
Setiap Sabtu Minggu merupakan hari ritual Radit Rinjani untuk menghabiskan lebih banyak di tempat tidur, pastinya bercinta dan berpelukan seharian.
"I love you" gumam Rinjani di dada telanjang suaminya
"I love you too sayang" balas Radit mencium puncak kepala sembari mengelus punggung polos Rinjani
"Jam berapa sekarang? Bukannya kamu ada janjian dengan teman-temanmu suami?" Tanya Rinjani sedikit menengadah menatap Radit
"Huff jam 10... Aku malas, please sayang ikutlah denganku" bujuk Radit mencium kening istrinya
Sejak pertemuan dengan Melisa - istri Harry dua bulan lalu, membuat Radit akhirnya bisa bertemu dengan Jojo dan Nathan teman SMP nya, yang juga menetap di Bali dan pertemuan mereka menjadi intens. Jojo pengusaha property dan Nathan mempunyai beberapa kafe dengan berbagai konsep. Akhir-akhir ini Radit mulai tertarik untuk membuka bisnis kafe, mencoba memanfaatkan peluang dan mencari kesibukan pengusir kebosanan di tinggal kerja oleh Rinjani.
"Pergilah suami, aku di rumah saja. Ada beberapa design yang harus aku kerjakan" kata Rinjani beranjak bangun "ayo kita mandi" sembari menarik tangan Radit yang langsung seperti kerbau dicucuk hidungnya, dengan semangat mengikuti istrinya menuju kamar mandi.
...
"Hati-hati nyetirnya" kata Rinjani dalam pelukan nyaman Radit, sebenarnya dia juga enggan melepas suaminya
"Iya sayang" kata Radit lalu mencium dalam bibir Rinjani dan mengacak-acak rambut istrinya sebelum melompat naik ke belakang kemudi rubicon orange
Rinjani mengirimkan kiss bye dengan senyum lebar di balas Radit kiss bye juga lalu melajukan mobilnya. Dengan bersenandung kecil Rinjani menutup pintu gerbang, dan kembali memasuki rumah.
Sebenarnya pekerjaan design sudah lebih ringan sejak berhasil merekrut Erwin designer lulusan sekolah mode Jakarta sebulan lalu, terlepas dia adalah penyuka sesama jenis namun Erwin seolah sejiwa dengan Rinjani, cepat mengerti arahan yang diberikannya.
Rinjani melirik handphonenya telah menunjukkan pukul 3 sore, dia kemudian berdiri meluruskan punggungnya dan berjalan menuju kamar tidur. Matanya kemudian terpaku melihat handphone Radit yang berwarna putih di atas meja kerja.
"Hmmm.. dasar suami, kamu lupa handphonemu satu" gumam Rinjani meraih iphone Radit, suaminya mempunyai dua handphone, satu untuk keluarga, dan satu untuk kerjaan.
Biasanya Rinjani tidak mempedulikan handphone Radit, tapi entah apa yang membimbing tangannya mengusap layar datar itu, cuma ada satu pesan dari nomernya tak terdaftar
"Ditya ini Melisa, aku mencoba menghubungimu di nomer satunya tapi tidak aktif.. Kami sudah menunggu di sini"
Di bawah pesan ada foto berdua Radit dan Melisa yang melingkarkan tangannya manja di lengan Radit
"Ini foto kita yang kemarin, sungguh serasi bukan?"
"Aku tahu kalau suamiku sangat mencintai istrimu.. dan aku tidak keberatan jika bertukar suami"
Rinjani terduduk lemas setelah membaca pesan itu, entah berapa lama dia terdiam kemudian beranjak pelan menuju kamar belakang.
...
Radit tiba sekitar jam 7 malam dan mendapati rumah dalam keadaan gelap gulita, sejak sore dia menghubungi Rinjani namun pesan hanya centang satu.
"Sayang....." Panggil Radit setelah membuka pintu kemudian menyalakan semua lampu luar halaman dan dalam rumah
"Sayang....." Perasaan Radit mulai tidak enak, tangannya berkeringat
"Rinjani, kamu di mana?" Panggil Radit mengelilingi setiap kamar tidur dan kamar mandi
Tidak, please Tuhan! Perasaannya makin tidak karu-karuan, jantungnya semakin berdegup kencang. Hal salah apa telah aku lakukan?
