
Kemesraan di konser empat hari lalu menguap begitu saja, itu dikarenakan Harry sejak Senin pagi harus berangkat ke Jakarta dengan tujuan yang sama sekali Rinjani tidak tahu. Rinjani merasa belum dalam kapasitas sebagai orang dekat untuk bertanya lebih jauh kegiatan seorang Harry Rajendra.
Dalam mengisi waktu luang, pun Rinjani menghabiskan beberapa hari terakhir mencari info program magister di kampusnya.
Rinjani baru saja memasukkan mobil di garasi dan Ibu Kristina menelepon. Wanita paruh baya itu memanggilnya untuk makan rendang di blok depan, yang tak lain kediaman Bu Kristina.
Rinjani hanya masuk ke dalam rumah menyimpan tas dan berjalan menuju blok C rumah Bu Kristina. Sesampainya Rinjani melihat Ezra yang kelihatannya juga baru pulang.
"Dari mana mas?" Tegur Rinjani menyapa pria tinggi menjulang yang berkaos putih, jeans denim, kets senada atasannya.
"Dari rumah selatan." jawab Ezra menatap Rinjani dengan lekat-lekat "Kamu sendiri dari mana?" Balas bertanya melihat tampilan gadis itu wrap top biru garis-garis putih, celana khaki putih dan pump biru.
"Dari kampus, nanya-nanya." jawab Rinjani mengulas senyuman manis.
"Oh " ucap Ezra sambil menghentikan langkahnya, dan kembali menatap Rinjani "Jadi, fix mau kuliah lagi?" Lanjutnya dengan sorot mata yang tajam, Rinjani serba salah dan hanya bisa menunduk.
"Lha, kalian sudah datang toh." tegur Bu Kristina di ambang pintu "Rinjani ayo masuk, kamu pasti lapar, jam begini bagusnya sudah makan malam, biar badannya gak melar." ceramah singkat wanita paruh baya itu.
Padahal baru jam 4 sore, batin Rinjani. Tak ada yang dilakukan Rinjani kecuali mengekori Bu Kristina yang berjalan menuju ruang dapur.
"Tumben ibu masak rendang." kata Rinjani mengamati Ibu Kristina menyiapkan piring
"Jangan salah, ibu suka masak rendang. Itu makanan favorit Ezra."
"Selain rendang Mas Ezra suka apalagi, bu?"
"Gudeg, sambel krecek, bakmi goreng " jawab Ezra sambil menarik kursi di samping Rinjani.
"Mas Ezra, bikin kaget" seru Rinjani. Ia dikagetkan dengan kehadiran tiba-tiba pria tersebut.
__ADS_1
"Kan saya bilang, kalau nanya langsung saja. Gak perlu lewat mama." kata Ezra sambil mengambil nasi, dan sekalian mengisi nasi di piring Rinjani.
"Gak usah banyak-banyak mas." Rinjani mengingatkan.
"Makan yang banyak, biar badannya lebih berisi." balas Ezra tidak peduli dengan protes Rinjani.
"Yah percuma donk ngegym." Rinjani gak mau kalah.
"Hehee, kalian itu sanggah-sanggahan tapi mama suka. Oh yah, habis makan Ezra ke toko ambil kain batik, buat kado manten besok. Sudah disiapin ma mbaknya kok. Rinjani temanin mas Ezra yah?" Kata bu Kristina ikut bergabung makan dengan mereka.
Berapa menit kemudian Ezra dan Rinjani bersiap diri untuk berangkat.
"Naik motor saja yah? Long weekend jalan ke Malioboro pasti sangat padat." usul Ezra kemudian menyimpan kunci mobil dan mengganti dengan kunci motor.
"Apa kita tidak terlalu besar, berdua naik motor matik mas." balas Rinjani mengingat tinggi mereka, 188 cm dan 171 cm.
"Bule-bule juga lebih besar banyak kok naik motor, ayo." sambil mengangsurkan helm ke Rinjani.
"Pegangan." pinta Ezra sambil menjalankan motor.
Rinjani hanya memegang kaos Ezra, sambil menghirup wangi parfum pria yang membuatnya terbuai hingga tanpa sadar ia menyandarkan dahi ke punggung Ezra yang lebar dan kekar.
Jalanan sore menuju Malioboro mulai padat merayap, sudah menjadi tradisi setiap tanggal merah di akhir minggu pastinya akan ramai oleh wisatawan lokal. Kebanyakan penduduk asli Jogja akan memilih menghindari rute Malioboro kecuali ada kepentingan mendesak.
Saat di lampu merah Jalan Diponegoro, Rinjani merasakan handphonenya bergetar, ia pun merogoh kantong celananya.
Pesan Harry Rajendra
Harry : mau kemana?
__ADS_1
Rinjani : eh
Harry : di belakangmu
Rinjani sontak kaget dan langsung menengok ke belakang, sebuah mobil Jeep Rubicon warna abu menyalakan lampu, matanya menatap tajam ke pengemudi, nampak Harry sambil melambaikan tangan.
Rinjani : mobilnya lain
Harry : yang kemarin itu mobil kantor, ini baru saya ambil dari rumah di Jakarta
Rinjani : keren kak
Harry : jadi mau kemana? Ma siapa itu?
Rinjani : ke Malioboro ambil batik, ini mas Ezra anaknya Bu Kristina
Harry : ya sudah, hati-hati
Rinjani : baik
Tuhan, punggungnya terasa panas. Untung Harry membelokkan mobilnya dan mereka pun berpisah jalan.
"Diam terus." sahut Ezra saat mereka tengah berada di Jalan Mangkubum, sejurus dengan Jalan Malioboro.
"Saya gak tahu mau bicara apa, mas." balas Rinjani setengah berteriak
Ezra kemudian menarik tangan kiri Rinjani menggengamnya sebentar dan meletakkan di perutnya yang berkotak.
*Seketika hadir s*ensasi hangat yang mengalir cepat di tubuh Rinjani, mungkin juga di hati.
__ADS_1
*********