacaran, emang suka pegangan tangan, Aisyah." Ucapan itu lebih terasa nyaman ditelinganya. Bagai ada kupu-kupu didalam hatinya.
__ADS_1
Tanpa terasa mereka sudah sampai dirumah tadi, saat masuk kedalam rumah pun Reyhan belum melepaskan pegangannya. "Wahh ini pengantin baru kayaknya lagi lengket banget," ejek seorang perempuan, Aisyah dapat melihat umur mereka yang mungkin tak jauh berbeda.
Perempuan itu menggendong anak kecil yang baru berusia satu tahun lebih. Lalu menyalami Reyhan dan Aisyah. "Mbak, maaf ya Gina gak bisa dateng, kemarin hari terakhir di Jakarta. Tapi tenang, Gina udah siapin kado special."
"Eh iya. Gak apa-apa," jawab Aisyah lembut.
"Iya nih, om Rey nya sibuk terus," jawab Gina dengan nada anak kecil.
__ADS_1
"Sayang, coba gendong dek Fahmi, siapa tau bisa ketularan cepet dapet bayi." Aisyah tertawa kecil mendengar ucapan Hana, ia pun mengulurkan tangannya saat Gina memberikan anak kecil itu.
"Aamiin mah. Semoga cepet dikasih titipan ya," jawab Aisyah lembut. Jawaban itu juga menghangatkan hati Reyhan, ia tersenyum samar melihat Aisyah yang sepertinya sudah terbiasa menggendong anak kecil, sedikit gurauan yang diberikan Aisyah pada anak kecil membuat Reyhan merasa gemas.
Dalam lubuk hati Reyhan, ia bersyukur bisa merasakan ini pada Aisyah, mungkin memang benar saat beberapa hari yang lalu adalah godaan pernikahan, ia merasa tak siap menikah, tak mengingat Aisyah bahkan merasa biasa saja saat hari pernikahan. Namun, saat hari pertama pernikahan, Reyhan mampu mengagumi Aisyah, merasakan semua yang memang seharusnya ia rasakan pada istrinya, bahkan bayangan perempuan lain tak terlintas dalam pikirannya, kini ia bahagia hanya melihat raut wajah Aisyah yang tersenyum dibalik cadarnya.
Hati Reyhan bertekad. Istrinya sudah sangat cantik dan hanya ditunjukan untuk Reyhan seorang. Mungkin dalam beberapa hari ini Aisyah mampu membuat Reyhan jatuh cinta dengan cepat. Mengingat hari ini saja sudah banyak Reyhan mencuri pandang menatap mata indah itu.
__ADS_1