
Satu Minggu telah berlalu setelah kejadian dihotel itu terjadi. Zayn beberapa hari belakangan ini terlihat sangat sibuk sekali. Bahkan dia tidak menyadari jika sosok wanita yang sangat dia benci sering kali berkunjung di mansionnya.
Wanita itu sangatlah nekat untuk dapat melihat sosok pria yang sudah dirindukannya selama beberapa hari belakangan ini.
Sore itu, Livia sedang duduk santai di ruang tengah. Sedari tadi laurin sudah menyuruhnya untuk kembali pulang kerumah yang sudah disiapkan untuknya, tapi sayang beribu sayang. Livia lebih memilih untuk tetap tinggal dan tidak menghiraukannya.
" Aku sangat merindukannya. Apa aku salah jika aku hanya ingin melihatnya. " Gumamnya sendiri sambil tetap fokus pada majalah yang dibacanya.
Hooaammm...
Berulang kali Livia menguap karena rasa kantuk menghampirinya.
Beberapa jam sudah berlalu. Terlihat livia tertidur pulas disana dengan posisi duduk sambil bersender pada sofa. Entah sudah berapa jam lamanya dia menunggu zayn. Tapi yang ditunggu bahkan belum menunjukkan tanda-tanda kedatangannya.
Tepat pukul 11 malam sebuah mobil mewah memasuki halaman mension keluarga Orlando. Zayn turun dari mobil kemudian berjalan kearah pintu utama. Zayn segera masuk setelah pintunya terbuka. Dia berjalan pelan dengan wajah yang terlihat lelah. Urusan kantor sudah membuat dirinya tidak bisa membiarkan otak dan tubuhnya bersantai barang sejenak.
Saat zayn akan menaiki tangga, langkahnya terhenti ketika seseorang memanggilnya.
" Tuan, anda baru saja pulang ?? "
Sambutan dari Livia membuat Zayn meradang.
" Apa yang kau lakukan disini, hah ?? "
Livia terpekik saat mendengar teriakkan dari zayn.
" Saya.. saya hanya ingin melihat anda saja, tuan. Tolong biarkan saya menginap disini semalam. !! "
__ADS_1
" Keluar !! " Bentak Zayn
" Tuan, saya mohon. Ini sudah sangat larut jika saya kembali ke rumah itu "
Zayn menatap tajam kearah Livia. Sedangkan yang ditatapnya hanya memasang wajah melas. Bahkan Livia tidak segan menangis saat itu juga. Entah itu memang benar karena dia sedang bersedih atau hanya akal-akalan dirinya saja.
" Kumohon hanya semalam saja, tuan !! "
" Pak Louis.. pak Louis.. "
Amarahnya sudah menguasai dirinya. Urusan kantor sudah memenuhi isi kepalanya dan sekarang Melihat sosok wanita itu, membuat dirinya tidak bisa lagi menahan emosinya.
Setelah beberapa kali memanggil nama sopir pribadinya, akhirnya pak Louis datang dengan terburu-buru.
" Iyah, ada apa tuan ?? "
" Tolong antar wanita ini pulang. !! "
Setelah melihat paman Louis keluar untuk menyiapkan mobil, zayn segera beranjak menaiki anak tangga dengan sedikit berlari. Rasa kesalnya harus segera diredam. Dia tidak ingin membuang tenaganya hanya untuk mengurusi wanita licik itu.
Zayn menghembuskan nafas panjang saat dirinya sudah masuk kedalam kamar. Dia segera melepaskan satu persatu pakaiannya dan dilemparkan disembarang tempat.
Hal semacam itu sudah biasa dilakukannya, Karena setiap pagi akan ada pelayan yang akan membersihkan kamarnya. Kebiasaan ini sangat berbeda sekali saat dirinya tinggal bersama dengan Nadin di apartemen miliknya dulu. Yah.. Nadin memang wanita yang rapi dan menyukai kebersihan. Dan hal itu membuat Zayn mengikuti kebiasaan istrinya, tapi entah kenapa hal itu seakan menghilang dari dirinya ketika dia berpisah dengan istrinya hingga sampai saat ini.
