Cinta Luar Biasa

Cinta Luar Biasa
Ekstra part Cerita Livia 4


__ADS_3

Malam ini mansion keluarga Orlando terlihat begitu sepi, karena tadi pagi laurin dan Laura berangkat berlibur ke Italia. Sedangkan Zayn belum juga pulang hingga pukul 9 malam. Ibu Maya pun sudah kembali ke negaranya dua hari yang lalu.


Para pelayan nampak sudah kembali ke kamar mereka. Rafa juga sudah tertidur sedari tadi. Hanya seseorang yang masih berjaga.


Yah.. Livia, wanita itu berdandan sedikit lebih sexy dari biasanya. Dia sedang duduk di sofa yang ada dikamar Rafa sambil memainkan ponselnya. Seperti sedang melakukan chatting dengan seseorang.


***


" Leon, lebih baik kita lanjutkan besok saja.! "


" Iyah, baiklah tuan "


Mereka berdua saling membereskan beberapa dokumen yang sedang mereka kerjakan di atas meja.


Setelah selesai, mereka berdua segera keluar dari ruangan itu dan berjalan menuju basement. Setelah masuk kedalam mobil Leon yang mengemudikan mobil itu segera melaju kencang menuju mansion keluarga Orlando.


Selama perjalanan kurang lebih 30 menit akhirnya mobil mewah itu sampai di depan gerbang dan segera memasuki halaman mansion.


" Leon, besok aku akan berangkat dengan mobilku saja. Kau tidak perlu menjemput ku !! "


" Baik, tuan. "


Tepat pukul 11 malam Zayn masuk kedalam mansion milik keluarganya. Zayn berjalan pelan menuju kamarnya. Nampak guratan wajahnya sangat letih.


Baru saja Zayn meraih handle pintu kamarnya dan ingin membuka pintunya, seseorang memanggilnya yang membuat Zayn mengurungkan niatnya.


" Tuan, anda baru pulang. ? "


" Ah, kau mengagetkan saja. Ada apa ??"


Zayn mengernyitkan dahi. Dia melihat Livia yang tidak seperti biasanya. Tapi dia tidak menghiraukannya.


" Mmmm.. saya sudah buatkan teh untuk anda, tuan. Mungkin mulai agak dingin "


" Lain kali, kau tidak perlu melakukan ini lagi. Sudah, kembali lah ke kamarmu !! " Zayn baru saja membuka pintu kamarnya, Livia menyahutnya lagi.


" Iyah.. tapi tehnya, tuan. "


Zayn berbalik dan melihat Livia dengan malas. Rasanya saat ini dia ingin mandi dan segera tidur, bukan untuk meladeni wanita itu.


" Ah.. baiklah, terimakasih "


Zayn segera mengambil cangkir teh yang ada ditangan Livia. Dia sudah sangat malas jika harus meladeninya lagi. Segera dia masuk ke kamarnya setelah mengambil cangkir itu.


Sedangkan Livia tersenyum lebar. Dia seakan begitu bahagia, entah apa yang sedang dia rencanakan kali ini.


****


Baru saja Zayn keluar dari kamar mandi, dia tampak lebih segar. Setelah memakai piyama tidurnya, dia segera merebahkan tubuhnya di atas kasur.


" Aaahh... nyaman sekali... "


Zayn melirik secangkir teh yang tadi dibawakan oleh Livia. Tidak bisa dipungkiri jika saat ini dia haus. Tanpa pikir panjang lagi, Zayn segera maraih cangkir teh itu dan segera meneguknya hingga tak tersisa.


Entah sejak kapan, Livia masuk kedalam kamar Zayn. Dia sedari tadi memperhatikan setiap gerakan yang Zayn lakukan. Livia yang berdiri di dekat pintu itu, menyeringai saat melihat Zayn meminum teh buatannya tadi.


Selama beberapa menit, Livia mulai berani berjalan mendekat dan segera duduk di sofa dekat tempat tidur.


Zayn terlihat menggeliat sambil memegang kepalanya. Lagi dan lagi Livia hanya tersenyum melihatnya.


