
Kedatangan Rinjani di sambut oleh gerimis hujan sore itu, dengan berlari kecil sambil mengangkat koper kecilnya dia memasuki ruang kedatangan bandara Adisucipto dan langsung berjalan menuju pintu keluar. Dia rindu Jogja dan sosok pria jangkung yang tersenyum lebar melihat Rinjani yang berjalan mendekat.
"Aku merindukanmu" bisik Ezra saat Rinjani memeluknya
"Baru 6 hari kok"
"Itu lama sayang" kata Ezra sambil mengambil koper mini Rinjani dan merangkulnya menuju parkiran "kita makannya di Mal Ambarukm* yh?"
"Iya boleh, aku juga mau belanja kebutuhan buat bersih-bersih rumah" jawab Rinjani, sekarang dia bisa berbicara tanpa sungkan ke Ezra, mungkin karena enam hari terakhir mereka akrab lewat pesan dan telepon yang tanpa putus
...
Sambil bergandengan dengan mesra, mereka keluar dari tempat makan khas Jepang lantai tiga mal tersebut.
"Rinjani" panggil seseorang dengan suara yang sangat dikenalnya, Rinjani membalikkan badan dan melihat Radit bersama teman prianya
"Radit" seru Rinjani, mencoba melepaskan genggaman tangan tapi malah makin dieratkan oleh Ezra
"Aku tidak tahu kalau kamu sudah kembali" ucap Radit menatap Rinjani dengan tersenyum lebar
"Baru nyampe tadi sore dit, sorry lupa ngabarin" kata Rinjani, untuk pertama kalinya dia lupa memberi kabar di grup chat batiga "oh iya, kenalin ini mas Ezra" lanjutnya
"Radit" menyambut tangan Ezra
Kemudian mereka saling bersalaman, Ezra dan Radit
"Indra" ucap pria di samping Radit, pria sama tinggi dengan Rinjani, berkulit putih bersih, dengan rambut diwarnai coklat pirang
"Rinjani"
__ADS_1
....
"Jadi itu Rinjani...Rinjanimu?" Seru Indra sesaat mereka telah berpisah dengan tujuan berbeda
"Hu..um" singkat Radit dengan pikiran yang kalut
"Ternyata aslinya lebih cantik, ketimbang aku lihat di foto sosmedmu dit, mirip siapa yah?"
"Dia cantik bukan?"
"Cantik! Yah aku tau, dia mirip Maudy Koesnady!"
"Umurmu berapa sih teman?" Kata Radit heran melirik temannya
"Sama kek kamu, tapi sumpah dia mirip Maudy saat muda, coba deh kau browsing. Cuma Rinjanimu misterius, matanya tajam, gak lembut kek Maudy. Dia gak cocok dengan pria bersamanya tadi. Ezra!"
"Kenapa kamu bisa tahu?"
"Berisik!" Ucap Radit kesal
...
"Jadi Radit temanmu dari kuliah?" tanya Ezra di perjalanan pulang
"Sahabat mas, kami bertiga dengan Widya. Nanti kapan-kapan kita bertemu"
"Beneran cuma sahabat?"
"Mas Ezra, kan sudah aku bilang, sahabat" kata Rinjani mencoba bersabar
__ADS_1
"Apa dia g*y? Tadi teman prianya?"
"Bukan, Radit tidak seperti itu. Sudah mas, jangan diperpanjang" Rinjani mulai kesal
"Maafkan aku sayang" ucap Ezra sambil mengusap pelan rambut Rinjani
Ini mungkin pertengkaran pertama mereka dengan hubungan yang masih terhitung baru seminggu. Rinjani tidak suka orang yang dia sayangi dihakimi dengan pemikiran seperti itu. Kalau pun iya, itu kehidupan pribadi seseorang, terserah Radit jika ingin menjalaninya, orang lain harus tetap berada di luar garis tidak melewati batasan.
...
Seminggu kemudian, di kafe favorit Widya yang berada di Kotabaru. Mereka akhirnya sepakat bertemu.
"Jadi kamu pacaran dengan Ezra?" Tanya Widya
"Huum" singkat Rinjani sambil menyesap jus alpokatnya
"Cakep, tinggi, keren sayang. Tipe kamu banget nih" kata Widya sambil melihat foto di handphone Rinjani "kenapa kamu cuma diam saja sih" lanjutnya menyikut Radit di sampingnya
"Jadi ini serius?" Tanya Widya lagi
"Dari sejak awal mas Ezra mengajak menikah" kata Rinjani berseri-seri
Radit yang tadi mau mengambil gelas jusnya di meja langsung terhenti mendengar ucapan gadis di depannya, dan menatap Rinjani yang terlihat bahagia.
"Apa?" Seru Widya menutup bibirnya "Jadi kamu akan menikah?"
"Secara lamaran resmi belum. Tapi hei, kami baru saja pacaran. Aku belum tahu semua tentang mas Ezra"
"Kalau aku di posisimu, aku akan menikah dengannya" tawa Widya diiringi tatapan tajam Radit kearahnya
__ADS_1
"Aku belum siap, aku pengen kuliah lagi"
Widya dan Radit menatap Rinjani, mereka hapal sorot mata dan raut muka itu.