Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Aku Rindu


__ADS_3

Hari berjalan lambat di sini, kota minyak. Kota B, apa karena tidak terlalu banyak yang bisa didatangi atau Jogja terlalu melekat di hati Rinjani. Hari-harinya dihabiskan mengawasi tukang yang merenovasi bakal restoran mama. Restoran makanan khas Jawa, yang entah mama dapat dorongan dari mana untuk memulai berbisnis.


Pengerjaan renovasi sudah berjalan 80 persen karena tidak merubah struktur bangunan, dan membangun beberapa gazebo-gazebo jawa


Ada pesan dari nomer tak di kenal


Unknown : Rinjani, ini Ezra


Rinjani : mas Ezra dapat dari mana nomer handphoneku?


Dia memang mengganti nomernya sebelum meninggalkan Jogja. Alasannya kita semua tahu


Ezra : our moms


Rinjani : oh


Ezra : kapan kembali Jogja? It's been two weeks


Rinjani : belum tahu mas


Ezra : aku menunggumu


Rinjani terpaku menatap layar handphonenya, mengeja tiap huruf pesan terakhir Ezra Bramantya. Dia tidak membalasnya, bukan saatnya untuk suatu hubungan baru.


...


Dan Rinjani masih bertahan di kota ini sebulan berikutnya, dia menunggu restoran mama buka, setidaknya dia akan tenang kembali ke Jogja jika semua sudah berjalan lancar.

__ADS_1


"Tidak berpikir untuk stay di sini urus resto mama?" Kata Diana Damopoli saat mereka bersantap malam, dari gen Minahasa mamanyalah menjadikan Rinjani seperti ini, putih, berambut hitam panjang, papa menurunkan gen tinggi dan mata coklatnya.


"Aku bantu awalannya, itu saja mama harus setor profit 30 persen perbulan ke rekeningku. Apalagi aku total yang terjun, berarti 100 persen ke kantongku dong" balas Rinjani mulai hitung-hitungan


"Sekarang kamu matrealistis sayang" sahut mamanya


"Saya butuh modal untuk kuliah lagi ma"


"Ya ampun, kayak papa gak bisa ongkosin kuliah" kata Hutomo Aswatama, papanya


"Aku mau kuliah di luar negeri pa ma" Ucap Rinjani ringan, akhir-akhir ini dia mencari info untuk kuliah di luar


"Gampang jo, jika resto mama sudah jalan, kamu mau kuliah di mana saja mama yang ongkosin" ucap mamanya semangat


...


Hari ini pembukaan utama untuk umum yang sejak buka jam 10 pagi pengunjung restoran tak hentinya berdatangan hingga sore. Rinjani bersyukur langkahnya mengiklankan restoran mama ke beberapa akun sosial media kota itu mendapatkan hasil yang positif.


"Mbak, ada yang cari" kata mas Dedy salah satu pelayan saat dia sedang mengecek kondisi dapur


"Siapa?" Dia tidak punya teman di sini batinnya


"Cowok keren, di depan nunggu dekat kasir" jawabnya tersipu


Rinjani pun berjalan keluar, melewati meja-meja yang penuh tamu sedang menikmati makanannya. Dia tertegun menatap sosok pria jangkung, berkemeja flannel merah yang tak terkancing, kaos, jeans hitam berdiri dengan mata menatapnya tajam, ada garis senyum tipis di bibir itu.


"Mas Ezra" ucap Rinjani mendekati hasil kekuatan dua ibu bersatu

__ADS_1


"Rinjani"


Mereka kemudian berhadap-hadapan saling menatap, sadar kalau mereka jadi perhatian orang, Rinjani menarik tangan Ezra menuju parkiran,


"Kita bicara di tempat lain mas" kata Rinjani membuka pintu mobil, dengan patuh Ezra mengikuti


....


Rinjani tidak tahu memulai berbasa-basi, naik apa kesini? Pastinya pesawat. Ngapain? Pastinya untuk ketemu. Mereka pun terdiam sambil menyisiri pantai yang paling sering Rinjani datangi.


"Maaf jika aku membuatmu kaget" kata Ezra memulai percakapan


"Iya"


"Kamu tidak membalas pesanku yang terakhir"


"Aku sibuk mas, ngurus resto"


"Rinjani, lihat aku" Ezra menghentikan langkah dan memegang kedua bahu Rinjani, walau matahari sudah tenggelam berapa saat lalu, dia masih bisa melihat dengan jelas wajah Ezra, tatapan sendu dengan wajah rupawan.


Jantungnya berdebar lebih hebat, debaran yang sebenarnya dia sudah rasakan saat melihat sosok Ezra tadi di restoran.


Rinjani tertunduk, dia tidak kuat menatap lama wajah itu.


"Aku rindu" kata Ezra sambil menarik tubuh Rinjani dalam pelukannya


Wangi ini, aroma maskulin yang selalu membuatnya nyaman dan rindu. Ezra tak membuang waktu seketika mencium keningnya. Dan untuk pertama kalinya Rinjani melihat senyum lebar seorang Ezra Bramantya.

__ADS_1


__ADS_2