' Sepertinya, Obat itu sudah bereaksi. Akhirnya aku akan menikmati malam bersama lagi denganmu, tuan. '


Zayn bangun dari tidurnya, dia menatap lekat sosok Livia yang duduk di sofa.


" Sayang, apa itu kamu ??"

__ADS_1


" Aaaarrghhhh.... "


Zayn mengerang karena Marasakan sesuatu yang tidak biasa dalam dirinya. Dia segera melepaskan atasannya sambil berjalan sempoyongan untuk mendekati Livia yang saat ini dianggap olehnya adalah sosok istrinya.


Dengan cepat Zayn membawa Livia keatas tempat tidurnya. Nahas, kejadian yang seharusnya tidak boleh dilakukan oleh mereka berdua, seakan tidak dapat dicegah lagi. Bahkan Livia sangat menikmatinya.


Livia yang diperlakukan seperti itu oleh Zayn, begitu sangat bahagia. Baru kali ini seorang lelaki memperlakukannya dengan sangat lembut dan penuh cinta.


" Nadin, aku mencintaimu... "


bisik Zayn ketika dia akan menyudahi permainannya.


" sialan !! Setelah ini, hanya namaku yang akan kamu sebut, tuan " gumam Livia dalam hati.


Setelah itu mereka berdua tertidur pulas tanpa memikirkan hal apa yang terjadi esok hari. Livia dengan begitu nyamannya tidur sambil memeluk Zayn.


****


" Apa yang kau lakukan disini, Livia ?? "


Teriak Zayn yang melihat Livia baru keluar dari kamar mandinya dan berjalan mendekati ranjangnya.


" Ah.. Anda mengagetkan saja, tuan. Maaf, saya baru saja membersihkan diri. "


" KAU.. CEPAT KELUAR DARI SINI.. !!!! "


Zayn begitu geram karena melihat dirinya yang sedang telanjang. Dia juga melihat Livia yang ada dikamarnya. Saat ini dia begitu marah pada pengasuh anaknya itu yang berani masuk ke kamarnya.


Livia segera keluar dari kamar Zayn. Seperti tidak terjadi sesuatu diantara mereka. Livia terlihat biasa saja, bahkan dia juga sangat sopan saat berpamitan keluar dari kamar itu.


Zayn sedikit merasa pusing ketika mencoba mengingat kejadian semalam. Dia tidak tahu jika minuman yang dibuatkan oleh Livia sudah dicampur dengan obat perangsang.


" Dasar Bren***k..... " Teriak Zayn yang sedang meluapkan emosinya.


" Aku akan memecatnya setelah ini. "


Zayn duduk dikursi meja makan. Dia terlihat sangat menikmati sarapannya. Rafa juga duduk di baby chair khusus untuknya sambil makan sarapannya dengan disuapi oleh Livia.


Setelah Zayn menghabiskan sarapannya. Dia segera mengalihkan pandangannya kearah Rafa dan Livia. Kemudian Zayn memanggil BI nela.


" Bi nela... bi.... "


Bi nela datang sambil sedikit berlari.


" Ada apa, tuan ?? "


" Tolong lanjutkan pekerjaan Livia. !! Saya sedang ada urusan dengannya "


" Baik, tuan "


Setelah itu Zayn menatap Livia dan saat ini Livia juga sedang menatapnya. Bi nela segera meraih mangkok bubur yang ada di tangan Livia.


" Ikut saya !! " titah Zayn pada Livia. Dia yang tadinya sudah berdiri, segera berbalik menuju keruang kerjanya.


Setelah mengangguk kecil, Livia segera berdiri dan mengikuti langkah kaki Zayn keruang kerjanya.


***


Srreeeeekkkk...


" Ambil. Itu adalah gaji dan pesangon untukmu. "


" Hah ?? Apa maksudnya ini, tuan ?? Anda memecat saya ?? "


" Hemm.. Ambillah dan segera pergi dari sini !! "

__ADS_1


" Apa salah saya, tuan. ?? "


" Kau.. Tidak perlu mengelak lagi. Aku sudah tau apa yang kamu lakukan padaku kemarin malam "


Seakan tidak merasa bersalah atas apa yang terjadi, dia bahkan tidak merasa melakukan sesuatu apapun pada tuannya itu.


