
Hari berganti hari, bulan berganti bulan, tak terasa sudah 10 bulan lamanya. Nadin masih tetap sama dengan kondisinya seperti dulu. Tidak ada perubahan yang signifikan. Keluarga Nadin seakan sudah putus harapan. Tetapi tidak untuk Zayn. Dia tidak akan pernah menyerah. Bahkan beberapa dokter handal di London dan Amerika didatangkan langsung untuk menangani kondisi Nadin.
Sayang.. sungguh sayang, kondisi Nadin tetap sama. Entah apa yang sedang dialami olehnya.
Beberapa bulan terakhir ini, Zayn dibuat geram oleh tingkah Livia yang semakin liar. Zayn masih teringat kejadian seminggu yang lalu. Dia terbangun dalam keadaan tak memakai sehelai pakaian setelah malam dimana Livia membantunya masuk kedalam kamar.
Pagi tadi ibu Maya datang. Sehingga Zayn tidak merasa nyaman, pasalnya dia takut jika Livia menunjukkan perhatiannya yang berlebihan di depan ibu mertuanya.
Sebenarnya Zayn ingin sekali memecat Livia. Tetapi itu tidak mungkin, karena Rafa sudah sangat dekat dengan dia. Untuk mencari pengganti Livia juga tidak mudah, pikirnya.
Terlihat sore itu mobil Zayn memasuki halaman rumah mewah milikknya. Dia pulang lebih awal dari biasanya.
Livia yang kala itu sedang duduk di ruang tengah, dia asyik dengan majalah yang dibacanya. Rafa sedang keluar dengan ibu Maya, jadi Livia bisa bersantai sejenak.
Mata Livia tidak sengaja menangkap sosok pria yang sudah mengisi hatinya beberapa bulan terakhir. Dia segera beranjak dari duduknya kemudian berjalan menghampirinya.
" Tuan, anda baru pulang. ?? "
" Hem.. Dimana Rafa ?? "
" Tuan muda Rafa sedang keluar bersama nyonya besar, tuan "
Zayn berdehem kemudian dia melanjutkan langkahnya menaiki tangga dan menuju kamarnya. Seakan tidak merasa terpengaruh akan kehadiran Livia.
Entah sejak kapan, Livia menyimpan perasaan terhadap Zayn. Setelah kejadian mereka menghabiskan malam berdua seminggu yang lalu, Livia seakan terhipnotis akan pesona zayn.
Hatinya sedang berbunga-bunga hanya melihat sosok zayn. Livia segera pergi kedapur untuk membuatkan minuman. Setelah siap dia segera keluar dari dapur dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Zayn.
Tidak disangka ibu Maya yang baru saja masuk kedalam rumah dengan menggendong Rafa, juga bertepatan akan menaiki tangga. Dia melihat Livia yang baru saja sampai dilantai atas. Dia dengan langkah cepat menaiki tangga karena ingin sekalian menitipkan Rafa padanya.
Ibu Maya mengernyitkan dahi. Karena Livia bukan berbelok kearah kamarnya, dia berbelok kearah kamar Zayn.
__ADS_1
" Mau kemana kamu Livia ?? "
Seketika Livia menegang.
' Kenapa wanita tua ini datang pada waktu yang tidak tepat. Sial !! '
Livia segera berbalik. Dia menatap ibu Maya dengan sedikit memberikan senyuman palsu.
" Tadi tuan meminta untuk dibuatkan teh, nyonya. Karena kebetulan saya sedang di dapur, jadi saya ingin mengantar minuman ini kekamar tuan, nyonya. " alibi Livia
" Oh.. yasudah.. Cepat datang ke kamar saya jika sudah mengantarkan minumannya. Saya akan menjenguk Nadin setelah ini. !! "
" Baik nyonya. !! "
Ibu Maya berbalik menuju kamar tamu yang biasa ditempati olehnya Ketika menginap di rumah menantunya itu.
" Ku perhatikan jika Livia selalu mencari alasan untuk dapat dekat dengan Zayn. Apa jangan-jangan... Ah.. mana mungkin Zayn melakukan hal itu dibelakang Nadin.. "
gumam ibu Maya.
Livia kembali melanjutkan niatnya. Dia berbalik dan melangkah menuju kamar Zayn.
tok tok tok
Setelah beberapa saat pintu terbuka. Livia terperangah melihat Zayn yang sudah tampan dan segar. Livia tidak berkedip saat melihat tubuh Zayn yang sedang bertelanjang dada. Bahkan harum sampo yang digunakan olehnya dapat tercium oleh Indra penciuman Livia. Dia yakin jika majikannya itu baru saja selesai mandi. Seakan memanggil gairah perempuan yang saat ini berdiri didepan Zayn.
" Livia... " bentak Zayn. Dia beberapa kali memanggil tapi Livia belum juga menyahut.
" Eh... "
__ADS_1
" Ada apa ?? " tanya Zayn ketus
" Mmm saya membuatkan teh untuk anda, tuan. "
Zayn mendesah pelan. Dia merasa tidak meminta apapun dari wanita itu. Benar-benar memuakkan. batinnya.
" Baiklah, terimakasih. Kamu boleh pergi. !! "
Setelah Zayn mengambil cangkir teh dari tangan Livia, dia segera menutup pintunya.
" Huufft... Kenapa aku jadi semakin tertarik padanya.. " Gumam Livia sambil meninggalkan kamar Zayn menuju kamar ibu Maya. Bahkan senyuman di wajahnya seakan tidak memudar. Mengingat betapa gagahnya Zayn dalam keadaan seperti itu.
******
" Sayang... Bangunlah, nak !! Rafa dan Zayn sangat merindukanmu. "
Ibu Maya baru saja sampai dikamar rawat inap Nadin. Suasana hatinya berubah saat dia melihat putri cantiknya itu terbaring di ranjang rumah sakit.
Ibu Maya duduk dikursi yang ada disamping ranjang nadin. Dia menggenggam tangan Nadin sambil menatap lekat wajah putrinya itu.
" Nadin, kamu tau jika sekarang Rafa sudah semakin pintar. Seringkali dia merajuk, entah apa yang sedang dia inginkan.? Mungkin dia merasa sangat merindukan belaian tangan darimu, nak "
Ibu Maya menangis, dia menumpahkan segala kesedihannya. Tadi sore sebelum datang kemari dia juga melihat Livia yang sedang mengantarkan minuman untuk Zayn.
Sebenarnya dia sakit hati, bagaimana tidak. Seharusnya hal itu dilakukan oleh anaknya, tapi malah seorang pengasuh yang melakukannya.
" Kamu tahu nak, Zayn selalu datang kemari. Apa kamu bisa merasakan kesedihannya?? Dia sangat merindukan mu, Nadin. Lekaslah Sadar, nak !!"
Tak kuasa menahan sesak, ibu Maya menangis tersedu-sedu. Mengingat kejadian dimasa lalu. Seakan tidak percaya jika sekarang Nadin sedang koma.
Dirasa sudah cukup malam. Waktu berkunjung pun habis. Dengan segera ibu Maya pergi dari kamar Nadin.
__ADS_1
" Sayang.. ibu pulang dulu. Besok ibu akan kembali lagi "
Setelah mengecup sayang kening nadin, ibu Maya segera meninggalkan kamar nadin. Dia berjalan pulang dengan masih membawa kesedihan yang mendalam.