Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Tak Sekadar Menyukai


__ADS_3

Tampaknya Ezra jika dengan orang lain lebih gampang berbicara dan akrab, buktinya dengan papa mama terlibat perbincangan tak ada habis di ruang tamu. Sesekali terdengar tawa mereka, sementara Rinjani membereskan meja makan, padahal dia sudah tak sabar untuk bergabung dan memandang pria yang memeluknya tadi sore.


"Rinjani, kamu tidak mau ikut Ezra balik Jogja?" Tanya mamanya sesaat Rinjani duduk di sofa samping papa


"Ah belum kan ma" jawab Rinjani bergantian menatap mama dan Ezra, sejak kapan mereka kompak seperti ini


"Ezra mau balik Jogja besok siang, sekarang masih bisa dapat tiket kalau mau bareng. Mumpung ada temannya" lanjut papa


"Maaf mas Ezra, saya belum bisa ke Jogja"


"Resto sudah jalan kok" sanggah mama


"Nanti Rinjani nyusul kok, gak lama lagi. Janji" ucapnya sambil menaikkan kedua jarinya menatap Ezra, kembali cuma tarikan senyum yang tipis melihat respon Rinjani


"Gak papa kok tante om, kalau itu keinginan Rinjani" ucap Ezra dengan tersenyum kembali menatapnya


Setelah berbincang hingga jam 9 malam akhirnya Ezra minta pamit untuk kembali ke hotel tempatnya menginap dan mama kembali menyuruh Rinjani mengantarkan Ezra.


"Tidak usah tante, biar saya pesan taksi saja, kasihan Rinjani pulang sendiri malam-malam" kata Ezra


Sambil menunggu taksi pesanan yang mama pesankan, Rinjani menemani Ezra di depan rumah. Mereka saling berpegangan tangan dan terdiam


"Besok jam 10 pagi jemput di hotel yah, antar ke bandara" pinta Ezra menatap Rinjani

__ADS_1


"Baik mas" balas Rinjani "taksinya tuh mas" lanjutnya saat melihat sebuah kendaraan mendekat dengan pelan


"Cup" Ezra mengecup pipi Rinjani "sampai besok" ucapnya dan mengacak-acak halus rambut Rinjani sebelum menaiki taksi


Dan tinggallah Rinjani mematung memegang pipinya dengan jantung berdebar


.....


Rinjani kembali memoleskan lipstik berwarna nude di bibirnya, dia juga mengamati tampilannya di depan cermin, cropped top hitam, rok denim mini, sandal gladiator hitam, sempurna batinnya.


"Antar Ezra yah?" tegur mamanya melihat Rinjani mengambil tas yang di meja kasir "hati-hati, salam buat Ezra"


"Oke Ma, bye"


....


"Maaf menunggu, biar aku yang nyetir yah?" ucap Ezra sambil meraih tangan Rinjani dan mengenggamnya menuju parkiran


Sepanjang perjalanan Rinjani mencuri-curi kesempatan melirik pria disampingnya yang sedang memegang kemudi, lengan yang kokoh dan panjang terbungkus polo shirt berwarna hitam.


"Minggu depan aku balik ke Jogja mas" ucap Rinjani memecah keheningan


"Apa tidak bisa lebih cepat dari itu?" Balas Ezra, seketika pandangan mereka bertemu

__ADS_1


"Nanti aku lihat" ucap Rinjani kemudian mengalihkan pandangannya


"Jangan seminggu yah?, aku tidak bisa bertahan selama itu" ucap Ezra menarik tangan Rinjani dan kembali menggengamnya


Setelah 30 menit berkendara mereka tiba di bandara Sepinggan kota minyak, Ezra meraih tas punggungnya di kursi belakang dan kemudian menyerahkan kunci mobil ke Rinjani.


"Tidak usah mengantarkanku masuk, aku takut akan langsung menculikmu untuk ikut denganku" ucap Ezra kemudian memeluk Rinjani


Tubuh mereka seperti diciptakan untuk satu sama lain, wajah Rinjani tepat di dada pria itu, dia kemudian melingkarkan kedua tangannya di tubuh Ezra.


"Rinjani, apakah kamu mulai menyukaiku?" Ucap Ezra menunduk menatap Rinjani, dalam pelukan Rinjani membalas dengan anggukan lemah


"Iya?" Tanya Ezra kemudian melonggarkan pelukannya dan meraih wajah Rinjani


"Hmm" gumam Rinjani kembali mengangguk


Ezra kemudian mencondongkan wajahnya ke arah Rinjani dan mendaratkan bibirnya ke bibir gadis itu. 10 detik ciuman panas yang akhirnya meruntuhkan sisa tembok pertahanan Rinjani, dia tidak tahu di balik sosok dingin Ezra ternyata mempunyai sisi seperti ini. Bagian yang menggelora dan menuntut.


"Rinjani" Kata Ezra sambil membelai wajah Rinjani "Aku mencintaimu" lanjut Ezra menatap dengan dalam, kemudian mencium ringan bibir Rinjani


"Aku tunggu di Jogja sayang" katanya lagi sambil mengecup kening Rinjani, kemudian berjalan menjauh


Rinjani menatap punggung lebar yang bahkan dari belakang pun pria itu nampak indah. Ezra mungkin merasa jika diperhatikan, dia kemudian berbalik dengan tersenyum lebar melambaikan tangannya ke Rinjani.

__ADS_1


Dia sadar, jika tidak sekadar menyukai pria itu, Rinjani telah jatuh cinta.


__ADS_2