" Tuan, apa anda lupa jika anda juga menikmatinya ? Mengapa saya dipecat hanya karena kejadian kemarin. Jelas-jelas anda yang menginginkan kehadiran saya. "


" Apa yang kamu katakan Livia ?? " bentak Zayn. Saat ini emosi zayn sudah ingin diluapkan pada wanita yang ada didepannya itu.


" Anda bisa melihatnya sendiri, tuan. " Livia segera merogoh ponselnya di dalam saku roknya. Sambil tersenyum penuh arti.


Zayn meraih ponsel Livia. Segera dia melihat video yang ditunjukkan oleh Livia. Seketika matanya terbelalak melihat video yang ada di ponsel itu.


" Dasar JA***G kau, Livia " teriak Zayn sambil membanting ponsel Livia.


Praaaaannggg


" Ah... " Livia begitu terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Zayn. Dia mendelik melihat ponselnya yang sudah hancur.


Sesaat dia tersenyum licik.


" Tuan, anda bisa merusak ponsel saya. Tapi saya masih memiliki salinan video itu. Apa perlu saya mengirimkan video itu pada nyonya besar dan juga nona laurin, tuan. "


Kedua manik mereka bertemu dan saling beradu pandang. Mengisyaratkan emosi masing-masing.


" KAU.."


" Tenanglah, tuan. Anggap saja tidak terjadi apapun pada kita. Saya akan merahasiakan kejadian kemarin. Bagaimana ?? "


Ucap Livia dengan santai


" Baiklah.. Diam anda saya artikan setuju, tuan. Kalau begitu saya permisi. "


Lanjutnya. Sebelum dia keluar, Livia melihat sekilas wajah Zayn yang merah padam karena memendam amarahnya.


Setelah Livia keluar dan menutup pintunya, terlihat Zayn melemparkan segela benda yang ada di atas meja.


" Aaaaaaaarggghh... "


" BREN***K "


Zayn memejamkan matanya. Dia seakan kalah dalam melawan kenyataan. Masalah Nadin sudah membuatnya sesak dan sekarang wanita itu juga memberikan beban baru pada hidupnya.


Zayn merasa bersalah pada Nadin, istrinya. Dia kembali mengingat setiap kejadian dimana dia seperti orang gila yang mencari Nadin di setiap kota. Dan semua usahanya itu selalu dikalahkan oleh kenyataan.


Monic sudah mengalihkan semua orang kepercayaannya tanpa dia sadari, dan sekarang dia juga dikalahkan oleh kenyataan lain. Dia kalah dalam permainan seseorang yang mengasuh anaknya tanpa diduga olehnya.


Sungguh saat ini, Zayn merasa bodoh akan dirinya. Dia seperti orang kecil yang tidak bisa berbuat apa-apa. Seketika itu Zayn meneteskan air matanya.


Seakan hidupnya telah dipermainkan oleh takdir tuhan. Seperti sudah begitu lelah untuk melawan kenyataan. Bahkan Zayn sampai sesenggukan dalam tangisnya. Saat ini dia hanya membutuhkan istrinya saja, yang mungkin bisa membantu meringankan bebannya. Tapi sayang, bahkan istrinya pun juga sedang menjadi beban pikirannya.


Sesaat Zayn tersadar dari tangisnya. Dia segera mengusap kasar wajahnya. Dia harus kuat untuk menjalani takdir ini. Dia harus bertahan dari keadaan ini. Segera dia meraih ponselnya di dalam saku dan melakukan panggilan dengan seseorang.


" Yah.. cari tahu dengan detail. "


"..... "


" Nanti, akan ku kitimkan fotonya. "


"..... "


" Baiklah. Kutunggu kabar darimu secepatnya. !! "


Setelah menggeser tombol merah. Zayn menghembuskan nafasnya sedikit panjang.

__ADS_1


' Nadin, kumohon maafkanlah aku atas kejadian ini '


__ADS_2