"Hei Rinjani, jangan bercanda!" Teriak Radit mulai histeris
Radit kemudian melihat handphonenya di atas meja, dengan tangan gemetar membuka dan membaca pesan Melisa
"Sialan!!!!!" Teriak Radit dengan mendadak dadanya sakit, emosinya langsung ke ubun-ubun
Setengah berlari menuju kamar belakang, dan membuka lemari pakaian dia tidak mendapati koper pakaian istrinya. Dengan tangan gemetar membuka laci lemari
"Tidak ! Tidak! Tidaaaakkkk!!!!!!" Teriaknya kencang putus asa, paspor Rinjani pun sudah tidak ada. Bahu Radit terguncang airmatanya menyeruak tak tertahan lagi, sekujur tubuhnya lemas tak berdaya ambruk ke lantai, napasnya tersengal antara hati yang sakit dan emosi menguasai
__ADS_1
"Rinjani, sayangkuuuu" isak Radit berusaha berdiri kemudian mencari kembali di dalam rumah, di taman, pendopo, kolam renang.
Radit kemudian mengambil handphonenya di saku celana mencoba menghubungi nomer Rinjani lagi
"Nomer yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar jangkauan"
Air mata Radit berjatuhan, dia tidak pernah sesedih ini dalam hidupnya.
"Sayang, kamu di mana?" Sambil menekan tombol kirim pesan ke nomer Rinjani
Sambil mengepalkan tangan kirinya dia menekan nomer wanita penyebab masalah ini
"Halo Ditya, ada apa?" Kata Melisa terdengar manja
"Suamimu di rumah?" Kata Radit dengan menahan emosinya
"Ada... Kenapa?"
"Kirimkan aku lokasi rumahmu"
"Ada apa Ditya?"
"Kirimkan lokasi rumahmu!!!!" Geram Radit menggemeretakkan giginya
...
Mata Radit berkilat-kilat menatap Melisa yang duduk di samping Harry sedang kebingungan
"Rinjani menghilang" kata Radit menatap lurus Harry yang langsung tersentak mendengar kata barusan di dengarnya
"Maksud kamu?" Tanya Harry kaget
"Aku tidak menemukannya di rumah, koper dan paspornya sudah tidak ada. Tahu Pak Harry karena apa?" Kata Radit terputus lalu menatap Melisa "karena dia"
"Apa hubungan Melisa dengan Rinjani?"
"Ini" kata Radit menyerahkan handphonenya ke tangan Harry "aku tidak membawa handphone yang ini, Melisa mengirimkan pesan itu dan Rinjani membacanya"
"Brengsek!!!" Teriak Harry langsung berdiri menatap tajam ke arah Melisa, bahunya naik turun tangannya mengepal dan meninju bahu sofa tempat Melisa duduk
"Ahhhhh" pekik Melisa kaget, tubuhnya gemetar ketakutan
"Berani-beraninya kamu Melisa! Kamu pikir kamu siapa mau barter dengan Rinjani? 10 macam kamu tidak sebanding dengan dia!!! Hardik Harry emosi "Naik!!! Kamu ke kamarmu, urusan kita belum selesai!"
Melisa dengan bercucuran air mata dan badan gemetar patuh mengikuti perintah Harry yang selama ini selalu dingin kepadanya
"Maafkan aku" kata Harry kemudian terduduk menatap Radit dengan tatapan kosong "sudah menghubungi keluarga?"