Setelah Zayn selesai mandi dan memakai piyama tidurnya. Dia memilih untuk segera merebahkan tubuhnya yang sudah sangat lelah karena mengurusi pekerjaannya sejak pagi. Tidak menunggu waktu lama dirinya sudah tertidur pulas memasuki alam mimpinya.
***
__ADS_1
Livia masih mematung ditempatnya saat melihat Zayn menaiki tangga menuju kamarnya. Dia menghela nafasnya.
" Livia, Ayo paman antarkan kamu kembali pulang. !! "
Tanpa menyauti perkataan paman louis yang baru saja datang, Livia segera berbalik dan berjalan perlahan menuju pintu utama mansion itu. Dia keluar dari sana dan masuk kedalam mobil yang sudah disiapkan oleh paman Louis di halaman depan mansion.
Tanpa berbicara apapun, dia duduk di kursi belakang sambil menyenderkan punggungnya di sandaran kursi mobil. Mencari posisi ternyaman untuk dirinya.
Tidak lama kemudian paman Louis masuk kedalam mobil dan segera melajukan mobilnya.
' ***Aku hanya merindukan dirinya. Aku hanya ingin dia mengelus perutku saja. Tapi, kenapa dia sangat kasar sekali seperti itu. Bahkan aku belum juga mengutarakan keinginanku. '
' Aku tidak pernah mengharapkan rasa cintaku berakhir padanya. Tapi takdir membawaku pada keadaan yang seperti ini. '
' Mencintai pria yang sudah beristri memang tidak wajar. Tapi, aku harus bagaimana lagi jika semua sudah seperti ini. Bahkan sekarang menyentuhnya saja aku tidak bisa*** '
' Semoga saja nanti, dia bisa menerima anak ini seperti tuan muda Rafa. '
Tak kuasa menahan perih yang bergejolak dihatinya, Livia menangis dalam diamnya. Dia terus menerus mengingat setiap kejadian yang telah terjadi beberapa bulan terakhir. Antara menyesal dan tidak, semua itu dirasa percuma. Karena saat ini hanya bayi yang ada didalam kandungannya itu yang dipikirkannya.
Livia mengelus perutnya dengan perlahan dan penuh kasih sayang. Dia merasa sangat bersalah atas kehadiran bayi yang ada diperutnya itu. Tapi dia tidak bisa menyerah begitu saja. Dia juga ingin Zayn untuk mengakui anaknya sama seperti Rafa.
' Aku akan memperjuangkan statusmu, sayang. Kamu jangan bersedih, kamu harus kuat agar bisa bantu mami untuk mendapatkan hak dan tanggung jawab dari daddymu, nak '
Rasa penyesalan yang baru saja dirasakannya seakan menghilang ketika dia memikirkan keadaan anaknya setelah lahir nanti. Sambil terus mengusap perutnya, Livia berbisik dalam hati. Meminta kekuatan pada anaknya agar kelak dapat meminta pertanggungjawaban dari Zayn. Begitulah pikirnya.
Tidak terasa Selama kurang lebih 45 menit perjalanan, akhirnya mobil yang ditumpanginya sudah sampai di depan halaman rumah mewah yang ditempati olehnya selama beberapa hari belakangan.
__ADS_1
Livia segera turun dari mobil dan segera berjalan mendekati gerbang rumah mewah yang ditinggali olehnya itu. Setelah memencet bel beberapa kali akhirnya seorang pelayan membukakan pintu gerbangnya. Livia segera masuk kedalam dengan wajah yang ditekuk.
Dirasa Livia sudah aman dan masuk kedalam rumah mewah itu. paman louis segera menyalakan mobilnya kemudian melajukan mobilnya menuju kearah mansion Orlando kembali.