
Sebulan berlalu Rinjani makin lengket dengan Ezra, atau mungkin dia terlalu bergantung dengan kekasihnya. Di setiap saat di mana ada Rinjani di situ ada Ezra. Warga perumahan pun kebanyakan telah mengetahui hubungan mereka, Ezra kemudian membatasi diri dengan menghindari bertamu larut malam di rumah Rinjani, mereka tidak mau jadi pengunjingan warga.
Rinjani tidak tahu jam berapa pagi itu yang jelas dia baru saja menyelesaikan sarapan, dan dia dikagetkan kedatangan kedua orang tuanya.
"Kesayanganku" seru Diana Damopoli saat Rinjani membukakan pintu
"Mama! Papa!, Kenapa datang gak ngomong dulu?" pekik Rinjani
"Kejutan anakku" kata wanita paruh baya itu memeluknya, sementara papa cuma tersenyum tipis dan kemudian bergabung memeluk Rinjani
"Sehat kan?" Tanya papa menatap dalam anak bungsunya
"Selalu sehat donk, papa ada dinas yah di Jogja?" Tanya Rinjani
"Kangen Rinjani doang" ucap papa sambil merangkulnya menuju sofa ruang tamu
Rinjani menatap heran kedua orang tuanya, dia sangat penasaran.
"Rinjani, sekarang sudah dewasa" Kata papa menatapnya
__ADS_1
"Sepertinya sih pa, ada apa sebenarnya?" Ucap Rinjani tidak sabaran
"Papa tahu kalau Rinjani sekarang dekat dengan Ezra kan?" Kata papa lagi
"Iya" singkat Rinjani dengan jantung mulai berdebar
"Kedatangan papa dan mama ke sini, karena Ezra mau datang melamar nak, hari minggu" kata mama to the point sambil menatap Rinjani yang kemudian menutup mukanya "sebenarnya Ezra sudah meminta Rinjani bulan lalu, saat berkunjung itu"
"Tapi ma..." Ucap Rinjani terhenti, air matanya duluan yang jatuh di pipi
"Kalian dekat bukan?"kata mamanya sambil menghampiri Rinjani "kamu mencintai Ezra?" Lanjutnya bertanya sambil menggenggam tangan anak gadisnya
Rinjani mengangguk pelan "tapi aku belum siap ma, menikah itu sesuatu yang besar, kami baru sebulan dekat" ucapnya lirih
"Jadi Rinjani harus terima ini? Walau aku punya rencana lain di hidupku sendiri Pa, Ma?"
"Rencana apa? Kuliah lagi?" Kata mamanya "setelah menikah juga bisa kuliah, nanti sudah ada Ezra jagain kamu nak, mama dan papa akan lebih tenang"
Rinjani tidak bisa berkata-kata lagi, karena apapun itu pasti akan dibalas mamanya, dan papa setiap saat menjadi perisai Diana Damopoli. Satu-satunya cara berbicara dengan Ezra, batinnya.
__ADS_1
...
Rinjani mencoba menyesap soda yang dipesannya di kafe sekaligus hotel di pantai selatan sore itu, Ezra tak melepaskan tatapan dari kekasihnya yang sedari tadi gelisah
"Mas" kata Rinjani membalas tatapan pria di depannya "apakah ini tidak terlalu terburu-buru?"
Ezra menggelengkan kepala, dan menyentuh pipi Rinjani
"Bagiku tidak ada yang terburu-buru, toh juga kita tetap mengarah kesana bukan? Memangnya Rinjani tidak mau menikah?" Kata Ezra melembut dengan tatapan sendu
"Bukan tidak mau, tapi belum siap. Kita baru sebulan loh mas"
"Kamu tahu sayang, pertama kali aku melihat fotomu dari mama, aku langsung bertanya siapa gadis cantik ini. Aku menyukaimu, dan itu alasanku berhenti kerja dan kembali ke Indo. Mengejarmu" Kata Ezra menatap Rinjani dalam
"Menurutmu aku akan membuang waktu untuk memilikimu utuh di saat sekarang kamu sudah jadi kekasihku?" Kata Ezra lagi
Rinjani termenung, kekasihnya orang berpendirian teguh. Sama halnya kedua orang tuanya
"Apakah mas Ezra bisa menerima aku apa adanya?" Ucap Rinjani kembali menatap lurus kekasihnya "walau aku bukan..."
__ADS_1
"Hei sayang, aku tidak memikirkan hal itu. Kamu sempurna, aku sangat mencintaimu Rinjani" kata Ezra sambil meraih tangan Rinjani "Tolong terimalah aku, jadilah pendampingku hingga akhir hayat kita"
Rinjani berkaca-kaca, dia bisa melihat kesungguhan Ezra. Satu-satunya jalan juga cuma melangkah bersama ke depan, demi orang tua dan pria di depannya, walau hatinya masih terpecah.