"Sudah, abangnya" balas Radit "tapi Rinjani bukan tipe yang kembali ke keluarga jika ada masalah" lanjutnya sembari menyisir rambut sedikit keras dengan kedua tangan
"Aku akan mencoba menghubungi temanku untuk mengecek data penumpang pesawat dan data tamu hotel di Bali" Kata Harry mencoba tenang
"Terima kasih, aku juga akan mencoba mencari Rinjani lagi" kata Radit menghela napas panjang yang setiap helaan napasnya seperti ribuan jarum menancap di jantungnya
"Kita akan berkabar" kata Harry mengantarkan Radit ke depan pintu
"Bapak tahu kenapa Rinjani tidak melanjutkan hubungan dengan bapak 4 tahun lalu?" Tanya Radit berbalik menatap Harry
Yah, ini yang tidak pernah diketahuinya! Pekik Harry dalam hati
"Rinjani saat itu mencintai bapak, sampai menangis di depanku.. tapi dia melepaskan perasaannya, karena dia tidak bisa bersaing dengan mendiang istri bapak" jelas Radit dengan sorot mata menyakinkan lawan bicaranya
__ADS_1
"Hah ! Apa?"
"Saat tidur bareng, bapak malam itu menggigau memanggil mendiang istri. Itulah alasannya Rinjani melepaskan bapak" kata Radit sambil senyum tipis dengan bibir bergetar
Mereka kemudian terdiam...
"Saya permisi pak" kata Radit berbalik menuju mobilnya
Tinggallah Harry mendekap mulut dengan tangan kanannya, ternyata semua adalah salahku sendiri. Dengan bergegas dia menuju lantai 2 dan membuka kamar tidur di mana Melisa sedang terduduk menangis di pinggiran bed.
"Kemasi barang-barangmu, semuanya! Bahkan selembar rambut jangan kamu simpan di rumah ini" kata Harry dingin menatap dengan sorot mata tajam ke arah Melisa
"Kenapa?" Tanya Melisa dengan terisak
"Besok kamu kembali ke Jakarta, aku menceraikanmu!"
"Tidak!" Pekik Melisa langsung berdiri mendekat ke arah Harry
"Ingat Melisa, ini pernikahan apa? Pernikahan bisnis, aku saat ini bisa langsung menghancurkan usaha keluargamu tak bersisa!" Ancam Harry tanpa menahan amarahnya
"Aku hamil" kata Melisa terduduk di dekat kaki Harry yang membuat Harry mundur berapa langkah
"Jangan mengada-ada, kamu datang bulan dua minggu lalu dan sejak itu aku tidak pernah mencumbuimu! Jadi hati-hati dengan ucapanmu!"
Sialan wanita apa yang aku nikahi ini ! Rutuk Harry dalam hati
"Aku akan memberikanmu kompensasi atas perceraian ini, harta yang bisa kamu hambur-hamburkan untuk mengejar suami orang lain! Tapi ingat, jangan pernah dekati Radit dan Rinjani lagi, Jika itu kamu lakukan tanganku sendiri yang akan menghabisimu!" Kata Harry dengan keras kemudian keluar menutup pintu dengan keras dan berjalan menuju kamar anaknya
"Papaaaa" seru Maisya melihat kedatangan Harry
"Saya permisi ya pak" kata mbak Tini pengasuh Maisya dibalas anggukan oleh Harry
Maisya mengisyaratkan untuk Harry duduk di dekatnya
"Nak... Mami besok mau kembali ke Jakarta" kata Harry dengan pelan sembari duduk di samping Maisya
Maisya menatap papanya sebentar kemudian kembali meneruskan coretan pensil warnanya
"Mami pergi terus tidak kembali lagi" lanjut Harry "Maisya tidak apa-apa?" Bujuk Harry sambil mengusap halus punggung anaknya
"Hmmm... Iya, Maisya punya kakak tidak perlu mami. Ini kakak loh pa.." seru Maisya menunjukkan gambar ala kadarnya "ini kakak, ini Maisya, dan ini papa" lanjutnya menunjuk satu-satu gambarnya yang terlihat lucu
Harry tersenyum dengan getir, mungkin sembilu sedang merajam hatinya.
"Pa, Maisya kangen kakak" kata Maisya lalu memeluk papanya
Harry melayangkan pandangannya ke meja nakas samping tempat tidur Maisya, di situ ada bingkai foto berisi gambar yang diambilnya dua bulan lalu. Dua wanita yang dicintainya tersenyum indah.
"Iya, papa juga kangen kakak" gumam Harry dengan lirih
###
aloooo kesayangan 🙏🏻
please don't hate me 🤭
hidup perlu drama bukan? 🥺
Happy Weekend 💃😄
love,
__ADS_1
D 😘